PEMBELAJARAN JARAK JAUH MENGGUNAKAN

E-LEARNING

PENULISAN PAPER

TOPIK-TOPIK LANJUTAN SISTEM INFORMASI

Disusun

O

L

E

H

HARIYANTO WIBOWO ( 1000872955 )

Kelas : 06 PNM

Universitas Bina Nusantara

Jakarta

2009

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA

Jurusan Ilmu Komputer

Paper IS Advanced Topic

Semester Genap Tahun 2008/2009

“PEMBELAJARAN JARAK JAUH MENGGUNAKAN

E-LEARNING“

Hariyanto Wibowo (1000872955)

Kelas : 06 PNM

Abstrak

Tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk membantu mahasiswa dalam membuat laporan ilmiah. Hal ini juga dimaksudkan untuk membantu mahasiswa dalam penulisan skripsi nantinya dan tentu saja juga mahasiswa diharapkan dapat memperkaya wawasannya dengan topic penulisan ini. Bidang Teknologi Informasi memberi prospek yang sangat bagus pada mahasiswa saat ini mengingat perkembangan teknologi informasi semakin pesat.

Metode yang digunakan dalam penulisan ini hanya menggunkan acuan dari berbagai sumber-sumber yang ada, baik itu lewat buku maupun dari internet dan artikel-artikel yang ditulis oleh para ahli yang bersangkutan, kemuduian dirumuskan dan dibahas sehingga didapatkan kesimpulan dan pendapat mengenai teknologi informasi.

Dengan adanya teknologi informasi dan didukung oleh perkembangannya yang semakin canggih maka mahasiswa diharapkan untuk mampu memanfaatkan keunggulan teknologi informasi untuk masa depannya nanti.

Kata Kunci :

Elektronik learning, e-learning

PRAKATA

Puji syukur Saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya Saya dapat menyelesaikan tugas paper Topik-topik Lanjutan Sistem Informasi ini dengan tepat waktu. Tugas ini ditulis untuk memenuhi persyaratan mata kuliah IS Advanced Topics.

Dalam menyelesaikan tugas ini, Saya telah menerima berbagai petunjuk dan dukungan baik secara moril maupun material dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu Saya dalam pengerjaan paper tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat Saya sebutkan satu-persatu.

Dalam penulisan ini, Saya telah berusaha semaksimal mungkin dalam menyempurnakan tugas ini. Seperti halnya pepatah mengatakan “Tak ada gading yang tak retak” , Saya pun menyadari sepenuhnya bahwa didalam penulisan ini masih terdapat beberapa kekurangan sehingga masih perlu adanya perbaikan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak agar kelak dapat membuat karya yang lebih baik.

Akhir kata, penulis berharap karya ini dapat bermanfaat bagi para pembaca agar mendapatkan sumbangan ide dan masukan yang berarti.

Jakarta, 14 April 2009

Penulis

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini semakin bertambah banyak jumlah perguruan tinggi di berbagai negara yang menyajikan materi perkuliahan secara elektronik, baik sebagai pelengkap maupun pengganti pembelajaran tatap muka. Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan kegiatan pembelajaran elektronik sebagai suplemen (tambahan) terhadap materi pelajaran yang disajikan secara reguler di kelas (Wildavsky, 2001; Lewis, 2002). Namun, beberapa perguruan tinggi lainnya menyelenggarakan e-learning sebagai alternatif bagi mahasiswa yang karena satu dan lain hal berhalangan mengikuti perkuliahan secara tatap muka. Dalam kaitan ini, e-Learning berfungsi sebagai option (pilihan) bagi mahasiswa.
Beberapa perguruan tinggi di luar negeri, misalnya Kanada, telah menjadikan pembelajaran elektronik sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang dapat dipilih oleh mahasiswa. Artinya, seluruh kegiatan perkuliahan diikuti oleh mahasiswa melalui pemanfaatan internet, mulai dari pendaftaran diri untuk mengikuti kuliah, konsultasi akademik, penyelesaian tugas-tugas dan penyerahannya, sampai dengan evaluasi kegiatan belajar mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa dapat memilih apakah akan mengikuti kegiatan kuliah secara tatap muka, atau secara online, atau perpaduan keduanya. Masing-masing pilihan ini dihargai sama secara akademik.
Kecenderungan untuk mengembangkan e-Learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran di berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Infrastruktur di bidang telekomunikasi yang menunjang penyelenggaraan e-Learning tidak lagi hanya menjadi monopoli kota-kota besar, tetapi secara bertahap sudah mulai dapat dinikmati oleh mereka yang berada di kota-kota di tingkat kabupaten. Artinya, masyarakat yang berada di kabupaten telah dapat “berinternet ria”.

Di samping peningkatan infrastruktur di bidang telekomunikasi, baik ketersediaaannya dan cakupannya maupun kualitasnya, lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan, terutama lembaga pendidikan tinggi, tampak terus melengkapi dirinya dengan berbagai fasilitas yang memungkinkan para “civitas academica”-nya memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi yang tersedia untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran dan pemberian layananan kepada mahasiswa. Berbagai fasilitas yang dimaksud antara lain adalah berupa pengadaan perangkat komputer (lab komputer), koneksi ke internet (internet connectivity), pengembangan website, pengembangan Local Area Network (LAN), dan pengembangan intranet.

Pemanfaatan teknologi telekomunikasi untuk kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi di Indonesia semakin kondusif dengan diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Departemen Pendidikan Nasional (SK Mendiknas) tahun 2001 yang mendorong perguruan tinggi konvensional untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh (dual mode). Dengan iklim yang kondusif ini, beberapa perguruan tinggi telah melakukan berbagai persiapan, seperti penugasan para dosen untuk (a) mengikuti pelatihan tentang pengembangan bahan belajar elektronik, (b) mengidentifikasi berbagai platform pembelajaran elektronik yang tersedia, dan (c) melakukan eksperimen tentang penggunaan platform pembelajaran elektronik tertentu untuk menyajikan materi perkuliahan.

Melalui kegiatan pembelajaran elektronik, siswa dapat berkomunikasi dengan gurunya kapan saja, yaitu melalui e-mail. Demikian juga sebaliknya. Sifat komunikasinya bisa tertutup antara satu siswa dengan guru atau bahkan bersama-sama melalui papan buletin. Komunikasinya juga masih bisa dipilih, mau secara serentak atau tidak (Soekartawi, 2002a, b). Melalui e-Learning, para siswa/mahasiswa dimungkinkan untuk tetap dapat belajar sekalipun tidak hadir secara fisik di dalam kelas. Kegiatan belajar menjadi sangat fleksibel karena dapat disesuaikan dengan ketersediaan waktu para siswa/mahasiswa. Kegiatan pembelajaran terjadi melalui interaksi siswa/ mahasiswa dengan sumber belajar yang tersedia dan dapat diakses dari internet. Sehubungan dengan beberapa hal yang telah diuraikan di atas, tulisan ini akan mencoba mengkaji tentang penyelenggaraan e-Learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan bagi lembaga-lembaga pendidikan atau pelatihan dalam merencanakan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran melalui media elektronik. Karena itu, di dalam artikel ini dibahas antara lain pengertian tentang pembelajaran elektronik (e-Learning), fungsi pembelajaran elektronik, manfaat pembelajaran elektronik, penyelenggaraan pembelajaran elektronik, dan simpulan serta saran

Pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator. Fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif. Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar-mandiri (self-directed learning). Ia juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi diri. Galileo menegaskan bahwa sebenarnya kita tidak dapat mengajarkan apapun, kita hanya dapat membantu peserta didik untuk menemukan dirinya dan mengaktualisasikan dirinya. Setiap pribadi manusia memiliki “self-hidden potential excellece” (mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri), tugas pendidikan yang sejati adalah membantu peserta didik untuk menemukan dan mengembangkannya seoptimal mungkin. Seorang pendidik yang efektif, tidak hanya efektif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas saja (transfer of knowledge), tetapi lebih-lebih dalam relasi pribadinya dan “modeling”nya (transfer of attitude and values), baik kepada peserta didik maupun kepada seluruh anggota komunitas sekolah. Pendidikan yang humanis menekankan bahwa pendidikan pertama-tama dan yang utama adalah bagaimana menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah. Relasi ini berkembang dengan pesat dan menghasilkan buah-buah pendidikan jika dilandasi oleh cintakasih antar mereka. Pribadi-pribadi hanya berkembang secara optimal dan relatif tanpa hambatan jika berada dalam suasana yang penuh cinta (unconditional love), hati yang penuh pengertian (understanding heart) serta relasi pribadi yang efektif (personal relationship). Dalam mendidik seseorang kita hendaknya mampu menerima diri sebagaimana adanya dan kemudian mengungkapkannya secara jujur (modeling). Mendidik tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, melatih keterampilan verbal kepada para peserta didik, namun merupakan bantuan agar peserta didik dapat menumbuhkembangkan dirinya secara optimal.
Mendidik yang efektif pada dasarnya merupakan kemampun seseorang menghadirkan diri sedemikian sehingga pendidik memiliki relasi bermakna pendidikan dengan para peserta didik sehingga mereka mampu menumbuhkembangkan dirinya menjadi pribadi dewasa dan matang. Pendidikan yang efektif adalah yang berpusat pada siswa atau pendidikan BAGI siswa. Dasar pendidikannya adalah apa yang menjadi “dunia”, minat, dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik. Pendidik membantu peserta didik untuk menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki (the learners-centered teaching). Ciri utama pendidikan yang berpusat pada siswa adalah bahwa pendidik menghormati, menghargai dan menerima siswa sebagaimana adanya. Komunikasi dan relasi yang efektif sangat diperlukan dalam model pendidikan yang berpusat pada siswa, sebab hanya dalam suasana relasi dan komunikasi yang efektif, peserta didik akan dapat mengeksplorasi dirinya, mengembangkan dirinya dan kemudian mem- “fungsi” -kan dirinya di dalam masyarakat secara optimal.

Tujuan sejati dari pendidikan seharusnya adalah pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didik secara utuh sehingga mereka menjadi pribadi dewasa yang matang dan mapan, mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik dalam kehidupan sehari-hari. Agar tujuan ini dapat tercapai maka diperlukan sistem pembelajaran dan pendidikan yang humanis serta mengembangkan cara berpikir aktif-positif dan keterampilan yang memadai (income generating skills). Pendidikan dan pembelajaran yang bersifat aktif-positif dan berdasarkan pada minat dan kebutuhan siswa sangat penting untuk memperoleh kemajuan baik dalam bidang intelektual, emosi/perasaan (EQ), afeksi maupun keterampilan yang berguna untuk hidup praktis. Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia muda (N. Driyarkara). Pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih bermanusiawi (semakin “penuh” sebagai manusia), berguna dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab dan bersifat proaktif dan kooperatif. Masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang handal dalam bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus memiliki watak atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas, berkeahlian, namun tetap humanis.

1.2 Ruang Lingkup

Dalam penulisan paper ini, kami membatasi ruang lingkup yang mencakup antara lain :

1. Pentingnya Electronic learning dalam sistim pembelajaran.

2. Masalah pendidikan yang cukup penting yang perlu di benahi dalam proses pembelajaran

3. Manfaat yang didapatkan dari penerapan Elektronic learning

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan paper ini adalah :

1. Agar mahasiswa mendapatkan pemahaman tentang pentingnya Electronic learning dalam proses pembelajaran

2. Agar mahasiswa mendapatkan gambaran pembelajaran tentang Electronic Learning

3. Agar mahasiswa dapat mengefisiensikan waktu dan biaya

1.4 Manfaat

Manfaat yang diperoleh dari perancangan sistem yang akan dibuat adalah :

1. Mahasiswa dapat menerapkan Electronic Learning dalam sistim pembelajaran

2. Mahasiswa dapat menerapkan dan memanfaatkan kemajuan teknologi seperti penggunaan electronic learning yang di sampaikan dengan suatu media electronic yang terhubung dengan internet

3. Mahasiswa mendapatkan keuntungan dalam sistim pembelajaran Electronic Learning

1.5 Metodologi Penulisan

Dalam usaha pengumpulan data yang diperlukan dalam penulisan ini, penulis menggunakan :

■ Kajian Teori

Penulis menggunakan beberapa sumber buku dan artikel dari internet untuk dijadikan acuan dan memasukan beberapa point dalam sumber buku yang penulis anggap penting untuk dibahas dalam penulisan ini.

BAB 2

LANDASAN TEORI

2. Definisi E-Learning

Menurut Henderson,(1987) e-learning adalah pembelajaran jarak jauh yang menggunakan teknologi komputer, atau biasanya Internet (The e-learning Question and Answer Book, 2003).

Henderson menambahkan juga bahwa e-learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran di kelas. William Horton menjelaskan bahwa e-learning merupakan pembelajaran berbasis web (yang bisa diakses dari Internet). Pembelajaran jarak jauh. E-learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa saja berada di Jakarta, sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di kota lain bahkan di negara lain. Namun, interaksi masih bisa dijalankan secara langsung ataupun dengan jeda waktu beberapa saat. Jadi, pembelajar bisa belajar dari komputer di kantor ataupun di rumah yang terkoneksi dengan Internet, sedangkan materi belajar dikelola oleh sebuah perusahaan di Amerika Serikat, di Jepang ataupun di Inggris.

Dengan cara ini, pembelajar bisa mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat ia mengakses ilmu yang dipelajari. Jika, pembelajaran ditunjang oleh perusahaan, maka si pembelajar bisa mengakses modul yang dipelajarinya dengan mengkoordinasikan waktu ia belajar dan waktu ia bekerja. Misalnya, jika pada pagi hari sampai siang hari, ia dituntut untuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor, maka ia bisa menyisihkan waktu di sore hari menjelang pulang untuk belajar. Tugas-tugas yang sehubungan dengan e-learning yang ditekuni pun bisa disesuaikan waktu pengerjaannya dengan kesibukan pembelajar.

Menurut Kusumastuti(2003), deputi bidang SDM Kementerian Kominfo, e-learning  dapat mengatasi kesenjangan informasi antara  desa  dan kota. “E-learning bisa memperluas kesempatan pendidikan di  pedesaan  dan wilayah Indonesia bagian timur,” katanya.  Selain  itu, bisa  dilakukan pertukaran informasi pengajar  antarsekolah  atau self-learning   yang  dioperasionalisasikan  melalui   pendidikan berbasis web.  Lebih lanjut,  Kusumastuti  berharap,  e-learning dapat  meningkatkan efisiensi, terutama apabila dikaitkan  dengan waktu dan biaya.

Menurut Soekartawi, Haryono dan Librero, (2002) e-Learning memang merupakan suatu teknologi pembelajaran yang yang relatif baru di Indonesia. Untuk menyederhanakan istilah, maka electronic learning disingkat menjadi e-learning. Kata ini terdiri dari dua bagian, yaitu ‘e’ yang merupakan singkatan dari ‘electronica’ dan ‘learning’ yang berarti ‘pembelajaran’. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika. Jadi dalam pelaksanaannya e-learning menggunakan jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya.

Menurut Purbo (2001) melukiskan bahwa internet juga telah mengubah metode komunikasi massa dan penyebaran data atau informasi secara fleksibel dan mengintegrasikan seluruh bentuk media massa konvensional seperti media cetak dan audio visual. Internet memiliki banyak fasilitas yang telah digunakan dalam berbagai bidang, seperti militer, media massa, bisnis, dan juga untuk pendidikan. Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet, Internet Relay Chat, Newsgroup, Mailing List (Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW). Di antara banyak fasilitas tersebut menurut Onno W. Purbo (1997), “ada lima aplikasi standar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu e-mail, Mailing List (milis), News group, File Transfer Protocol (FTC), dan World Wide Web (WWW)”.

Menurut Suparman (1993:166) “metode instruksional berfungsi sebagai cara dalam menyajikan (menguraikan, memberikan contoh, dan memberi latihan) isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu”. Metode dan teknik yang dipilih oleh guru/dosen ini dimaksudkan agar dapat meberikan, kemudahan, fasilitas, dan atau bantuan lain kepada siswa/mahasiswa dalam mencapai tujuan-tujuan instruksional.

Menurut Moore (1986), pertemuan antara pengajar dan yang diajar, atau “a meeting of minds” masih terjadi walaupun tidak terjadi pertemuan secara fisik. Menurut Garry and Kingsley (1970), belajar tidak dapat terjadi tanpa adanya peserta didik (pembelajar) atau tugas belajar, namun dapat terjadi tanpa adanya guru. Tugas belajar dapat diartikan materi yang dipelajari oleh pembelajar.

Menurut Daniel (Padmo dan Pribadi, dalam Belawati, 1999), media sebagai alat interaksi dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu media cetak, media massa/siar/tayang, media personal, dan media telekomunikasi.

Menurut Garrison (Padmo dan Pribadi, dalam Belawati, 1999), media cetak digolongkan sebagai teknologi generasi pertama dalam sistem pendidikan jarak jauh. Pendidikan jarak jauh pada awalnya justru berkembang dari pendidikan koresponden yang diperuntukkan bagi pendidikan orang dewasa (Pannen, dalam Belawati, 1999).

Menurut Putman (1994) perusahaan-perusahaan media nasional di London sedang menciptakan program-program pendidikan yang melampaui sekolah-sekolah yang ada saat ini. Oleh karenanya seorang eksekutif senior telah memprediksi bahwa akhir abad 20 para pendidik akan dibayar lebih besar dari bintang-bintang film. Oleh karenanya masyarakat yang akan ikut dalam kegiatan ini harus terlebih dahulu melakukan perubahan-perubahan termasuk visi yang jelas bagi pembelajaran dimasa depan.

Jones (1999). The five levels of web use in education:
Factors to consider in planning online courses. Educational Technology, 39(6), 28-32.
1. Administrative
Penyediaan informasi (misalnya penilaian, silabus, dll).

2. Supplemental
Penjelasan tentang tugas-tugas, kalender, dan petunjuk-petunjuk pembelajaran. Komunikasi dosen dengan mahasiswa dapat langsung dilakukan..

3. Essential
Secara tidak langsung mahasiswa jika ingin sukses harus mengakses web matakuliah online. Mahasiswa tidak hanya mengambil/mengakses materi tetapi mengirimkan tugas-tugas serta berpartisipasi dalam diskusi.

4. Communal
membentuk kumunitas e-learning

5. Immersive
ini merupakan kelas online dimana instruktur dengan siswa tidak pernah bertatap muka.

BAB 3

ELECTRONIC LEARNING

3.1 Alasan Perlunya Belajar Elektronic Learning

Semakin banyak perusahaan dan individu yang memanfaatkan e-learning sebagai sarana untuk pelatihan dan pendidikan karena mereka melihat berbagai manfaat yang ditawarkan oleh pembelajaran berbasis web ini. Dari berbagai komentar yang dilontarkan, ada tiga persamaan dalam hal manfaat yang bisa dinikmati dari e-learning.
Fleksibilitas. Jika pembelajaran konvensional di kelas mengharuskan siswa untuk hadir di kelas pada jam-jam tertentu (seringkali jam ini bentrok dengan kegiatan rutin siswa), maka e-learning memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran. Siswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat pelajaran disampaikan, e-learning bisa diakses dari mana saja yang memiliki akses ke Internet. Bahkan, dengan berkembangnya mobile technology (dengan palmtop, bahkan telepon selular jenis tertentu), semakin mudah mengakses e-learning. Berbagai tempat juga sudah menyediakan sambungan internet gratis (di bandara internasional dan cafe-cafe tertentu), dengan demikian dalam perjalanan pun atau pada waktu istirahat makan siang sambil menunggu hidangan disajikan, Anda bisa memanfaatkan waktu untuk mengakses e-learning.

“Independent Learning”. E-learning memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk memegang kendali atas kesuksesan belajar masing-masing, artinya pembelajar diberi kebebasan untuk menentukan kapan akan mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam satu modul yang ingin dipelajarinya terlebih dulu. Ia bisa mulai dari topik-topik ataupun halaman yang menarik minatnya terlebih dulu, ataupun bisa melewati saja bagian yang ia anggap sudah ia kuasai. Jika ia mengalami kesulitan untuk memahami suatu bagian, ia bisa mengulang-ulang lagi sampai ia merasa mampu memahami. Seandainya, setelah diulang masih ada hal yang belum ia pahami, pembelajar bisa menghubungi instruktur, nara sumber melalui email atau ikut dialog interaktif pada waktu-waktu tertentu. Jika ia tidak sempat mengikuti dialog interaktif, ia bisa membaca hasil diskusi di message board yang tersedia di LMS (di Website pengelola). Banyak orang yang merasa cara belajar independen seperti ini lebih efektif daripada cara belajar lainnya yang memaksakannya untuk belajar dengan urutan yang telah ditetapkan.
Biaya. Banyak biaya yang bisa dihemat dari cara pembelajaran dengan e-learning. Biaya di sini tidak hanya dari segi finansial tetapi juga dari segi non-finansial. Secara finansial, biaya yang bisa dihemat, antara lain biaya transportasi ke tempat belajar dan akomodasi selama belajar (terutama jika tempat belajar berada di kota lain dan negara lain), biaya administrasi pengelolaan (misalnya: biaya gaji dan tunjangan selama pelatihan, biaya instruktur dan tenaga administrasi pengelola pelatihan, makanan selama pelatihan), penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar (misalnya: penyewaan ataupun penyediaan kelas, kursi, papan tulis, LCD player, OHP). Dalam hal biaya finansial William Horton (Designing Web-Based Training, 2000) mengutip komentar beberapa perusahaan yang telah menikmati manfaat pengurangan biaya, antara lain: Buckman Laboratories berhasil mengurangi biaya pelatihan karyawan dari USD 2.4 juta menjadi USD 400,000; Aetna berhasil menghemat USD 3 juta untuk melatih 3000 karyawan; Hewlett-Packard bisa memotong biaya pelatihan bagi 700 insinyur mereka untuk produk-produk chip yang selalu diperbaharui, dari USD 7 juta menjadi USD 1.5 juta; Cisco mengurangi biaya pelatihan per karyawan dari USD 1200 – 1800 menjadi hanya USD 120 per orang. Biaya non-finansial yang bisa dihemat juga banyak, antara lain: produktivitas bisa dipertahankan bahkan diperbaiki karena pembelajar tidak harus meninggalkan pekerjaan yang sedang pada posisi sibuk untuk mengikuti pelatihan (jadwal pelatihan bisa diatur dan disebar dalam satu minggu ataupun satu bulan), daya saing juga bisa ditingkatkan karena karyawan bisa senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pekerjaannya, sementara bisa tetap melakukan pekerjaan rutinnya.

E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara peserta didik dengan dosen/guru/instruktur maupun antara sesama peserta didik. Peserta didik dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri peserta didik. Guru atau instruktur dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para peserta didik. Sesuai dengan kebutuhan, guru/instruktur dapat pula memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengakses bahan belajar tertentu maupun soal-soal ujian yang hanya dapat diakses oleh peserta didik sekali saja dan dalam rentangan waktu tertentu pula (Website Kudos, 2002).

Secara lebih rinci, manfaat e-Learning dapat dilihat dari 2 sudut, yaitu dari sudut peserta didik dan guru:

(1) Dari Sudut Peserta Didik

Dengan kegiatan e-Learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya, peserta didik dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Peserta didik juga dapat berkomunikasi dengan guru/dosen setiap saat. Dengan kondisi yang demikian ini, peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.

Manakala fasilitas infrastruktur tidak hanya tersedia di daerah perkotaan tetapi telah menjangkau daerah kecamatan dan pedesaan, maka kegiatan e-Learning akan memberikan manfaat (Brown, 2000) kepada peserta didik yang (1) belajar di sekolah-sekolah kecil di daerah-daerah miskin untuk mengikuti mata pelajaran tertentu yang tidak dapat diberikan oleh sekolahnya, (2) mengikuti program pendidikan keluarga di rumah (home schoolers) untuk mempelajarii materi pembelajaran yang tidak dapat diajarkan oleh para orangtuanya, seperti bahasa asing dan keterampilan di bidang komputer, (3) merasa phobia dengan sekolah, atau peserta didik yang dirawat di rumah sakit maupun di rumah, yang putus sekolah tetapi berminat melanjutkan pendidikannya, yang dikeluarkan oleh sekolah, maupun peserta didik yang berada di berbagai daerah atau bahkan yang berada di luar negeri, dan (4) tidak tertampung di sekolah konvensional untuk mendapatkan pendidikan.

(2) Dari Sudut Guru/Dosen

Dengan adanya kegiatan e-Learning (Soekartawi, 2002a,b), beberapa manfaat yang diperoleh guru/dosen/instruktur antara lain adalah bahwa guru/dosen/ instruktur dapat: (1) lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung-jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi, (2) mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak, (3) mengontrol kegiatan belajar peserta didik. Bahkan guru/dosen/instruktur juga dapat mengetahui kapan peserta didiknya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang, (4) mengecek apakah peserta didik telah mengerjakan soal-soal latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan (5) memeriksa jawaban peserta didik dan memberitahukan hasilnya kepada peserta didik.

Sedangkan manfaat pembelajaran elektronik menurut A. W. Bates (Bates, 1995) dan K. Wulf (Wulf, 1996) terdiri atas 4 hal, yaitu:

(1) Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity).

Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi. Mengapa?

Karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat tanggap dan berani. Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada pembelajaran elektronik. Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas (Loftus, 2001).

(2) Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).

Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja (Dowling, 2002). Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada guru/dosen/instruktur begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru/instruktur.

Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional. Dalam kaitan ini, Universitas Terbuka Inggris telah memanfaatkan internet sebagai metode/media penyajian materi. Sedangkan di Universitas Terbuka Indonesia (UT), penggunaan internet untuk kegiatan pembelajaran telah dikembangkan. Pada tahap awal, penggunaan internet di UT masih terbatas untuk kegiatan tutorial saja atau yang disebut sebagai “tutorial elektronik” (Anggoro, 2001).

(3) Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).

Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.

(4) Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).

Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun atas hasil penilaian guru/dosen/ instruktur selaku penanggung-jawab atau pembina materi pembelajaran itu sendiri.

Pengetahuan dan keterampilan untuk pengembangan bahan belajar elektronik ini perlu dikuasai terlebih dahulu oleh guru/dosen/instruktur yang akan mengembangkan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan pengelolaan kegiatan pembelajarannya sendiri. Harus ada komitmen dari guru/dosen/ instruktur yang akan memantau perkembangan kegiatan belajar peserta didiknya dan sekaligus secara teratur memotivasi peserta didiknya



3.2 Bagaimana memanfaatkan E-learning secara optimal

Seperti halnya pembelajaran dengan cara lain, e-learning bisa memberikan manfaat yang optimal jika beberapa kondisi berikut terpenuhi.
Tujuan. Sebelum memutuskan untuk mengikuti e-learning, Anda perlu menentukan tujuan belajar Anda, sehingga Anda bisa memilih topik, modul, lama belajar, biaya, dan sarana belajar secara elektronik yang sesuai. Tujuan ini hendaknya dikaitkan dengan tujuan pribadi ataupun tujuan bisnis Anda secara langsung yang spesifik dan terukur. Misalnya: Anda baru saja diangkat sebagai project manager. Dalam tiga bulan pertama Anda ingin mendapat keterampilan di bidang ini. Karena pekerjaan baru, dengan gaji dan pekerjaan yang juga meningkat, Anda merasa tidak mungkin untuk secara fisik meninggalkan pekerjaan Anda. Untuk itu Anda bisa mengikuti e-learning berdurasi tiga bulan dengan topik project management yang ditawarkan lembaga atau universitas tertentu (umumnya universitas
di Amerika, Australia dan Eropa menawarkan program e-learning). Sambil mengikuti pelajaran, Anda bisa sekaligus menerapkan ilmu dan keterampilan yang Anda dapatkan. Anda juga bisa memanfaatkan forum diskusi secara elektronik untuk membahas permasalahan yang langsung Anda hadapi di lapangan.
Pembelajar. Cara belajar dengan e-learning memberikan peluang untuk menjadi pembelajar independen. Jadi, untuk mendapatkan manfaat optimal dari e-learning, Anda juga harus senang belajar secara independen, memiliki sikap yang positif terhadap pembelajaran dan perluasan wawasan (memiliki motivasi tinggi untuk menguasai topik yang diambil, menganggap belajar bukan sebagai beban tetapi sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas, mampu menerapkan disiplin dalam belajar), memiliki sarana belajar yang menunjang (misalnya: komputer, akses internet, fax, printer), keterampilan dan strategi untuk belajar secara independen di dunia maya (keterampilan dasar menggunakan komputer dan internet, strategi untuk mengelola waktu).

Sama seperti cara belajar lain, cara belajar dengan e-learning akan lebih mudah jika mendapat dukungan dari orang-orang terkait dengan pembelajar (misalnya: atasan, perusahaan tempat bekerja, rekan sekerja, sahabat dan keluarga). Dengan dukungan dari berbagai pihak (baik berupa dana, dukungan moril, maupun dukungan fasilitas), semangat belajar yang terkadang turun bisa tetap dipertahankan, bahkan dipacu lebih tinggi, masalah yang dihadapi dalam belajar bisa dituntaskan, sehingga proses belajar dan penyelesaian program bisa lebih mudah dijalankan.
Media lain. E-learning hanyalah sebuah “alat” yang dapat digunakan untuk mencapai suatu tujuan. “Alat” ini jika digunakan bersama “alat-alat” akan mempercepat dan mempermudah pencapaian tujuan. Dengan demikian, e-learning tidak harus digunakan secara murni, tetapi bisa diharmonisasikan dengan penggunaan media lain untuk saling menunjang meraih tujuan si pembelajar. Jadi, jika memang ada kesempatan untuk menggunakan media lain untuk belajar (pembelajaran konvensional di kelas, pembelajaran melalui mailing list, video, radio, fax, atau korespondensi), mengapa tidak saling dikoordinasikan?
Pilih yang Anda perlu. Jika Anda hanya perlu bepergian dengan mobil, Anda tidak perlu menggunakan pesawat terbang. Jika Anda hanya memerlukan informasi dan pengetahuan umum untuk memperluas wawasan, Anda tidak perlu memerlukan sarana untuk memperluas wawasan di bidang tertentu, Anda tak perlu mengeluarkan biaya untuk mengikuti e-learning lengkap, Anda bisa saja berpartisipasi dalam dialog elektronik ataupun menjadi anggota mailing list yang memberikan informasi yang Anda perlukan. Misalnya, untuk mendapatkan tips cerdas untuk mengembangkan diri, Anda bisa mencoba berpartisipasi dalam mailing list smart_wisdom@yahoogroups.com, untuk informasi mengenai manajemen, mengapa tidak mengakses manajemen@yahoogroups.com, dan untuk mendapat contoh dialog dan ungkapan bahasa Inggris dalam bisnis, cobalah edpro@yahoogroups.com. Anda juga bisa membangun mailing list atau berkirim email dengan teman seprofesi untuk saling bertukar informasi. Cara lain yang bisa Anda coba adalah mencari informasi di internet di website tertentu (website majalah internasional, ataupun perusahan konsultan internasional). Misalnya untuk mendapat informasi mengenai strategi manajemen dan bisnis, Anda bisa mencoba mengunjungi dan menjadi anggota mckinseyquarterly. com, sedangkan untuk mendapat informasi bisnis, kunjungi website majalah bisnis nasional maupun internasional, dan untuk melihat informasi lainnya mengenai cara manajemen diri kunjungi website
surat kabar Anda ini (http:www. sinarharapan.co.id). Untuk melihat contoh e-learning, Anda bisa mengunjungi berbagai websites, antara lain: www.rootleraning.com, dan www.engines4ed.org.

3.3 E-Learning di pemerintahan

Bisakah  e-learning diterapkan di pemerintahan, dipakai  untuk pendidikan dan pelatihan pegawai, atau sebagai sarana sosialisasi produk  hukum? “Sangat bisa, sepanjang  serius  melaksanakannya,” kata Riyani. Masalahnya, lanjut Riyani, e-learning tak dijalankan secara  serius.  Selain itu, jangan  sekali-kali  menjadikan   e-learning sebagai produk TI. Artinya, e-learning jangan  dipakai sebagai  alat untuk mencerdaskan pegawai. “Jika ingin  diterapkan di pemerintahan, e-learning harus dijadikan alat untuk menyukseskan program pemerintah,” kata Riyani, serius.

Kusumastuti pun sependapat bahwa e-learning bisa diterapkan di pemerintahan.  “E-learning sangat diperlukan  untuk  meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan aparatur pemerintah,”  katanya. Hanya, lanjut dia, implementasi e-learning memerlukan sikap  yang benar,  perencanaan  yang hati-hati, prosedur yang  efektif,  dan lingkungan yang mendukung. “Kalau itu dipenuhi, apa yang  menjadi tujuan akan berhasil diraih,” tambahnya. Sementara  itu,  Budi Rahardjo, pakar  telematika,  meski  tak menampik  pentingnya e-learning, ia melihat banyak  kendala  jika akan  diterapkan  di  Indonesia.  Pertama,  soal   infrastruktur. “Infrastrukturnya masih belum memadai dan relatif mahal di banyak tempat,”  katanya. Selain itu, Budi melihat masalah  materi  juga menjadi  kendala. “Materi e-learning  yang umum saja masih  belum tersedia secara memadai, apalagi untuk pemerintah,” tambahnya.
Budi  mengakui,  e-learning  sebetulnya  berpotensi   membantu meningkatkan  kualitas  SDM Indonesia yang tersebar  di  berbagai pulau. Kondisi  geografis Indonesia menyulitkan untuk  mendatangkan pengajar dari perguruan tinggi di Jawa. Selain itu,  biayanya juga mahal. Menurut Budi, e-learningseharusnya dapat  mengurangi perbedaan  ini. “Jadi, meski belum waktunya, persiapan  untuk  e-learning  harus  dimulai  sekarang. Jika  tidak,  tak  akan  siap terus,” tambah dosen ITB ini.

3.4 Kesiapan Vendor

Manfaat  e-learning sebenarnya sudah disadari  berbagai  pihak sejak lama. Hanya karena tak ada keseriusan, seperti yang  dilakukan Bank Mandiri, maka lebih banyak cerita kegagalan yang  beredar. Atau, boleh dibilang, perkembangan e-learning agak  terseok-seok alias lamban. Selain  itu, yang selalu dituding sebagai  penyebab  kegagalan adalah kesiapan infrastruktur jaringan TI. Soal budaya baca  yang masih  rendah juga menjadi penyebab belum suksesnya penerapan  e-learning. Lalu kesiapan modul menjadi kendala tersendiri.Namun, jika melihat sukses Bank Mandiri menerapkan e-learning, kendala-kendala  tersebut sebetulnya bukan tak ada jalan  keluarnya.  “Harus  bisa,” tegas Riyani. Ia  memaparkan,  “Ketika  saya menjalankan  e-learning,  ada bank swasta  terkemuka  yang  sudah menjalankan, tetapi gagal,” ceritanya. Jika merujuk kasus  tersebut, ia tentu  tak  akan  meneruskan proyeknya. “Bank swasta saja tidak  bisa, apalagi bank pemerintah yang notabene  dicap   lebih jelek dari bank swasta,” kenang Riyani.

Soal  kesiapan infrastruktur, Riyani tak sependapat  jika  hal itu  dianggap  sebagai  penghambat.  “Pengadaan  e-learning Bank Mandiri  melalui sewa, sehingga tak perlu penambahan  server  dan infrastruktur  lainnya  karena sudah disediakan  oleh  provider,” katanya.  Riyani menjelaskan, penambahan perangkat  komputer  pun tak  banyak,  hanya satu untuk keperluan  e-learning  di  kantor-kantor  cabang.  Selain itu, sistem untuk Bank  Mandiri  bersifat  mobile.  Dengan sistem seperti ini, pembelajaran  bisa  dilakukan secara offline dan online, sehingga beban terhadap  jaringan yang tersedia untuk transaksi perbankan dapat diminimalkan.
Taufik Hasan, kepala RisTI Telkom Bandung, mengungkapkan bahwa  Telkom sebagai penyedia layanan dan jaringan telekomunikasi telah menyiapkan infrastruktur untuk e-learning. Selain jaringan  telepon  yang menyisir hampir di seluruh Nusantara, RisTI juga  sudah menyiapkan teknologi audioconferencing, videobroadcasting, videoconferencing,  dan internet. Selain itu, mereka juga siap  dengan aplikasi  e-learning-nya.  “Semuanya siap dimanfaatkan  untuk  e-learning,” kata Taufik.

RisTI  sendiri sudah terlibat dengan bisnis  e-learning  sejak tahun  2000.  Klien mereka, di antaranya, Departemen  Agama,  Departemen Pendidikan Nasional, dan beberapa perguruan tinggi  yang tergabung   dalam  Badan Kerja Sama  Perguruan  Tinggi  Indonesia Timur.  Taufik  setuju  e-learning  diterapkan  di  pemerintahan. “Tugas pemerintah itu mencerdaskan rakyat. Jadi, pemerintah harus memfasilitasi  proses  e-learning agar  rakyat  bisa  mendapatkan informasi  dan menambah pengetahuan,” jelas Taufik. Ia  menambahkan, jika SDM pemerintah berkualitas,  layanan publiknya pun bisa dilakukan dengan lebih cerdas.

Vendor  yang juga mulai menaruh perhatian terhadap  bisnis  e-learning  adalah Intel. Menurut Arya Sanjaya,  country  solutions manager Intel Indonesia, perusahaannya tengah melakukan  pembicaraan  berkaitan  dengan  peningkatan  mutu  pegawai   pemerintah. “Pemerintah  merupakan sektor yang  paling tepat untuk  melakukan e-learning,  terutama  karena penyebaran  pegawainya  di  seluruh wilayah  Indonesia,”  kata  Arya, yang  optimistis  akan  prospek bisnis e-learning.

3.5 Karakteristik E-Learning

Mari kita lihat tentang karakteristik e-learning, dalam hal ini kami fokuskan pada online learning.

Characteristics

Explanation

Non-linearity

Pemakai (user) bebas untuk mengakses (browse) tentang objek pembelajaran dan terdapat fasilitas untuk memberikan persyaratan tergantung pada pengetahuan pemakai.

Self-managing

Pemakai dapat mengelola sendiri proses pembelajaran dengan mengikuti struktur yang telah dibuat.

Feedback-Interactivity

Pembelajaran dapat dilakukan dengan interaktif dan disediakan feedback pada proses pembelajaran.

Multimedia-Learners style

E-learning menyediakan fasilitas multimedia. Keuntungan dengan menggunakan multimedia,siswa dapat memahami lebih jelas dan nyata sesuai dengan tipe siswanya.

Just in time

E-learning menyediakan kapan saja yang diperlukan pemakai, untuk menyelesaikan permasalahan atau hanya ingin meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.

Dynamic Updating

Mempunyai kemampuan memperbaharui isi materi secara otomatis pada perubahan yang terbaru.

Easy Accessibility/Access

Hanya menggunakan browser (dan mungkin beberapa yang terpasang).

Collaborative learning

Dengan tool pembelajaran memungkinkan bias saling interaksi, maksudnya bisa berkomunikasi secara langsung pada waktu yang bersamaan (synchronous) atau berkomunikasi pada waktu yang berbeda (asynchronous). Pemakai bias berkomunikasi dengan pembuat materi, siswa yang lain, Pengunjung.

Tabel 1 Characteristic E-Learning

Tidak bertanggungjawab tanpa adanya keahlian
Kita tidak mengharapkan pada pembelajaran yang bertanggungjawab tanpa adanya keahlian. Apabila kita ingin supaya siswa itu bertanggungjawab pada proses belajarnya, maka anda harus membantunya dengan keahlian dan prilakunya dengan cara dua hal :

    1. Fasilitas pembelajaran yang menjamin pengalaman pembelajaran yang terbaik (metode yang terbaik, alat bantu yang terbaik,pelatihan yang terbaik dll)
    2. belajar bagaimana siswa belajar sehingga dia mengelola proses belajarnya(meta-learning)

3.5.1. Bagaimana kita dapat membantu siswa secara optimis dalam proses pembelajaran

3.5.2. 9 tip tentang bagaimana cara belajar

  1. Berpikir sebelum mulai yang anda ingin jelaskan dan tulis tujuannya.
  2. Rencanakan proses yang akan anda latih (mengenai watu, tujuan dll) dan tuliskan pada rencana pembelajaran.
  3. Buat catatan kecil pada kertas (atau digital) selama proses belajar mengajar.
  4. Praktek sebanyak mungkin.
  5. Bawa dokumen anda dan masalah-masalah yang nyata di kelas.
  6. Pikirkan tentang bagaimana anda menggunakan tentang belajar di alam nyata. Bagaimana anda menggunakannya?
  7. Bicarakan masalah atau materi dengan siswa lain dan yang ahli, bekerja bersama jika memungkinkan.
  8. Berhenti 5 menit dalam setiap jam dan berpikir kembali apa yang dikerjakan dan menuliskannya.
  9. Gunakan komunikasi dan pembelajaran yang berbeda jika memungkinkan seperti WBT, diskusi, e-seminar, workshop dan chat.

3.5.3. Pembelajaran dg Instruktur vs. e-learning

Disini akan dibandingkan perbedaan antara pembelajaran yang dipimpin oleh instruktur dengan pembelajaran melalui elektronik

Pembelajaran dg instruktur 1 instruktur, 8 siswa

E-learning (self study)

a. 1 ruang kelas

1 instruktur, 100 siswa

b. kelas mulai pada saat X dan berakhir pada saat Y

b. tidak ada kelas

c. instruktur bersama dg grup

c. kelas mulai ketika siswa ingin belajar (atau yang telah ditentukan)

d. instruktur berbicara pada waktu menjelaskan

d. siswa belajar sendiri

e. siswa pasif pada suatu waktu

e. instruktur hanya memberikan umpan balik dan tip

f. instruktur menentukan programnya (dg siswa)

f. siswa aktif

g. instruktur menentukan tempatnya

g. siswa menentukan program (mungkin dg instruktur)

h. instruktur bertanggung jawab pada proses pembelajaran.

h. siswa menentukan tempatnya

i. Instruktur adalah bintangnya

i. siswa mempunyai tanggungjawab pada proses pembelajaran

j. siswa adalah bintangnya

Tabel 2. Pembelajaran dg Instruktur vs. e-learning


3.5.4.
Keuntungan dari pengajaran berbasis web

Adapun beberapa keuntungan dari pengajaran berbasis web antara lain :
- Kelas , Besar atau kecil

WebCT dapat digunakan untuk pengajaran kelas kecil maupun besar.

- Kapan saja- Dimana saja
WebCT menghilangkan batasan waktu dan tempat dengan karakteristik kelas tradisional dengan menggunakan mode komunikasi asynchronous seperti e-mail, diskusi online, siswa dapat mengakses 24 jam setiap hari.

- Membangun Komuniti
Pembelajaran adalah proses sosial. Siswa dapat belajar saling tukar informasi satu dengan yang lain seperti dengan instruktur.

- Peningkatan Pebelajaran siswa
“Belajar bukan latihan olah raga” (Chickering and Gamson, 1987). WebCT menyediakan alat Bantu pengajaran untuk membantu instruktur membuat pembelajaran online dan persetujuan siswa dengan materi.

3.6 Strategi Pemanfaatan Komputer dalam Pembelajaran

Pemanfaatan komputer dapat mempermudah siswa dalam melakukan penyelesaian berbagai masalah yang dihadapi siswa di sekolah.  Namun tanpa penguasaan operasional komputer dengan baik, siswa tidak dapat menggunakannya dengan sempurna.  Pengenalan komputer saat ini sejak Taman Kanak-kanak pun telah mulai diberikan.

Menurut penelitian eksperimental yang dilakukan Goodwin, Nansel, dan Helm (1986) yang dilakukan untuk menyelidiki efek-efek penggunaan microcomputer pada anak TK terhadap konsep membaca dan sikap mereka ke arah microcomputer, menerapkan tiga kondisi perlakuan yang diberikan pada anak TK tersebut antara lain:  (a) perintah-perintah microcomputer yang dibantu orang dewasa, (b) penggunaan microcomputer yang tidak dibantu orang dewasa, dan (c) tidak menggunakan microcomputer (kelompok kontrol).   Dan hasilnya ternyata memberikan perbedaan hasil yang signifikan antara prestasi anak TK yang diberi microcomputer dengan yang tanpa diberi microcomputer.

Dari kajian ini tampak bahwa pada anak-anak TK komputer sudah perlu diperkenalkan, agar seteleh dewasa hal ini sudah cukup familiar baginya.

Selanjutnya Chin, (1984) melakukan suatu estimasi terhadap sekitar 25% lisensi TK yang memiliki microcomputer, dan semua anak TK tersebut diprediksi untuk akses mereka yang dilakukan pada tahun 1989.  Pada hakikatnya, proses belajar mengajar merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa.  Supaya proses komunikasi dapat berlangsung secara efektif dan efisien maka dibutuhkan sarana yang dapat menunjang proses komunikasi, yang disebut media.  Terdapat beberapa macam sarana yang dapat digunakan, salah satu di antaranya adalah komputer.  Menurut Yohannes (1985) bahwa pemakaian komputer dalam bidang pendidikan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu sebagai Computer Managed Instruction (CMI), dan Computer Assisted Instruction (CAI).   CMI adalah penggunaan komputer untuk membantu mengelola lingkungan belajar, misalnya mengevaluasi dan mengadministrasikan hasil belajar siswa, memberikan laporan hasil belajar siswa dan sebagainya.  CAI adalah penggunaan komputer sebagai sarana pengajaran, yaitu sebagai alat bantu belajar bagi siswa untuk memahami materi pelajaran, mengerjakan latihan-latihan soal, menguji kemampuan siswa, dan sebagainya.

Tai dan Tsai (2001) meneliti perbedaan sikap mahasiswa terhadap komputer dan pengaruhnya pada kemampuan menggambar teknik.  Ditemukan bahwa kinerja menggambar teknik memiliki perbedaan yang nyata akibat sikap terhadap komputer setelah menghilangkan efek covariate yakni nilai Wilk’s L  sebesar 0,95 di mana p < 0,05.   Studi tentang percakapan siswa menunjukkan bahwa aturan komputer memainkan peranan dalam konteks pembicaraan dan cara yang terdapat dalam konteks itu dibayangi oleh penggunaan komputer (Kelly dan Crawford, 1996: 693).


3.7 Fungsi Dari Pembelajaran Elektronik

Setidaknya ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu sebagai suplemen yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi) (Siahaan, 2002).

(1) Suplemen (Tambahan)

Dikatakan berfungsi sebagai supplemen (tambahan), apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.

(2) Komplemen (Pelengkap)

dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas (Lewis, 2002). Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.

Dikatakan sebagai program remedial, apabila kepada peserta didik yang mengalami kesulitan memahami materi pelajaran yang disajikan guru secara tatap muka di kelas (slow learners) diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dirancang untuk mereka. Tujuannya agar peserta didik semakin lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan guru di kelas.

(3) Substitusi (Pengganti)

Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari mahasiswa. Ada 3 alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih peserta didik, yaitu: (1) sepenuhnya secara tatap muka (konvensional), (2) sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan (3) sepenuhnya melalui internet.

BAB 4

SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan

Pengertian e-Learning atau pembelajaran elektronik sebagai salah satu alternatif kegiatan pembelajaran dilaksanakan melalui pemanfaatan teknologi komputer dan internet. Seseorang yang tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional karena berbagai faktor penyebab, misalnya harus bekerja (time constraint), kondisi geografis (geographical constraints), jarak yang jauh (distance constraint), kondisi fisik yang tidak memungkinkan (physical constraints), daya tampung sekolah konvensional yang tidak memungkinkan (limited available seats), phobia terhadap sekolah, putus sekolah, atau karena memang dididik melalui pendidikan keluarga di rumah (home schoolers) dimungkinkan untuk dapat tetap belajar, yaitu melalui e-Learning.

Penyelenggaraan e-Learning sangat ditentukan antara lain oleh: (a) sikap positif peserta didik (motivasi yang tinggi untuk belajar mandiri), (b) sikap positif tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet, (c) ketersediaan fasilitas komputer dan akses ke internet, (d) adanya dukungan layanan belajar, dan (e) biaya akses ke internet yang terjangkau untuk kepentingan pembelajaran/pendidikan.

Perkembangan di berbagai negara memperlihatkan bahwa jumlah pengguna internet terus meningkat; demikian juga halnya dengan jumlah peserta didik yang mengikuti e- Learning dan institusi penyelenggara e-Learning. Fungsi e-Learning dapat sebagai pelengkap atau tambahan, dan pada kondisi tertentu bahkan dapat menjadi alternatif lain dari pembelajaran konvensional. Peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran melalui program e-Learning memiliki pengakuan yang sama dengan peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran secara konvensional.

Peserta didik maupun dosen/guru/instruktur dapat memperoleh manfaat dari penyelenggaraan e-Learning. Beberapa di antara manfaat e-Learning adalah fleksibilitas kegiatan pembelajaran, baik dalam arti interaksi peserta didik dengan materi/bahan pembelajaran, maupun interaksi peserta didik dengan dosen/guru/ instruktur, serta interaksi antara sesama peserta didik untuk mendiskusikan materi pembelajaran.

Lembaga pendidikan konvensional (universitas, sekolah, lembaga-lembaga pelatihan, atau kursus-kursus yang bersifat kejuruan dan lanjutan) secara ekstensif telah menyelenggarakan perluasan kesempatan belajar bagi ‘target audience’ mereka melalui pemanfaatan teknologi komputer dan internet (Collier, 2002). Seiring dengan hal ini, peserta didik usia sekolah yang mengikuti kegiatan pembelajaran elektronik juga terus meningkat jumlahnya (Gibbon, 2002).

4.1 Saran

Penelitian  dengan meta-analisis telah menunjukkan bahwa peranan pemanfaatan komputer dalam proses pembelajaran cukup berarti.  Guru/dosen di  kelas tidak hanya  merupakan orang yang mentransfer ilmu dan pengetahuan kepada siswa tetapi ia harus lebih bersifat  proaktif bertindak sebagai seorang pengelola yang dapat mengatur pengalaman pengalaman belajar siswa apakah yang diperlukan siswa untuk dapat mencapai tujuan keberhasilan siswa/mahasiswa dengan lancar.   Secara keseluruhan hal yang menyangkut pemanfaatan komputer yang diperlukan siswa sejalan dengan apa yang dikemukan oleh Worell & Stiwell dalam Soekamto (1989) yang perlu dikuasai oleh seorang guru antara lain mencakup pemahaman tentang karakteristik siswa seperti jenjang pendidikannya, alokasi waktu dalam pengajaran, pemilihan media, pengelompokan siswa, bidang studi/disiplin ilmu yang diajarkan dan sebagainya.  Menurut Russeeffendi (1989) ada tiga alasan mengapa komputer diterapkan di sekolah antara lain:

(1)   Komputer makin lama makin banyak beredar di masyarakat dengan harga yang dapat dijangkau.

(2)   Komputer banyak digunakan untuk  pengajaran matematika, baik sebagai alat hitung maupun sebagai alat pengajaran.

(3)   Karena sikap siswa terhadap pelajaran akan positip, dapat memberi umpan balik, dan dapat meningkatkan keberhasilan siswa

Beberapa rekomendasi yang  dapat dikemukakan sehubangan dengan hasil yang diperoleh di dalam meta-analisis ini adalah:

(1)   Untuk ke depan diperlukan adanya suatu penelitian replikasi dan verifikasi yang menyangkut pemanfaatan komputer untuk menguji kembali hasil yang telah diperoleh.   Diperlukan meta-anlalisis yang mengikutsertakan berbagai hasil penelitian eksperimental yang melibatkan semua jenjang pendidikan dengan jumlah hasil peneltian yang lebih banyak dan menampilkan sampel yang representatif.   Semakin banyaknya jumlah sampel yang dilibatkan maka generalisasi hasil penelitian akan dapat 1ebih sempurna.

(2)   Diperlukan adanya suatu meta-analisis tentang penelitian-penelitian pemanfaatan komputer yang mempunyai masalah atau variabel baik bebas maupun terikat yang sejenis.   Dengan demikian maka hasil yang akan diperoleh akan merupakan masukan yang berguna di bidang kependidikan baik bagi para calon guru/dosen maupun calon peneliti.

DAFTAR PUSTAKA

Alhabshi, Syed Othman. (2002). “e-Learning: A Malaysian Case Study”. A Paper presented at the Africa-Asia Workshop on Promoting Cooperation in Information and Communication Technologies Development, organized by United Nations Development Program (UNDP) and the Government of Malaysia at the National Institute of Public Administration (INTAN) on 26 March 2002, in Kuala Lumpur.

Anggoro, Mohammad Toha. 2001. “Tutorial Elektronik melalui Internet dan Fax Internet” dalam Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, Volume 2, No. 1, Maret 2001. Tangerang: Universitas Terbuka.

Dowling, James, et.al. 2002. “The e-Learning Hype Cycle” in e-LearningGuru.com (sumber dari internet: http://www.w-learningguru.com/articles)

Downer, Alexander. 2001. The Virtual Colombo Plan-Bringing the Digital Divide. (sumber dari internet: http://www.ausaid.gov.au/)

Feasey, Dave. 2001. E-Learning. Eyepoppingraphics, Inc. (sumber dari Internet tanggal 20 Agustus 2002: http://eyepopping.manilasites.com/profiles/)

Gibbon, Heather S. 2002. Process for Motivating Online Learners from Recruitment through Degree Completion. Brenau University. (sumber dari Internet 20 September 2002).

Lewis, Diane E. 2002. “A Departure from Training by the Book, More Companies Seeing Benefits of E-Learning”, The Boston Globe, Globe Staff, 5/26/02 (sumber Internet: http://bostonworks.boston.com/globe/articles/052602/elearn.html)

Loftus, Margaret. 2001. But What’s It Like? Special Report on E-Learning (sumber Internet: 20 Agustus 2002:

Handoko, Martin, Ph.D (1999) Pendidikan Humaniora Pada Milenium ke III (makalah)

Maryanto, A., (1999), Otonomi Pendidikan Salah Satu Bentuk Implementasi Desentralisasi Pemerintahan (makalah)

Suwariyanto, Theodorus, MA., (1998), The Educational Philosophy of Ki Hajar Dewantara: Naturalistic and Humanistic Education in Analitical Comparison, (Thesis), Manila, De la Salle University.

BERITA BINUS : BINUS UNIVERSITY MENDATANGKAN DIPLOMAT HANDAL


“PEMBELAJARAN JARAK JAUH MENGGUNAKAN E-LEARNING“

PEMBELAJARAN JARAK JAUH MENGGUNAKAN

E-LEARNING

PENULISAN PAPER

TOPIK-TOPIK LANJUTAN SISTEM INFORMASI

Disusun

O

L

E

H

HARIYANTO WIBOWO ( 1000872955 )

Kelas : 06 PNM

Universitas Bina Nusantara

Jakarta

2009

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA

Jurusan Ilmu Komputer

Paper IS Advanced Topic

Semester Genap Tahun 2008/2009

“PEMBELAJARAN JARAK JAUH MENGGUNAKAN

E-LEARNING“

Hariyanto Wibowo (1000872955)

Kelas : 06 PNM

Abstrak

Tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk membantu mahasiswa dalam membuat laporan ilmiah. Hal ini juga dimaksudkan untuk membantu mahasiswa dalam penulisan skripsi nantinya dan tentu saja juga mahasiswa diharapkan dapat memperkaya wawasannya dengan topic penulisan ini. Bidang Teknologi Informasi memberi prospek yang sangat bagus pada mahasiswa saat ini mengingat perkembangan teknologi informasi semakin pesat.

Metode yang digunakan dalam penulisan ini hanya menggunkan acuan dari berbagai sumber-sumber yang ada, baik itu lewat buku maupun dari internet dan artikel-artikel yang ditulis oleh para ahli yang bersangkutan, kemuduian dirumuskan dan dibahas sehingga didapatkan kesimpulan dan pendapat mengenai teknologi informasi.

Dengan adanya teknologi informasi dan didukung oleh perkembangannya yang semakin canggih maka mahasiswa diharapkan untuk mampu memanfaatkan keunggulan teknologi informasi untuk masa depannya nanti.

Kata Kunci :

Elektronik learning, e-learning

PRAKATA

Puji syukur Saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya Saya dapat menyelesaikan tugas paper Topik-topik Lanjutan Sistem Informasi ini dengan tepat waktu. Tugas ini ditulis untuk memenuhi persyaratan mata kuliah IS Advanced Topics.

Dalam menyelesaikan tugas ini, Saya telah menerima berbagai petunjuk dan dukungan baik secara moril maupun material dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu Saya dalam pengerjaan paper tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat Saya sebutkan satu-persatu.

Dalam penulisan ini, Saya telah berusaha semaksimal mungkin dalam menyempurnakan tugas ini. Seperti halnya pepatah mengatakan “Tak ada gading yang tak retak” , Saya pun menyadari sepenuhnya bahwa didalam penulisan ini masih terdapat beberapa kekurangan sehingga masih perlu adanya perbaikan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak agar kelak dapat membuat karya yang lebih baik.

Akhir kata, penulis berharap karya ini dapat bermanfaat bagi para pembaca agar mendapatkan sumbangan ide dan masukan yang berarti.

Jakarta, 14 April 2009

Penulis

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini semakin bertambah banyak jumlah perguruan tinggi di berbagai negara yang menyajikan materi perkuliahan secara elektronik, baik sebagai pelengkap maupun pengganti pembelajaran tatap muka. Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan kegiatan pembelajaran elektronik sebagai suplemen (tambahan) terhadap materi pelajaran yang disajikan secara reguler di kelas (Wildavsky, 2001; Lewis, 2002). Namun, beberapa perguruan tinggi lainnya menyelenggarakan e-learning sebagai alternatif bagi mahasiswa yang karena satu dan lain hal berhalangan mengikuti perkuliahan secara tatap muka. Dalam kaitan ini, e-Learning berfungsi sebagai option (pilihan) bagi mahasiswa.
Beberapa perguruan tinggi di luar negeri, misalnya Kanada, telah menjadikan pembelajaran elektronik sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang dapat dipilih oleh mahasiswa. Artinya, seluruh kegiatan perkuliahan diikuti oleh mahasiswa melalui pemanfaatan internet, mulai dari pendaftaran diri untuk mengikuti kuliah, konsultasi akademik, penyelesaian tugas-tugas dan penyerahannya, sampai dengan evaluasi kegiatan belajar mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa dapat memilih apakah akan mengikuti kegiatan kuliah secara tatap muka, atau secara online, atau perpaduan keduanya. Masing-masing pilihan ini dihargai sama secara akademik.
Kecenderungan untuk mengembangkan e-Learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran di berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Infrastruktur di bidang telekomunikasi yang menunjang penyelenggaraan e-Learning tidak lagi hanya menjadi monopoli kota-kota besar, tetapi secara bertahap sudah mulai dapat dinikmati oleh mereka yang berada di kota-kota di tingkat kabupaten. Artinya, masyarakat yang berada di kabupaten telah dapat “berinternet ria”.

Di samping peningkatan infrastruktur di bidang telekomunikasi, baik ketersediaaannya dan cakupannya maupun kualitasnya, lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan, terutama lembaga pendidikan tinggi, tampak terus melengkapi dirinya dengan berbagai fasilitas yang memungkinkan para “civitas academica”-nya memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi yang tersedia untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran dan pemberian layananan kepada mahasiswa. Berbagai fasilitas yang dimaksud antara lain adalah berupa pengadaan perangkat komputer (lab komputer), koneksi ke internet (internet connectivity), pengembangan website, pengembangan Local Area Network (LAN), dan pengembangan intranet.

Pemanfaatan teknologi telekomunikasi untuk kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi di Indonesia semakin kondusif dengan diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Departemen Pendidikan Nasional (SK Mendiknas) tahun 2001 yang mendorong perguruan tinggi konvensional untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh (dual mode). Dengan iklim yang kondusif ini, beberapa perguruan tinggi telah melakukan berbagai persiapan, seperti penugasan para dosen untuk (a) mengikuti pelatihan tentang pengembangan bahan belajar elektronik, (b) mengidentifikasi berbagai platform pembelajaran elektronik yang tersedia, dan (c) melakukan eksperimen tentang penggunaan platform pembelajaran elektronik tertentu untuk menyajikan materi perkuliahan.

Melalui kegiatan pembelajaran elektronik, siswa dapat berkomunikasi dengan gurunya kapan saja, yaitu melalui e-mail. Demikian juga sebaliknya. Sifat komunikasinya bisa tertutup antara satu siswa dengan guru atau bahkan bersama-sama melalui papan buletin. Komunikasinya juga masih bisa dipilih, mau secara serentak atau tidak (Soekartawi, 2002a, b). Melalui e-Learning, para siswa/mahasiswa dimungkinkan untuk tetap dapat belajar sekalipun tidak hadir secara fisik di dalam kelas. Kegiatan belajar menjadi sangat fleksibel karena dapat disesuaikan dengan ketersediaan waktu para siswa/mahasiswa. Kegiatan pembelajaran terjadi melalui interaksi siswa/ mahasiswa dengan sumber belajar yang tersedia dan dapat diakses dari internet. Sehubungan dengan beberapa hal yang telah diuraikan di atas, tulisan ini akan mencoba mengkaji tentang penyelenggaraan e-Learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan bagi lembaga-lembaga pendidikan atau pelatihan dalam merencanakan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran melalui media elektronik. Karena itu, di dalam artikel ini dibahas antara lain pengertian tentang pembelajaran elektronik (e-Learning), fungsi pembelajaran elektronik, manfaat pembelajaran elektronik, penyelenggaraan pembelajaran elektronik, dan simpulan serta saran

Pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator. Fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif. Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar-mandiri (self-directed learning). Ia juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi diri. Galileo menegaskan bahwa sebenarnya kita tidak dapat mengajarkan apapun, kita hanya dapat membantu peserta didik untuk menemukan dirinya dan mengaktualisasikan dirinya. Setiap pribadi manusia memiliki “self-hidden potential excellece” (mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri), tugas pendidikan yang sejati adalah membantu peserta didik untuk menemukan dan mengembangkannya seoptimal mungkin. Seorang pendidik yang efektif, tidak hanya efektif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas saja (transfer of knowledge), tetapi lebih-lebih dalam relasi pribadinya dan “modeling”nya (transfer of attitude and values), baik kepada peserta didik maupun kepada seluruh anggota komunitas sekolah. Pendidikan yang humanis menekankan bahwa pendidikan pertama-tama dan yang utama adalah bagaimana menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah. Relasi ini berkembang dengan pesat dan menghasilkan buah-buah pendidikan jika dilandasi oleh cintakasih antar mereka. Pribadi-pribadi hanya berkembang secara optimal dan relatif tanpa hambatan jika berada dalam suasana yang penuh cinta (unconditional love), hati yang penuh pengertian (understanding heart) serta relasi pribadi yang efektif (personal relationship). Dalam mendidik seseorang kita hendaknya mampu menerima diri sebagaimana adanya dan kemudian mengungkapkannya secara jujur (modeling). Mendidik tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, melatih keterampilan verbal kepada para peserta didik, namun merupakan bantuan agar peserta didik dapat menumbuhkembangkan dirinya secara optimal.
Mendidik yang efektif pada dasarnya merupakan kemampun seseorang menghadirkan diri sedemikian sehingga pendidik memiliki relasi bermakna pendidikan dengan para peserta didik sehingga mereka mampu menumbuhkembangkan dirinya menjadi pribadi dewasa dan matang. Pendidikan yang efektif adalah yang berpusat pada siswa atau pendidikan BAGI siswa. Dasar pendidikannya adalah apa yang menjadi “dunia”, minat, dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik. Pendidik membantu peserta didik untuk menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki (the learners-centered teaching). Ciri utama pendidikan yang berpusat pada siswa adalah bahwa pendidik menghormati, menghargai dan menerima siswa sebagaimana adanya. Komunikasi dan relasi yang efektif sangat diperlukan dalam model pendidikan yang berpusat pada siswa, sebab hanya dalam suasana relasi dan komunikasi yang efektif, peserta didik akan dapat mengeksplorasi dirinya, mengembangkan dirinya dan kemudian mem- “fungsi” -kan dirinya di dalam masyarakat secara optimal.

Tujuan sejati dari pendidikan seharusnya adalah pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didik secara utuh sehingga mereka menjadi pribadi dewasa yang matang dan mapan, mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik dalam kehidupan sehari-hari. Agar tujuan ini dapat tercapai maka diperlukan sistem pembelajaran dan pendidikan yang humanis serta mengembangkan cara berpikir aktif-positif dan keterampilan yang memadai (income generating skills). Pendidikan dan pembelajaran yang bersifat aktif-positif dan berdasarkan pada minat dan kebutuhan siswa sangat penting untuk memperoleh kemajuan baik dalam bidang intelektual, emosi/perasaan (EQ), afeksi maupun keterampilan yang berguna untuk hidup praktis. Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia muda (N. Driyarkara). Pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih bermanusiawi (semakin “penuh” sebagai manusia), berguna dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab dan bersifat proaktif dan kooperatif. Masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang handal dalam bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus memiliki watak atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas, berkeahlian, namun tetap humanis.

1.2 Ruang Lingkup

Dalam penulisan paper ini, kami membatasi ruang lingkup yang mencakup antara lain :

1. Pentingnya Electronic learning dalam sistim pembelajaran.

2. Masalah pendidikan yang cukup penting yang perlu di benahi dalam proses pembelajaran

3. Manfaat yang didapatkan dari penerapan Elektronic learning

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan paper ini adalah :

1. Agar mahasiswa mendapatkan pemahaman tentang pentingnya Electronic learning dalam proses pembelajaran

2. Agar mahasiswa mendapatkan gambaran pembelajaran tentang Electronic Learning

3. Agar mahasiswa dapat mengefisiensikan waktu dan biaya

1.4 Manfaat

Manfaat yang diperoleh dari perancangan sistem yang akan dibuat adalah :

1. Mahasiswa dapat menerapkan Electronic Learning dalam sistim pembelajaran

2. Mahasiswa dapat menerapkan dan memanfaatkan kemajuan teknologi seperti penggunaan electronic learning yang di sampaikan dengan suatu media electronic yang terhubung dengan internet

3. Mahasiswa mendapatkan keuntungan dalam sistim pembelajaran Electronic Learning

1.5 Metodologi Penulisan

Dalam usaha pengumpulan data yang diperlukan dalam penulisan ini, penulis menggunakan :

■ Kajian Teori

Penulis menggunakan beberapa sumber buku dan artikel dari internet untuk dijadikan acuan dan memasukan beberapa point dalam sumber buku yang penulis anggap penting untuk dibahas dalam penulisan ini.

BAB 2

LANDASAN TEORI

2. Definisi E-Learning

Menurut Henderson,(1987) e-learning adalah pembelajaran jarak jauh yang menggunakan teknologi komputer, atau biasanya Internet (The e-learning Question and Answer Book, 2003).

Henderson menambahkan juga bahwa e-learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran di kelas. William Horton menjelaskan bahwa e-learning merupakan pembelajaran berbasis web (yang bisa diakses dari Internet). Pembelajaran jarak jauh. E-learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa saja berada di Jakarta, sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di kota lain bahkan di negara lain. Namun, interaksi masih bisa dijalankan secara langsung ataupun dengan jeda waktu beberapa saat. Jadi, pembelajar bisa belajar dari komputer di kantor ataupun di rumah yang terkoneksi dengan Internet, sedangkan materi belajar dikelola oleh sebuah perusahaan di Amerika Serikat, di Jepang ataupun di Inggris.

Dengan cara ini, pembelajar bisa mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat ia mengakses ilmu yang dipelajari. Jika, pembelajaran ditunjang oleh perusahaan, maka si pembelajar bisa mengakses modul yang dipelajarinya dengan mengkoordinasikan waktu ia belajar dan waktu ia bekerja. Misalnya, jika pada pagi hari sampai siang hari, ia dituntut untuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor, maka ia bisa menyisihkan waktu di sore hari menjelang pulang untuk belajar. Tugas-tugas yang sehubungan dengan e-learning yang ditekuni pun bisa disesuaikan waktu pengerjaannya dengan kesibukan pembelajar.

Menurut Kusumastuti(2003), deputi bidang SDM Kementerian Kominfo, e-learning  dapat mengatasi kesenjangan informasi antara  desa  dan kota. “E-learning bisa memperluas kesempatan pendidikan di  pedesaan  dan wilayah Indonesia bagian timur,” katanya.  Selain  itu, bisa  dilakukan pertukaran informasi pengajar  antarsekolah  atau self-learning   yang  dioperasionalisasikan  melalui   pendidikan berbasis web.  Lebih lanjut,  Kusumastuti  berharap,  e-learning dapat  meningkatkan efisiensi, terutama apabila dikaitkan  dengan waktu dan biaya.

Menurut Soekartawi, Haryono dan Librero, (2002) e-Learning memang merupakan suatu teknologi pembelajaran yang yang relatif baru di Indonesia. Untuk menyederhanakan istilah, maka electronic learning disingkat menjadi e-learning. Kata ini terdiri dari dua bagian, yaitu ‘e’ yang merupakan singkatan dari ‘electronica’ dan ‘learning’ yang berarti ‘pembelajaran’. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika. Jadi dalam pelaksanaannya e-learning menggunakan jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya.

Menurut Purbo (2001) melukiskan bahwa internet juga telah mengubah metode komunikasi massa dan penyebaran data atau informasi secara fleksibel dan mengintegrasikan seluruh bentuk media massa konvensional seperti media cetak dan audio visual. Internet memiliki banyak fasilitas yang telah digunakan dalam berbagai bidang, seperti militer, media massa, bisnis, dan juga untuk pendidikan. Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet, Internet Relay Chat, Newsgroup, Mailing List (Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW). Di antara banyak fasilitas tersebut menurut Onno W. Purbo (1997), “ada lima aplikasi standar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu e-mail, Mailing List (milis), News group, File Transfer Protocol (FTC), dan World Wide Web (WWW)”.

Menurut Suparman (1993:166) “metode instruksional berfungsi sebagai cara dalam menyajikan (menguraikan, memberikan contoh, dan memberi latihan) isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu”. Metode dan teknik yang dipilih oleh guru/dosen ini dimaksudkan agar dapat meberikan, kemudahan, fasilitas, dan atau bantuan lain kepada siswa/mahasiswa dalam mencapai tujuan-tujuan instruksional.

Menurut Moore (1986), pertemuan antara pengajar dan yang diajar, atau “a meeting of minds” masih terjadi walaupun tidak terjadi pertemuan secara fisik. Menurut Garry and Kingsley (1970), belajar tidak dapat terjadi tanpa adanya peserta didik (pembelajar) atau tugas belajar, namun dapat terjadi tanpa adanya guru. Tugas belajar dapat diartikan materi yang dipelajari oleh pembelajar.

Menurut Daniel (Padmo dan Pribadi, dalam Belawati, 1999), media sebagai alat interaksi dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu media cetak, media massa/siar/tayang, media personal, dan media telekomunikasi.

Menurut Garrison (Padmo dan Pribadi, dalam Belawati, 1999), media cetak digolongkan sebagai teknologi generasi pertama dalam sistem pendidikan jarak jauh. Pendidikan jarak jauh pada awalnya justru berkembang dari pendidikan koresponden yang diperuntukkan bagi pendidikan orang dewasa (Pannen, dalam Belawati, 1999).

Menurut Putman (1994) perusahaan-perusahaan media nasional di London sedang menciptakan program-program pendidikan yang melampaui sekolah-sekolah yang ada saat ini. Oleh karenanya seorang eksekutif senior telah memprediksi bahwa akhir abad 20 para pendidik akan dibayar lebih besar dari bintang-bintang film. Oleh karenanya masyarakat yang akan ikut dalam kegiatan ini harus terlebih dahulu melakukan perubahan-perubahan termasuk visi yang jelas bagi pembelajaran dimasa depan.

Jones (1999). The five levels of web use in education:
Factors to consider in planning online courses. Educational Technology, 39(6), 28-32.
1. Administrative
Penyediaan informasi (misalnya penilaian, silabus, dll).

2. Supplemental
Penjelasan tentang tugas-tugas, kalender, dan petunjuk-petunjuk pembelajaran. Komunikasi dosen dengan mahasiswa dapat langsung dilakukan..

3. Essential
Secara tidak langsung mahasiswa jika ingin sukses harus mengakses web matakuliah online. Mahasiswa tidak hanya mengambil/mengakses materi tetapi mengirimkan tugas-tugas serta berpartisipasi dalam diskusi.

4. Communal
membentuk kumunitas e-learning

5. Immersive
ini merupakan kelas online dimana instruktur dengan siswa tidak pernah bertatap muka.

BAB 3

ELECTRONIC LEARNING

3.1 Alasan Perlunya Belajar Elektronic Learning

Semakin banyak perusahaan dan individu yang memanfaatkan e-learning sebagai sarana untuk pelatihan dan pendidikan karena mereka melihat berbagai manfaat yang ditawarkan oleh pembelajaran berbasis web ini. Dari berbagai komentar yang dilontarkan, ada tiga persamaan dalam hal manfaat yang bisa dinikmati dari e-learning.
Fleksibilitas. Jika pembelajaran konvensional di kelas mengharuskan siswa untuk hadir di kelas pada jam-jam tertentu (seringkali jam ini bentrok dengan kegiatan rutin siswa), maka e-learning memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran. Siswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat pelajaran disampaikan, e-learning bisa diakses dari mana saja yang memiliki akses ke Internet. Bahkan, dengan berkembangnya mobile technology (dengan palmtop, bahkan telepon selular jenis tertentu), semakin mudah mengakses e-learning. Berbagai tempat juga sudah menyediakan sambungan internet gratis (di bandara internasional dan cafe-cafe tertentu), dengan demikian dalam perjalanan pun atau pada waktu istirahat makan siang sambil menunggu hidangan disajikan, Anda bisa memanfaatkan waktu untuk mengakses e-learning.

“Independent Learning”. E-learning memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk memegang kendali atas kesuksesan belajar masing-masing, artinya pembelajar diberi kebebasan untuk menentukan kapan akan mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam satu modul yang ingin dipelajarinya terlebih dulu. Ia bisa mulai dari topik-topik ataupun halaman yang menarik minatnya terlebih dulu, ataupun bisa melewati saja bagian yang ia anggap sudah ia kuasai. Jika ia mengalami kesulitan untuk memahami suatu bagian, ia bisa mengulang-ulang lagi sampai ia merasa mampu memahami. Seandainya, setelah diulang masih ada hal yang belum ia pahami, pembelajar bisa menghubungi instruktur, nara sumber melalui email atau ikut dialog interaktif pada waktu-waktu tertentu. Jika ia tidak sempat mengikuti dialog interaktif, ia bisa membaca hasil diskusi di message board yang tersedia di LMS (di Website pengelola). Banyak orang yang merasa cara belajar independen seperti ini lebih efektif daripada cara belajar lainnya yang memaksakannya untuk belajar dengan urutan yang telah ditetapkan.
Biaya. Banyak biaya yang bisa dihemat dari cara pembelajaran dengan e-learning. Biaya di sini tidak hanya dari segi finansial tetapi juga dari segi non-finansial. Secara finansial, biaya yang bisa dihemat, antara lain biaya transportasi ke tempat belajar dan akomodasi selama belajar (terutama jika tempat belajar berada di kota lain dan negara lain), biaya administrasi pengelolaan (misalnya: biaya gaji dan tunjangan selama pelatihan, biaya instruktur dan tenaga administrasi pengelola pelatihan, makanan selama pelatihan), penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar (misalnya: penyewaan ataupun penyediaan kelas, kursi, papan tulis, LCD player, OHP). Dalam hal biaya finansial William Horton (Designing Web-Based Training, 2000) mengutip komentar beberapa perusahaan yang telah menikmati manfaat pengurangan biaya, antara lain: Buckman Laboratories berhasil mengurangi biaya pelatihan karyawan dari USD 2.4 juta menjadi USD 400,000; Aetna berhasil menghemat USD 3 juta untuk melatih 3000 karyawan; Hewlett-Packard bisa memotong biaya pelatihan bagi 700 insinyur mereka untuk produk-produk chip yang selalu diperbaharui, dari USD 7 juta menjadi USD 1.5 juta; Cisco mengurangi biaya pelatihan per karyawan dari USD 1200 – 1800 menjadi hanya USD 120 per orang. Biaya non-finansial yang bisa dihemat juga banyak, antara lain: produktivitas bisa dipertahankan bahkan diperbaiki karena pembelajar tidak harus meninggalkan pekerjaan yang sedang pada posisi sibuk untuk mengikuti pelatihan (jadwal pelatihan bisa diatur dan disebar dalam satu minggu ataupun satu bulan), daya saing juga bisa ditingkatkan karena karyawan bisa senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pekerjaannya, sementara bisa tetap melakukan pekerjaan rutinnya.

E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara peserta didik dengan dosen/guru/instruktur maupun antara sesama peserta didik. Peserta didik dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri peserta didik. Guru atau instruktur dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para peserta didik. Sesuai dengan kebutuhan, guru/instruktur dapat pula memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengakses bahan belajar tertentu maupun soal-soal ujian yang hanya dapat diakses oleh peserta didik sekali saja dan dalam rentangan waktu tertentu pula (Website Kudos, 2002).

Secara lebih rinci, manfaat e-Learning dapat dilihat dari 2 sudut, yaitu dari sudut peserta didik dan guru:

(1) Dari Sudut Peserta Didik

Dengan kegiatan e-Learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya, peserta didik dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Peserta didik juga dapat berkomunikasi dengan guru/dosen setiap saat. Dengan kondisi yang demikian ini, peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.

Manakala fasilitas infrastruktur tidak hanya tersedia di daerah perkotaan tetapi telah menjangkau daerah kecamatan dan pedesaan, maka kegiatan e-Learning akan memberikan manfaat (Brown, 2000) kepada peserta didik yang (1) belajar di sekolah-sekolah kecil di daerah-daerah miskin untuk mengikuti mata pelajaran tertentu yang tidak dapat diberikan oleh sekolahnya, (2) mengikuti program pendidikan keluarga di rumah (home schoolers) untuk mempelajarii materi pembelajaran yang tidak dapat diajarkan oleh para orangtuanya, seperti bahasa asing dan keterampilan di bidang komputer, (3) merasa phobia dengan sekolah, atau peserta didik yang dirawat di rumah sakit maupun di rumah, yang putus sekolah tetapi berminat melanjutkan pendidikannya, yang dikeluarkan oleh sekolah, maupun peserta didik yang berada di berbagai daerah atau bahkan yang berada di luar negeri, dan (4) tidak tertampung di sekolah konvensional untuk mendapatkan pendidikan.

(2) Dari Sudut Guru/Dosen

Dengan adanya kegiatan e-Learning (Soekartawi, 2002a,b), beberapa manfaat yang diperoleh guru/dosen/instruktur antara lain adalah bahwa guru/dosen/ instruktur dapat: (1) lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung-jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi, (2) mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak, (3) mengontrol kegiatan belajar peserta didik. Bahkan guru/dosen/instruktur juga dapat mengetahui kapan peserta didiknya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang, (4) mengecek apakah peserta didik telah mengerjakan soal-soal latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan (5) memeriksa jawaban peserta didik dan memberitahukan hasilnya kepada peserta didik.

Sedangkan manfaat pembelajaran elektronik menurut A. W. Bates (Bates, 1995) dan K. Wulf (Wulf, 1996) terdiri atas 4 hal, yaitu:

(1) Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity).

Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi. Mengapa?

Karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat tanggap dan berani. Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada pembelajaran elektronik. Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas (Loftus, 2001).

(2) Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).

Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja (Dowling, 2002). Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada guru/dosen/instruktur begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru/instruktur.

Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional. Dalam kaitan ini, Universitas Terbuka Inggris telah memanfaatkan internet sebagai metode/media penyajian materi. Sedangkan di Universitas Terbuka Indonesia (UT), penggunaan internet untuk kegiatan pembelajaran telah dikembangkan. Pada tahap awal, penggunaan internet di UT masih terbatas untuk kegiatan tutorial saja atau yang disebut sebagai “tutorial elektronik” (Anggoro, 2001).

(3) Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).

Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.

(4) Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).

Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun atas hasil penilaian guru/dosen/ instruktur selaku penanggung-jawab atau pembina materi pembelajaran itu sendiri.

Pengetahuan dan keterampilan untuk pengembangan bahan belajar elektronik ini perlu dikuasai terlebih dahulu oleh guru/dosen/instruktur yang akan mengembangkan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan pengelolaan kegiatan pembelajarannya sendiri. Harus ada komitmen dari guru/dosen/ instruktur yang akan memantau perkembangan kegiatan belajar peserta didiknya dan sekaligus secara teratur memotivasi peserta didiknya



3.2 Bagaimana memanfaatkan E-learning secara optimal

Seperti halnya pembelajaran dengan cara lain, e-learning bisa memberikan manfaat yang optimal jika beberapa kondisi berikut terpenuhi.
Tujuan. Sebelum memutuskan untuk mengikuti e-learning, Anda perlu menentukan tujuan belajar Anda, sehingga Anda bisa memilih topik, modul, lama belajar, biaya, dan sarana belajar secara elektronik yang sesuai. Tujuan ini hendaknya dikaitkan dengan tujuan pribadi ataupun tujuan bisnis Anda secara langsung yang spesifik dan terukur. Misalnya: Anda baru saja diangkat sebagai project manager. Dalam tiga bulan pertama Anda ingin mendapat keterampilan di bidang ini. Karena pekerjaan baru, dengan gaji dan pekerjaan yang juga meningkat, Anda merasa tidak mungkin untuk secara fisik meninggalkan pekerjaan Anda. Untuk itu Anda bisa mengikuti e-learning berdurasi tiga bulan dengan topik project management yang ditawarkan lembaga atau universitas tertentu (umumnya universitas
di Amerika, Australia dan Eropa menawarkan program e-learning). Sambil mengikuti pelajaran, Anda bisa sekaligus menerapkan ilmu dan keterampilan yang Anda dapatkan. Anda juga bisa memanfaatkan forum diskusi secara elektronik untuk membahas permasalahan yang langsung Anda hadapi di lapangan.
Pembelajar. Cara belajar dengan e-learning memberikan peluang untuk menjadi pembelajar independen. Jadi, untuk mendapatkan manfaat optimal dari e-learning, Anda juga harus senang belajar secara independen, memiliki sikap yang positif terhadap pembelajaran dan perluasan wawasan (memiliki motivasi tinggi untuk menguasai topik yang diambil, menganggap belajar bukan sebagai beban tetapi sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas, mampu menerapkan disiplin dalam belajar), memiliki sarana belajar yang menunjang (misalnya: komputer, akses internet, fax, printer), keterampilan dan strategi untuk belajar secara independen di dunia maya (keterampilan dasar menggunakan komputer dan internet, strategi untuk mengelola waktu).

Sama seperti cara belajar lain, cara belajar dengan e-learning akan lebih mudah jika mendapat dukungan dari orang-orang terkait dengan pembelajar (misalnya: atasan, perusahaan tempat bekerja, rekan sekerja, sahabat dan keluarga). Dengan dukungan dari berbagai pihak (baik berupa dana, dukungan moril, maupun dukungan fasilitas), semangat belajar yang terkadang turun bisa tetap dipertahankan, bahkan dipacu lebih tinggi, masalah yang dihadapi dalam belajar bisa dituntaskan, sehingga proses belajar dan penyelesaian program bisa lebih mudah dijalankan.
Media lain. E-learning hanyalah sebuah “alat” yang dapat digunakan untuk mencapai suatu tujuan. “Alat” ini jika digunakan bersama “alat-alat” akan mempercepat dan mempermudah pencapaian tujuan. Dengan demikian, e-learning tidak harus digunakan secara murni, tetapi bisa diharmonisasikan dengan penggunaan media lain untuk saling menunjang meraih tujuan si pembelajar. Jadi, jika memang ada kesempatan untuk menggunakan media lain untuk belajar (pembelajaran konvensional di kelas, pembelajaran melalui mailing list, video, radio, fax, atau korespondensi), mengapa tidak saling dikoordinasikan?
Pilih yang Anda perlu. Jika Anda hanya perlu bepergian dengan mobil, Anda tidak perlu menggunakan pesawat terbang. Jika Anda hanya memerlukan informasi dan pengetahuan umum untuk memperluas wawasan, Anda tidak perlu memerlukan sarana untuk memperluas wawasan di bidang tertentu, Anda tak perlu mengeluarkan biaya untuk mengikuti e-learning lengkap, Anda bisa saja berpartisipasi dalam dialog elektronik ataupun menjadi anggota mailing list yang memberikan informasi yang Anda perlukan. Misalnya, untuk mendapatkan tips cerdas untuk mengembangkan diri, Anda bisa mencoba berpartisipasi dalam mailing list smart_wisdom@yahoogroups.com, untuk informasi mengenai manajemen, mengapa tidak mengakses manajemen@yahoogroups.com, dan untuk mendapat contoh dialog dan ungkapan bahasa Inggris dalam bisnis, cobalah edpro@yahoogroups.com. Anda juga bisa membangun mailing list atau berkirim email dengan teman seprofesi untuk saling bertukar informasi. Cara lain yang bisa Anda coba adalah mencari informasi di internet di website tertentu (website majalah internasional, ataupun perusahan konsultan internasional). Misalnya untuk mendapat informasi mengenai strategi manajemen dan bisnis, Anda bisa mencoba mengunjungi dan menjadi anggota mckinseyquarterly. com, sedangkan untuk mendapat informasi bisnis, kunjungi website majalah bisnis nasional maupun internasional, dan untuk melihat informasi lainnya mengenai cara manajemen diri kunjungi website
surat kabar Anda ini (http:www. sinarharapan.co.id). Untuk melihat contoh e-learning, Anda bisa mengunjungi berbagai websites, antara lain: www.rootleraning.com, dan www.engines4ed.org.

3.3 E-Learning di pemerintahan

Bisakah  e-learning diterapkan di pemerintahan, dipakai  untuk pendidikan dan pelatihan pegawai, atau sebagai sarana sosialisasi produk  hukum? “Sangat bisa, sepanjang  serius  melaksanakannya,” kata Riyani. Masalahnya, lanjut Riyani, e-learning tak dijalankan secara  serius.  Selain itu, jangan  sekali-kali  menjadikan   e-learning sebagai produk TI. Artinya, e-learning jangan  dipakai sebagai  alat untuk mencerdaskan pegawai. “Jika ingin  diterapkan di pemerintahan, e-learning harus dijadikan alat untuk menyukseskan program pemerintah,” kata Riyani, serius.

Kusumastuti pun sependapat bahwa e-learning bisa diterapkan di pemerintahan.  “E-learning sangat diperlukan  untuk  meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan aparatur pemerintah,”  katanya. Hanya, lanjut dia, implementasi e-learning memerlukan sikap  yang benar,  perencanaan  yang hati-hati, prosedur yang  efektif,  dan lingkungan yang mendukung. “Kalau itu dipenuhi, apa yang  menjadi tujuan akan berhasil diraih,” tambahnya. Sementara  itu,  Budi Rahardjo, pakar  telematika,  meski  tak menampik  pentingnya e-learning, ia melihat banyak  kendala  jika akan  diterapkan  di  Indonesia.  Pertama,  soal   infrastruktur. “Infrastrukturnya masih belum memadai dan relatif mahal di banyak tempat,”  katanya. Selain itu, Budi melihat masalah  materi  juga menjadi  kendala. “Materi e-learning  yang umum saja masih  belum tersedia secara memadai, apalagi untuk pemerintah,” tambahnya.
Budi  mengakui,  e-learning  sebetulnya  berpotensi   membantu meningkatkan  kualitas  SDM Indonesia yang tersebar  di  berbagai pulau. Kondisi  geografis Indonesia menyulitkan untuk  mendatangkan pengajar dari perguruan tinggi di Jawa. Selain itu,  biayanya juga mahal. Menurut Budi, e-learningseharusnya dapat  mengurangi perbedaan  ini. “Jadi, meski belum waktunya, persiapan  untuk  e-learning  harus  dimulai  sekarang. Jika  tidak,  tak  akan  siap terus,” tambah dosen ITB ini.

3.4 Kesiapan Vendor

Manfaat  e-learning sebenarnya sudah disadari  berbagai  pihak sejak lama. Hanya karena tak ada keseriusan, seperti yang  dilakukan Bank Mandiri, maka lebih banyak cerita kegagalan yang  beredar. Atau, boleh dibilang, perkembangan e-learning agak  terseok-seok alias lamban. Selain  itu, yang selalu dituding sebagai  penyebab  kegagalan adalah kesiapan infrastruktur jaringan TI. Soal budaya baca  yang masih  rendah juga menjadi penyebab belum suksesnya penerapan  e-learning. Lalu kesiapan modul menjadi kendala tersendiri.Namun, jika melihat sukses Bank Mandiri menerapkan e-learning, kendala-kendala  tersebut sebetulnya bukan tak ada jalan  keluarnya.  “Harus  bisa,” tegas Riyani. Ia  memaparkan,  “Ketika  saya menjalankan  e-learning,  ada bank swasta  terkemuka  yang  sudah menjalankan, tetapi gagal,” ceritanya. Jika merujuk kasus  tersebut, ia tentu  tak  akan  meneruskan proyeknya. “Bank swasta saja tidak  bisa, apalagi bank pemerintah yang notabene  dicap   lebih jelek dari bank swasta,” kenang Riyani.

Soal  kesiapan infrastruktur, Riyani tak sependapat  jika  hal itu  dianggap  sebagai  penghambat.  “Pengadaan  e-learning Bank Mandiri  melalui sewa, sehingga tak perlu penambahan  server  dan infrastruktur  lainnya  karena sudah disediakan  oleh  provider,” katanya.  Riyani menjelaskan, penambahan perangkat  komputer  pun tak  banyak,  hanya satu untuk keperluan  e-learning  di  kantor-kantor  cabang.  Selain itu, sistem untuk Bank  Mandiri  bersifat  mobile.  Dengan sistem seperti ini, pembelajaran  bisa  dilakukan secara offline dan online, sehingga beban terhadap  jaringan yang tersedia untuk transaksi perbankan dapat diminimalkan.
Taufik Hasan, kepala RisTI Telkom Bandung, mengungkapkan bahwa  Telkom sebagai penyedia layanan dan jaringan telekomunikasi telah menyiapkan infrastruktur untuk e-learning. Selain jaringan  telepon  yang menyisir hampir di seluruh Nusantara, RisTI juga  sudah menyiapkan teknologi audioconferencing, videobroadcasting, videoconferencing,  dan internet. Selain itu, mereka juga siap  dengan aplikasi  e-learning-nya.  “Semuanya siap dimanfaatkan  untuk  e-learning,” kata Taufik.

RisTI  sendiri sudah terlibat dengan bisnis  e-learning  sejak tahun  2000.  Klien mereka, di antaranya, Departemen  Agama,  Departemen Pendidikan Nasional, dan beberapa perguruan tinggi  yang tergabung   dalam  Badan Kerja Sama  Perguruan  Tinggi  Indonesia Timur.  Taufik  setuju  e-learning  diterapkan  di  pemerintahan. “Tugas pemerintah itu mencerdaskan rakyat. Jadi, pemerintah harus memfasilitasi  proses  e-learning agar  rakyat  bisa  mendapatkan informasi  dan menambah pengetahuan,” jelas Taufik. Ia  menambahkan, jika SDM pemerintah berkualitas,  layanan publiknya pun bisa dilakukan dengan lebih cerdas.

Vendor  yang juga mulai menaruh perhatian terhadap  bisnis  e-learning  adalah Intel. Menurut Arya Sanjaya,  country  solutions manager Intel Indonesia, perusahaannya tengah melakukan  pembicaraan  berkaitan  dengan  peningkatan  mutu  pegawai   pemerintah. “Pemerintah  merupakan sektor yang  paling tepat untuk  melakukan e-learning,  terutama  karena penyebaran  pegawainya  di  seluruh wilayah  Indonesia,”  kata  Arya, yang  optimistis  akan  prospek bisnis e-learning.

3.5 Karakteristik E-Learning

Mari kita lihat tentang karakteristik e-learning, dalam hal ini kami fokuskan pada online learning.

Characteristics

Explanation

Non-linearity

Pemakai (user) bebas untuk mengakses (browse) tentang objek pembelajaran dan terdapat fasilitas untuk memberikan persyaratan tergantung pada pengetahuan pemakai.

Self-managing

Pemakai dapat mengelola sendiri proses pembelajaran dengan mengikuti struktur yang telah dibuat.

Feedback-Interactivity

Pembelajaran dapat dilakukan dengan interaktif dan disediakan feedback pada proses pembelajaran.

Multimedia-Learners style

E-learning menyediakan fasilitas multimedia. Keuntungan dengan menggunakan multimedia,siswa dapat memahami lebih jelas dan nyata sesuai dengan tipe siswanya.

Just in time

E-learning menyediakan kapan saja yang diperlukan pemakai, untuk menyelesaikan permasalahan atau hanya ingin meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.

Dynamic Updating

Mempunyai kemampuan memperbaharui isi materi secara otomatis pada perubahan yang terbaru.

Easy Accessibility/Access

Hanya menggunakan browser (dan mungkin beberapa yang terpasang).

Collaborative learning

Dengan tool pembelajaran memungkinkan bias saling interaksi, maksudnya bisa berkomunikasi secara langsung pada waktu yang bersamaan (synchronous) atau berkomunikasi pada waktu yang berbeda (asynchronous). Pemakai bias berkomunikasi dengan pembuat materi, siswa yang lain, Pengunjung.

Tabel 1 Characteristic E-Learning

Tidak bertanggungjawab tanpa adanya keahlian
Kita tidak mengharapkan pada pembelajaran yang bertanggungjawab tanpa adanya keahlian. Apabila kita ingin supaya siswa itu bertanggungjawab pada proses belajarnya, maka anda harus membantunya dengan keahlian dan prilakunya dengan cara dua hal :

    1. Fasilitas pembelajaran yang menjamin pengalaman pembelajaran yang terbaik (metode yang terbaik, alat bantu yang terbaik,pelatihan yang terbaik dll)
    2. belajar bagaimana siswa belajar sehingga dia mengelola proses belajarnya(meta-learning)

3.5.1. Bagaimana kita dapat membantu siswa secara optimis dalam proses pembelajaran

  • Jelas! Sediakan informasi tentang pembelajaran. Kapan siswa dapat menggunakannya, tentang jadwal, tentang tes, dll. Apa yang ditawarkan dan apa yang tidak ditawarkan harus secara jelas. Tentang perjanjian dengan siswa SLA (Service Level Agreement) sangat berguna dalam pengajaran.
  • Pengetahuan tentang tes. Pengetahuan tentang test sangat diperlukan
  • Tulis tentang rencana pembelajaran dengan siswa. Dalam rencana pembelajaran adalah menulis jadwal, langkah-langkah yang diperlukan. Juga memberika saran tentang dasar pembelajaran dan tipe pembelajaran dari siswa. Siswa komitmen
    dengan rencananya.
  • Menggunakan pengalaman dari siswa. Hubungan aktivitas dari hari ke hari dengan mereka, buatlah pusat permasalahan.
  • Buatlah pengalaman sebanyak mungkin. tapi focus pada pengajaran yang relevan.
  • Berikan modul belajar bagaimana belajar dengan menjelaskan tip proses belajar.
  • Latih siswa pada proses belajar.
  • Berikan suatu lingkungan teknik yang solid. Penggunaan rintangan-rintagan pada pembalajaran.

3.5.2. 9 tip tentang bagaimana cara belajar

  1. Berpikir sebelum mulai yang anda ingin jelaskan dan tulis tujuannya.
  2. Rencanakan proses yang akan anda latih (mengenai watu, tujuan dll) dan tuliskan pada rencana pembelajaran.
  3. Buat catatan kecil pada kertas (atau digital) selama proses belajar mengajar.
  4. Praktek sebanyak mungkin.
  5. Bawa dokumen anda dan masalah-masalah yang nyata di kelas.
  6. Pikirkan tentang bagaimana anda menggunakan tentang belajar di alam nyata. Bagaimana anda menggunakannya?
  7. Bicarakan masalah atau materi dengan siswa lain dan yang ahli, bekerja bersama jika memungkinkan.
  8. Berhenti 5 menit dalam setiap jam dan berpikir kembali apa yang dikerjakan dan menuliskannya.
  9. Gunakan komunikasi dan pembelajaran yang berbeda jika memungkinkan seperti WBT, diskusi, e-seminar, workshop dan chat.

3.5.3. Pembelajaran dg Instruktur vs. e-learning

Disini akan dibandingkan perbedaan antara pembelajaran yang dipimpin oleh instruktur dengan pembelajaran melalui elektronik

Pembelajaran dg instruktur 1 instruktur, 8 siswa

E-learning (self study)

a. 1 ruang kelas

1 instruktur, 100 siswa

b. kelas mulai pada saat X dan berakhir pada saat Y

b. tidak ada kelas

c. instruktur bersama dg grup

c. kelas mulai ketika siswa ingin belajar (atau yang telah ditentukan)

d. instruktur berbicara pada waktu menjelaskan

d. siswa belajar sendiri

e. siswa pasif pada suatu waktu

e. instruktur hanya memberikan umpan balik dan tip

f. instruktur menentukan programnya (dg siswa)

f. siswa aktif

g. instruktur menentukan tempatnya

g. siswa menentukan program (mungkin dg instruktur)

h. instruktur bertanggung jawab pada proses pembelajaran.

h. siswa menentukan tempatnya

i. Instruktur adalah bintangnya

i. siswa mempunyai tanggungjawab pada proses pembelajaran

j. siswa adalah bintangnya

Tabel 2. Pembelajaran dg Instruktur vs. e-learning


3.5.4.
Keuntungan dari pengajaran berbasis web

Adapun beberapa keuntungan dari pengajaran berbasis web antara lain :
- Kelas , Besar atau kecil

WebCT dapat digunakan untuk pengajaran kelas kecil maupun besar.

- Kapan saja- Dimana saja
WebCT menghilangkan batasan waktu dan tempat dengan karakteristik kelas tradisional dengan menggunakan mode komunikasi asynchronous seperti e-mail, diskusi online, siswa dapat mengakses 24 jam setiap hari.

- Membangun Komuniti
Pembelajaran adalah proses sosial. Siswa dapat belajar saling tukar informasi satu dengan yang lain seperti dengan instruktur.

- Peningkatan Pebelajaran siswa
“Belajar bukan latihan olah raga” (Chickering and Gamson, 1987). WebCT menyediakan alat Bantu pengajaran untuk membantu instruktur membuat pembelajaran online dan persetujuan siswa dengan materi.

3.6 Strategi Pemanfaatan Komputer dalam Pembelajaran

Pemanfaatan komputer dapat mempermudah siswa dalam melakukan penyelesaian berbagai masalah yang dihadapi siswa di sekolah.  Namun tanpa penguasaan operasional komputer dengan baik, siswa tidak dapat menggunakannya dengan sempurna.  Pengenalan komputer saat ini sejak Taman Kanak-kanak pun telah mulai diberikan.

Menurut penelitian eksperimental yang dilakukan Goodwin, Nansel, dan Helm (1986) yang dilakukan untuk menyelidiki efek-efek penggunaan microcomputer pada anak TK terhadap konsep membaca dan sikap mereka ke arah microcomputer, menerapkan tiga kondisi perlakuan yang diberikan pada anak TK tersebut antara lain:  (a) perintah-perintah microcomputer yang dibantu orang dewasa, (b) penggunaan microcomputer yang tidak dibantu orang dewasa, dan (c) tidak menggunakan microcomputer (kelompok kontrol).   Dan hasilnya ternyata memberikan perbedaan hasil yang signifikan antara prestasi anak TK yang diberi microcomputer dengan yang tanpa diberi microcomputer.

Dari kajian ini tampak bahwa pada anak-anak TK komputer sudah perlu diperkenalkan, agar seteleh dewasa hal ini sudah cukup familiar baginya.

Selanjutnya Chin, (1984) melakukan suatu estimasi terhadap sekitar 25% lisensi TK yang memiliki microcomputer, dan semua anak TK tersebut diprediksi untuk akses mereka yang dilakukan pada tahun 1989.  Pada hakikatnya, proses belajar mengajar merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa.  Supaya proses komunikasi dapat berlangsung secara efektif dan efisien maka dibutuhkan sarana yang dapat menunjang proses komunikasi, yang disebut media.  Terdapat beberapa macam sarana yang dapat digunakan, salah satu di antaranya adalah komputer.  Menurut Yohannes (1985) bahwa pemakaian komputer dalam bidang pendidikan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu sebagai Computer Managed Instruction (CMI), dan Computer Assisted Instruction (CAI).   CMI adalah penggunaan komputer untuk membantu mengelola lingkungan belajar, misalnya mengevaluasi dan mengadministrasikan hasil belajar siswa, memberikan laporan hasil belajar siswa dan sebagainya.  CAI adalah penggunaan komputer sebagai sarana pengajaran, yaitu sebagai alat bantu belajar bagi siswa untuk memahami materi pelajaran, mengerjakan latihan-latihan soal, menguji kemampuan siswa, dan sebagainya.

Tai dan Tsai (2001) meneliti perbedaan sikap mahasiswa terhadap komputer dan pengaruhnya pada kemampuan menggambar teknik.  Ditemukan bahwa kinerja menggambar teknik memiliki perbedaan yang nyata akibat sikap terhadap komputer setelah menghilangkan efek covariate yakni nilai Wilk’s L  sebesar 0,95 di mana p < 0,05.   Studi tentang percakapan siswa menunjukkan bahwa aturan komputer memainkan peranan dalam konteks pembicaraan dan cara yang terdapat dalam konteks itu dibayangi oleh penggunaan komputer (Kelly dan Crawford, 1996: 693).


3.7 Fungsi Dari Pembelajaran Elektronik

Setidaknya ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu sebagai suplemen yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi) (Siahaan, 2002).

(1) Suplemen (Tambahan)

Dikatakan berfungsi sebagai supplemen (tambahan), apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.

(2) Komplemen (Pelengkap)

dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas (Lewis, 2002). Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.

Dikatakan sebagai program remedial, apabila kepada peserta didik yang mengalami kesulitan memahami materi pelajaran yang disajikan guru secara tatap muka di kelas (slow learners) diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dirancang untuk mereka. Tujuannya agar peserta didik semakin lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan guru di kelas.

(3) Substitusi (Pengganti)

Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari mahasiswa. Ada 3 alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih peserta didik, yaitu: (1) sepenuhnya secara tatap muka (konvensional), (2) sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan (3) sepenuhnya melalui internet.

BAB 4

SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan

Pengertian e-Learning atau pembelajaran elektronik sebagai salah satu alternatif kegiatan pembelajaran dilaksanakan melalui pemanfaatan teknologi komputer dan internet. Seseorang yang tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional karena berbagai faktor penyebab, misalnya harus bekerja (time constraint), kondisi geografis (geographical constraints), jarak yang jauh (distance constraint), kondisi fisik yang tidak memungkinkan (physical constraints), daya tampung sekolah konvensional yang tidak memungkinkan (limited available seats), phobia terhadap sekolah, putus sekolah, atau karena memang dididik melalui pendidikan keluarga di rumah (home schoolers) dimungkinkan untuk dapat tetap belajar, yaitu melalui e-Learning.

Penyelenggaraan e-Learning sangat ditentukan antara lain oleh: (a) sikap positif peserta didik (motivasi yang tinggi untuk belajar mandiri), (b) sikap positif tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet, (c) ketersediaan fasilitas komputer dan akses ke internet, (d) adanya dukungan layanan belajar, dan (e) biaya akses ke internet yang terjangkau untuk kepentingan pembelajaran/pendidikan.

Perkembangan di berbagai negara memperlihatkan bahwa jumlah pengguna internet terus meningkat; demikian juga halnya dengan jumlah peserta didik yang mengikuti e- Learning dan institusi penyelenggara e-Learning. Fungsi e-Learning dapat sebagai pelengkap atau tambahan, dan pada kondisi tertentu bahkan dapat menjadi alternatif lain dari pembelajaran konvensional. Peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran melalui program e-Learning memiliki pengakuan yang sama dengan peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran secara konvensional.

Peserta didik maupun dosen/guru/instruktur dapat memperoleh manfaat dari penyelenggaraan e-Learning. Beberapa di antara manfaat e-Learning adalah fleksibilitas kegiatan pembelajaran, baik dalam arti interaksi peserta didik dengan materi/bahan pembelajaran, maupun interaksi peserta didik dengan dosen/guru/ instruktur, serta interaksi antara sesama peserta didik untuk mendiskusikan materi pembelajaran.

Lembaga pendidikan konvensional (universitas, sekolah, lembaga-lembaga pelatihan, atau kursus-kursus yang bersifat kejuruan dan lanjutan) secara ekstensif telah menyelenggarakan perluasan kesempatan belajar bagi ‘target audience’ mereka melalui pemanfaatan teknologi komputer dan internet (Collier, 2002). Seiring dengan hal ini, peserta didik usia sekolah yang mengikuti kegiatan pembelajaran elektronik juga terus meningkat jumlahnya (Gibbon, 2002).

4.1 Saran

Penelitian  dengan meta-analisis telah menunjukkan bahwa peranan pemanfaatan komputer dalam proses pembelajaran cukup berarti.  Guru/dosen di  kelas tidak hanya  merupakan orang yang mentransfer ilmu dan pengetahuan kepada siswa tetapi ia harus lebih bersifat  proaktif bertindak sebagai seorang pengelola yang dapat mengatur pengalaman pengalaman belajar siswa apakah yang diperlukan siswa untuk dapat mencapai tujuan keberhasilan siswa/mahasiswa dengan lancar.   Secara keseluruhan hal yang menyangkut pemanfaatan komputer yang diperlukan siswa sejalan dengan apa yang dikemukan oleh Worell & Stiwell dalam Soekamto (1989) yang perlu dikuasai oleh seorang guru antara lain mencakup pemahaman tentang karakteristik siswa seperti jenjang pendidikannya, alokasi waktu dalam pengajaran, pemilihan media, pengelompokan siswa, bidang studi/disiplin ilmu yang diajarkan dan sebagainya.  Menurut Russeeffendi (1989) ada tiga alasan mengapa komputer diterapkan di sekolah antara lain:

(1)   Komputer makin lama makin banyak beredar di masyarakat dengan harga yang dapat dijangkau.

(2)   Komputer banyak digunakan untuk  pengajaran matematika, baik sebagai alat hitung maupun sebagai alat pengajaran.

(3)   Karena sikap siswa terhadap pelajaran akan positip, dapat memberi umpan balik, dan dapat meningkatkan keberhasilan siswa

Beberapa rekomendasi yang  dapat dikemukakan sehubangan dengan hasil yang diperoleh di dalam meta-analisis ini adalah:

(1)   Untuk ke depan diperlukan adanya suatu penelitian replikasi dan verifikasi yang menyangkut pemanfaatan komputer untuk menguji kembali hasil yang telah diperoleh.   Diperlukan meta-anlalisis yang mengikutsertakan berbagai hasil penelitian eksperimental yang melibatkan semua jenjang pendidikan dengan jumlah hasil peneltian yang lebih banyak dan menampilkan sampel yang representatif.   Semakin banyaknya jumlah sampel yang dilibatkan maka generalisasi hasil penelitian akan dapat 1ebih sempurna.

(2)   Diperlukan adanya suatu meta-analisis tentang penelitian-penelitian pemanfaatan komputer yang mempunyai masalah atau variabel baik bebas maupun terikat yang sejenis.   Dengan demikian maka hasil yang akan diperoleh akan merupakan masukan yang berguna di bidang kependidikan baik bagi para calon guru/dosen maupun calon peneliti.

DAFTAR PUSTAKA

Alhabshi, Syed Othman. (2002). “e-Learning: A Malaysian Case Study”. A Paper presented at the Africa-Asia Workshop on Promoting Cooperation in Information and Communication Technologies Development, organized by United Nations Development Program (UNDP) and the Government of Malaysia at the National Institute of Public Administration (INTAN) on 26 March 2002, in Kuala Lumpur.

Anggoro, Mohammad Toha. 2001. “Tutorial Elektronik melalui Internet dan Fax Internet” dalam Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, Volume 2, No. 1, Maret 2001. Tangerang: Universitas Terbuka.

Dowling, James, et.al. 2002. “The e-Learning Hype Cycle” in e-LearningGuru.com (sumber dari internet: http://www.w-learningguru.com/articles)

Downer, Alexander. 2001. The Virtual Colombo Plan-Bringing the Digital Divide. (sumber dari internet: http://www.ausaid.gov.au/)

Feasey, Dave. 2001. E-Learning. Eyepoppingraphics, Inc. (sumber dari Internet tanggal 20 Agustus 2002: http://eyepopping.manilasites.com/profiles/)

Gibbon, Heather S. 2002. Process for Motivating Online Learners from Recruitment through Degree Completion. Brenau University. (sumber dari Internet 20 September 2002).

Lewis, Diane E. 2002. “A Departure from Training by the Book, More Companies Seeing Benefits of E-Learning”, The Boston Globe, Globe Staff, 5/26/02 (sumber Internet: http://bostonworks.boston.com/globe/articles/052602/elearn.html)

Loftus, Margaret. 2001. But What’s It Like? Special Report on E-Learning (sumber Internet: 20 Agustus 2002:

Handoko, Martin, Ph.D (1999) Pendidikan Humaniora Pada Milenium ke III (makalah)

Maryanto, A., (1999), Otonomi Pendidikan Salah Satu Bentuk Implementasi Desentralisasi Pemerintahan (makalah)

Suwariyanto, Theodorus, MA., (1998), The Educational Philosophy of Ki Hajar Dewantara: Naturalistic and Humanistic Education in Analitical Comparison, (Thesis), Manila, De la Salle University.

BERITA BINUS : BINUS UNIVERSITY BEKERJASAMA DENGAN PERUSAHAAN BERTARAF INTERNASIONAL

Leave a Reply

*