MANFAAT CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT TERHADAP PROFIT PERUSAHAAN

June 19th, 2009 by hariyanto88

MANFAAT CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT TERHADAP PROFIT PERUSAHAAN

Oleh

Hariyanto Wibowo

1000872955

06 PNM

BiNus University

Jakarta

2009

MANFAAT CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT TERHADAP PROFIT PERUSAHAAN

Karya Tulis

Topik-topik Lanjutan Sistem Informasi

Oleh

Hariyanto Wibowo

1000872955

06 PNM

BiNus University

Jakarta

2009


BiNus University

Jurusan Sistem Informasi

Paper Topik-Topik Lanjutan

Semester Genap Tahun 2008/2009

MANFAAT CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT TERHADAP PROFIT PERUSAHAAN

Hariyanto Wibowo (1000872955)

Kelas : 06 PNM

Abstrak

Persaingan dalam dunia bisnis sangatlah ketat dan sulit. Dan sekarang ini kemajuan teknologi berkembang pesat dan dalam dunia bisnis banyak perusahan melakukan peningkatan kualitas hubungan bisnis dengan customer melalui penggunan CRM. Dan tentunya ada pengaruh yang didapatkan dalam penggunaan CRM. Tujuan dari pembuatan makalah ini agar dapat diketahui fungsi-fungsi dari CRM dan pengimplementasiannya serta profit yang didapatkan dengan penggunaan CRM.

Metodologi yang digunakan penulis adalah metodologi analisa. Penulis melakukan studi kepustakaan, yang dilakukan dengan menganalisis materi dari buku-buku pedoman dan artikel-artikel melalui internet. Penelitian mengambil sudut pandang managerial mengenai bagaimana organisasi mempergunakan CRM untuk merealisasikan tujuan bisnisnya, serta isu dan permasalahan yang timbul, dan keuntungan yang didapat dengan mengimplementasikan CRM tersebut.

Hasil yang ingin dicapai dari makalah ini adalah kita jadi lebih mengenal tentang CRM serta keuntungan yang didapat dari CRM. Dan mengapa CRM itu perlu bagi perusahaan.

Kesimpulanya CRM itu diperlukan bagi perusahaan. Apalagi perusahaan besar sehingga hubungannya dengan customer dapat terpantau dan customer pun akan tetap mau membina hubungan bisnis dengan perusahaan tersebut.

Kata kunci : Customer Relationship Management (CRM)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan, atas berkat dan bimbingannya yang diberikan kepada Penulis selama dalam penulisan karya tulis sehingga Penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini dengan baik dan tepat waktu.

Penulis berharap karya tulis ini bermanfaat untuk menambah informasi atau wawasan mengenai manfaat Customer Relationship Management (CRM) terhadap profit perusahaan melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis dan semoga memberikan hasil yang positif, karena CRM merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk dipertimbangkan bagi kemajuan perusahaan.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk menyempurnakan karya tulis ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih untuk segala bantuan yang diberikan dan perhatiannya.

Jakarta, Juni 2009

Penulis

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam dunia perdagangan multinasional dan toko-toko besar pada saat ini, bisnis yang kecil pun terus bertahan dan bertumbuh subur dengan menciptakan dan mempertahankan hubungan yang tulus dan bersifat pribadi dengan pelanggan berdasarkan kepribadian yang unik, kebutuhan, keinginan dan harapan setiap pelanggan, karena pelanggan mempunyai segmen-segmen yang berbeda pula.

Pelanggan merupakan faktor yang sangat penting dan nyawa bagi sebuah perusahaan. Hubungan perusahaan tidak hanya berhenti pada ”kepuasaan” pelanggan tapi bisa lebih jauh lagi, sampai tahap loyalitas. Dimana dengna terciptanya loyalitas pelanggan akan membuat pelanggan tersebut untuk melakukan pembelian berulang, pengrekomendasian, dan peningkatan proporsi pembelanjaan. Karena setiap perusahaan mengetahui bahwa untuk mendapatkaan pelanggan yang baru biayanya akan mencapai 3-5 kali lipat jika dibandingkan dengan biaya untuk mempertahankan pelanggan lama yang memiliki loyalitas yang tinggi. Perusahaan harus dapat merubah diri / image mereka dari ”product driven company” menjadi ”customer driven company”, dimana semua kegiatan transaksinya tidak hanya berorientasi pada penjualan produk pada pelanggan saja tetapi sekarang lebih berfokus pada bagaimana memberikan nilai pada produk yang ingin dibeli pelanggan sehingga pelanggan tersebut puas dan ingin kembali untuk membeli produk / jasa perusahaan tersebut. Dengan persaingan yang sudah semakin marak dan ketat pada saat ini, pelanggan semakin bebas untuk menentukan pilihan pada siapa mereka akan membeli kebutuhannya. Pelanggan memegang peranan penting dalam menentukan hidup mati perusahaan. Jadi perusahaan harus mempunyai keunggulan kompetitif yang dapat diandalkan jika tidak mau pelanggan setia mereka berpindah pada perusahaan pesaing. Perubahan dunia bisnis saat ini dengan adanya fasilitas dan kemudahan internet menyebabkan persaingan yang semakin ketat pula seta menyebabkan perusahaan harus dapat mengikuti perkembangan teknologi yang sudah ada. Salah satu konsep yang ditawarkan sekarang ini adalah Customer Relationship Management.

1.2 Ruang Lingkup

Ruang lingkup dalam karya tulis ini akan dibatasi pada :

1. Tujuan Customer Relationship Management (CRM).

2. Manfaat CRM.

3. Implementasi CRM.

4. Profit CRM.

5. Target CRM.

1.3 Tujuan dan Manfaat

Tujuan:

· Untuk mengetahui Customer Relationship Management yang tepat guna bagi perusahaan yang berkaitan tentang hubungan mereka dengan para customernya.

· Untuk mengenalkan manfaat dan keuntungan dari Customer Relationship Management kepada para pengusaha (enterpreuner).

· Memperkenalkan aplikasi Customer Relationship Management yang dapat menjadi pilihan bagi pengusaha atau perusahaan.

Manfaat:

· Untuk menciptakan hubungan bisnis yang baik antara perusahaan dengan customer melalui penggunaan Customer Relationship Management.

· Meningkatkan kepuasan dan loyalitas customer pada perusahaan tersebut.

· Perusahaan jadi lebih mengenal kebih dalam lagi mengenai Customer Relationship Management, dan dapat menerapakan pada perusahaan.

1.4 Metodologi Penelitian

Metodologi yang digunakan penulis adalah metodologi pengumpulan data. Penulis melakukan studi kepustakaan, yang dilakukan dengan menganalisis materi dari buku-buku pedoman dan artikel-artikel melalui internet. Penelitian mengambil sudut pandang managerial mengenai bagaimana organisasi mempergunakan Customer Relationship Management untuk merealisasikan tujuan bisnisnya, serta isu dan permasalahan yang timbul, dan keuntungan yang didapat dengan mengimplementasikan Customer Relatinship Management tersebut.

1.5 Sistematika Penulisan

BAB 1 : PENDAHULUAN

Dalam bab ini membahas mengenai latar belakang masalah, ruang lingkup permasalahan, tujuan dan manfaat dari penilitian, metode penilitian dan sistematika penulisan yang merupakan gambaran dari karya tulis ini.

BAB 2 : LANDASAN TEORI

Dalam bab ini membahas pengertian teori-teori dan konsep yang menjadi dasar penulisan karya tulis ini.

BAB 3 : PEMBAHASAN

Dalam bab ini penulis menjelaskan tujuan CRM, manfaat CRM, implementasi CRM, CRM mentransformasikan data menjadi profit, dan contoh aplikasi CRM.

BAB 4 : PENUTUP

Dalam bab terakhir ini membahas tentang simpulan dari pembahasan dan saran – saran yang dapat digunakan untuk pengembangan di masa yang akan datang.

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Customer Relationship Management (CRM)

Menurut Carlson Marketing Group, CRM didefinisikan sebagai strategi bisnis yang secara pro aktif membangun pengaruh atau preferensi untuk sebuah organisasi dengan individu pegawai, saluran distribusi dan pelanggan, yang berakhir dengan ketahanan (retention) dan kinerja yang meningkat.

Cikal bakal CRM berasal dari pemasaran hubungan (relationship marketing) yang sudah digunakan sejak pertengahan abad ke-20, dimana tujuan akhrinya adalah kepuasaan pelanggan dan kepuasaan tersebut dicapai melalui nilai (value) bagi pelanggan. Dengan sentuhan manajemen, konsep relationship marketing ini dikenal dengan nama Customer Relationship Management atau disingkat CRM. Sentuhan manajemen diperlukan didalam relationship marketing agar hubungan antara semua unsur yang terkait dapat bertahan lama (long term relationship).

Menurut Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia,CRM adalah suatu jenis manajemen yang secara khusus membahas teori mengenai penanganan hubungan antara perusahaan dengan customernya dengan tujuan meningkatkan nilai perusahaan di mata para customernya. Pengertian lain mengatakan bahwa ia adalah sebuah sistem informasi yang terintegrasi yang digunakan untuk merencanakan, menjadwalkan, dan mengendalikan aktivitas-aktivitas prapenjualan dan pasca penjualan dalam sebuah organisasi. CRM melingkupi semua aspek yang berhubungan dengan calon customer dan customer saat ini, termasuk di dalamnya adalah pusat panggilan (call center), tenaga penjualan (sales force), pemasaran, dukungan teknis (technical support) dan layanan lapangan (field service).

2.2 Model Siklus CRM

Tiga fase siklus pelanggan dari CRM adalah akuisisi pelanggan, peningkatan pelayanan kepada pelanggan dan mempertahankan pelanggan. Masing-masing dari fase ini mempunyai pengaruh terhadap hubungan dengan pelanggan, dengan tujuan untuk membuat hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan.

· Mengakuisisi pelanggan baru atau acquire adalah strategi untuk menarik pelanggan baru. Dilakukan melalui promosi terhadap produk / jasa. Tujuan utama dari fase pertama ini adalah membangun basis awal yang kuat bagi pelanggan yang setia kepada produk/jasa yang ditawarkan oleh perusahaan. Tidak ada fase kedua dan ketiga apabila fase pertama ini gagal dan tidak memberikan basis yang kuat dalam pemikiran pelanggan.

· Meningkatkan nilai tambah kepada pelanggan yang telah ada atau enchance adalah strategi untuk meningkatkan nilai bagi pelanggan. Nilai tambah itu berupa penawaran produk / jasa dengan kualitas yang lebih baik. Menjaga dan meningkatkan kepuasaan pada fase ini penting, karena pada fase ini pelanggan sedang menggunakan semua yang menjadi produk / jasa dari perusahaan.

· Mempertahankan pelanggan untuk selamanya atau retain adalah strategi agar pelanggan dapat kembali lagi dan dia akan membawa teman-temannya untuk mencoba. Mempertahankan lebih dipusatkan pada kemampuan untuk mengadaptasi pelayanan kepada apa yang diinginkan pelanggan, bukan apa yang diinginkan pasar.

2.3 Proses CRM

Beberapa proses CRM, antara lain :

1. Mengidentifikasi Customers

Informasi adalah pengerak CRM. Perusahaan mendapatkan informasi mengenai individual customers dari berbagai sumber seperti, force, customers service ecounter, bar code scanners dan website. Semakin banyak informasi yang dimiliki perusahaan, semakin baik nilai yang bias disediakan bagi customers dan calon customers dalam hal keakuratan, ketepatan waktu dan dapat memberikan penawaran yang masuk akal.

2. Membedakan Customers

Customers memiliki perbedaan kebutuhan. Internet memungkinkan

perusahaan untuk mengumpulkan informasi untuk mengidentifikasi berbagai kesamaan maupun perbedaan individu dan kelompok, kemudian menggunakannya untuk meningkatkan keuntungan.

3. Menyesuaikan Marketing

Interaksi dengan customers adalah suatu yang memungkinkan perusahaan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi dan membedakan, serta untuk mengevaluasi keefektifan hasil penyesuaian marketing.

2.4 Jenis Aplikasi CRM

Ada beberapa jenis aplikasi CRM yang dapat digunakan dalam integrasi proses bisnis:

· Operational CRM

Automatisasi proses bisnis yang terintegrasi. Meliputi Customer Touch-Point, Channels dan Front-back office integration. Tujuan utamanya adalah memberikan customer experience (pengalaman pelanggan) yang memberikan nilai lebih kepada pelanggan. Yang pada akhirnya meningkatkan kepuasaaan pelanggan, dan pelanggan yang puas secara menerus akan membawa pada kepentingan pelanggan.

Aplikasi operational CRM ini dibagi menjadi 2 jenis :

1. Customer Touching Systems, contohnya student.binus.ac.id, kioas informasi BiNus.

2. Customer Facing Systems, contohnya adalah aplikasi yang digunakan oleh staf layanan informasi di binus untuk menajwab pertanyaan mahasiswa.

· Analytical CRM

Analisa data yang dihasilkan oleh operational CRM, meliputi aplikasi Data Mining. Fokusnya pada marketing manager (bagaimana mengelola pelanggan).

· Collaborative CRM

Aplikasi kolaborasi yang meliputi e-mail, personalize, publishing, e-communities, dan sejenisnya yang dirancang untuk interaksi antara pelanggan dan organisasi. Tujuan utamanya adalah menyemangati dan menyebarkan loyalitas pelanggan ke pelanggan lain yang masih belum berada di level kesetiaan pelanggan. Dalam collaborative CRM ini yang perlu disadari adalah pelanggan yang setia dapat menjadi “magnet” bagi pelanggan lain.

BAB 3

PEMBAHASAN

3.1 Tujuan CRM

Tujuan dari kerangka CRM adalah sebagai berikut :

· Menggunakan hubungan yang telah ada untuk menambah pendapatan. Perusahaan memandang pelanggan secara luas untuk memaksimalkan hubungan diantara mereka sehingga dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan dengan mengidentifikasi, menarik dan mempertahankan pelanggan yang potensial.

· Menggunakan informasi yang terintegrasi untuk pelayanan yang terbaik. Dengan menggunakan informasi pelanggan untuk memberikan pelanggan lebih baik bagi kebutuhannya, maka pelanggan tidak perlu berulang kali meminta informasi yang mereka butuhkan kepada perusahaan sehingga menghemat waktu dan mengurangi frustasi mereka.

· Memperkenalkan saluran proses dan prosedur yang konsisten dan dapat ditiru. Dengan perkembangan saluran komunikasi bagi pelanggan, maka semakin banyak karyawan yang terlibat dalm transaksi penjualan, sehingga perusahaan harus meliputi konsistensi proses dan procedural.

Jadi tujuan daripada CRM adalah untuk memperoleh keuntungan dengan pelanggan yang dapat memberikan keuntungan yang signifikan bagi perusahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, bagian pemasaran, penjualan dan bagian pelayanan pelanggan harus bekerjasama lebih erat dalam sebuah teamwork dan saling berbagi informasi.

3.2 Manfaat CRM

CRM memberikan beberapa manfaat seperti:

· Membantu perusahaan / organisasi sehingga memungkinkan bagian marketing untuk mengidentifikasi secara tepat pelanggan / relasi mereka, mengatur bagian marketing dengan tujuan dan sasaran yang jelas serta meningkatkan kualitas bagian marketing.

· Membantu perusahaan / organisasi untuk meningkatkan kinerja dengan mengoptimalkan sharing informasi oleh beberapa pegawai dan mempersingkat proses yang ada.

· Memungkinkan bentuk hubungan personal dengan pelanggan / relasi dengan tujuan meningkatkan kepuasaan pelanggan / relasi dan memaksimalkan keuntungan yang didapat; mengidentifikasi pelanggan / relasi yang potensial dan memberikan mereka service yang lebih dibandingkan pelanggan / relasi lainnya.

· Memberikan informasi kepada pegawai lainnya untuk mengetahui secara pasti pelanggan / relasi mereka, mengetahui kebutuhannya dan membangun hubungan yang efektif antara perusahaan / organisasi, pelanggan / relasi dan partner pendukung lainnya.

Dengan kata lain, CRM dikembangkan untuk memberikan tingkat kepuasaan pelanggan / relasi sehingga akan tetap kembali dengan service yang perusahaan / organisasi berikan dan membuka peluang bagi perusahaan / organisasi menjadi pemenang dalam berbisnis. (http://www.groupsite.co.id/layanan_erp_crm.shtml)

3.3 Implementasi CRM

Untuk mengimplementasikan sebuah strategi CRM, diperlukan tiga factor kunci yaitu :

1. Orang yang professional (kualitas yang memadai)

2. Proses yang didesain dengan baik

3. Teknologi yang memadai

Kunci dari implementasi yang sukses adalah kombinasi yang tepat dari manusia, proses dan teknologi. Manusia adalah para pelaku bisnis, dalam konteks ini para pelaku bisnis dapat dipersepsikan sebagai perusahaan. Proses adalah aktivitas bisnis yang dilakukan perusahaan yang meliputi kegiatan pemasaran (marketing), penjualan (sales) dan pelayanan (service).

Manusia dan proses merupakan dua elemen yang saling melengkapi. Sebuah CRM tidak akan berjalan apabila salah satu elemen tersebut tidak tersedia. Teknologi, dalam hal ini memiliki peran sebagai katalosator yang dapat mempercepat kemajuan perusahaan jka dua elemen lainnya sudah tersedia dan siap, tetapi ketidaksiapan manusia dan proses dalam implementasi CRM dapat menyebabkan hal-hal yang tidak dapat dilakukan sebelumnya, termasuk melakukan pekerjaan yang sulit dilakukan oleh tenaga manusia.

Teknologi CRM paling tidak harus memiliki elemen-elemen berikut :

· Aturan-aturan bisnis

Tergantung dari kompleksitas transaksi, aturan-aturan bisnis harus dibuat untuk memastikan bahwa transaksi dengan pelanggan dilakukan dengan efisien. Misalnya pelanggan dengan pembelian besar harus dilayani oleh staf penjualan senior dan pengalaman.

· Penggudangan Data (Data Warehousing)

Konsolidasi dari informasi tentang pelanggan harus dilakukan dalam satu system terpadu. Hasil analisis harus mampu menampilkan petunjuk-petunjuk tertentu pelanggan sehingga staf penjualan dan marketing mampu melakukan kampanye terfokus terhadap grup pelanggan tertentu. Nantinya gudang data ini juga harus mampu menaikkan volume penjualan dengan cross selling atau up selling.

· Situs (WEB)

CRM harus memiliki kemampuan swalayan. Hanya aplikasi situs (web based) yang bias mendukung ini. Pelanggan bisa melakukan transaksi sendiri, mengetahui berapa yang harus dibayar dan sebagainya.

· Pelaporan (Reporting)

Teknologi CRM harus mampu menghasilkan laporan yang akurat dan komprehen, nantinya berguna untuk menganalisa kelakuan palanggan.

· Meja Bantu (Help Desk)

Teknologi yang mampu mengintegrasikan informasi pelanggan keaplikasi meja bantu akan menunjukkan kepelanggan seberapa serius enterprise menangani pelanggannya.

3.4 CRM Mentransformasikan Data Menjadi Profit.

Dengan CRM, perusahaan dapat menfokuskan perhatiannya kepada pelanggan-pelanggan yang akan benar-benar memberikan keuntungan (profitable). Dari berbagai penelitian membuktikan bahwa 80 persen dari keuntungan perusahaan justru didapatkan dari 20 persen konsumen yang inti. Penelitian ini membuktikan bahwa CRM membantu langkah-langkah perusahaan dalam menciptakan proses bisnis yang efisien, efektif dan dapat meningkatkan pendapatan perusahaan serta mengoptimalkan profit.

Menurut Information Week Global Research Survey, ada lima inisiatif strategi yang harus dimiliki perusahaan, yakni:

1. memperbaiki pelayanan kepada pelanggan,

2. menciptakan lini-lini produk baru,

3. menciptakan jasa-jasa baru yang bisa ditawarkan,

4. mencari kebutuhan yang lebih mendalam dari seorang pelanggan, dan

5.menciptakan produk dan jasa yang disesuaikan dengan kebutukan pelanggan

(customized).

3.4.1 Data menjadi profit

Data-data pelanggan / relasi jika dikelola dengan baik akan sangat berguna bagi perusahaan. Data tersebut dapat berubah menjadi profit bagi perusahaan.

Secara umum data bisa dikelola menjadi informasi, kemudian informasi dikelola menjadi ilmu pengetahuan (knowledge), dan ilmu pengetahuan dikelola menjadi profit. Data-data yang didapat dari pelanggan ada dua bagian besar, yakni data tentang sikap (attitudinal data) dan data tentang perilaku (behavioral data).

Attitudinal data antara lain menyangkut profil pelanggan, demografis, dan kepuasaan. Sedangkan behavioral data antara lain menyangkut kontrak-kontrak yang dimiliki pelanggan, data-data transaksi, respon pelanggan terhadap suatu produk, dan berbagai keluhan pelanggan. Data-data ini kemudian dapat diolah menjadi informasi yang berguna.

Berdasarkan solusi CRM, maka informasi yang sudah berbentuk ilmu pengetahuan ini dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis :

1. menyangkut hasil-hasil yang bersifat analitis. Hal ini menyangkut berbagai model dari perilaku pelanggan, serta indikator-indikator kinerja pelanggan.

2. menyangkut perilaku pelanggan (customer behavior). Dari informasi ini perusahaan akan mengetahui tingkat retensi dari seorang pelanggan. Artinya, perusahaan dapat mengetahui faktor-faktor apa yang akan membuat pelanggan bertahan untuk menjadi pelanggan setia, serta faktor-faktor apa yang akan menyebabkan dia meninggalkan produk dan jasa yang diberikan perusahaan.

Selain informasi tersebut, perusahaan juga akan mengetahui nilai seorang pelanggan (customer value). Dalam hal ini perusahaan akan mengetahui kebutuhan-kebutuhan seorang pelanggan selama pelanggan tersebut masih menjadi customer Anda (customer lifetime value) dan keuntungan pelanggan (customer profitability). Tapi yang tak kalah pentingnya adalah portofolio pelanggan.

Langkah berikutnya adalah mengubah informasi yang berupa ilmu pengetahuan tadi menjadi profit. Dalam hal ini perusahaan tinggal memberikan berbagai produk dan jasa yang paling sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka (personalized marketing dan one to one marketing).

Dengan solusi CRM, perusahaan akan dapat memberikan produk dan jasa yang sudah disesuaikan dengan personalisasi mereka. Di samping itu, perusahaan juga sudah pasti hanya akan membidik pelanggan-pelanggan yang benar-benar akan memberikan keuntungan. Informasi yang telah diubah menjadi ilmu pengetahuan tersebut, akan dapat menentukan kapan, tempat, akses, dan bagaimana cara mencapai pelanggan yang menguntungkan tersebut.

Pelanggan yang setia biasanya diasosiakan dengan kesetiannya kepada merek (brand) milik perusahaan. Dalam hal ini perusahaan akan memaksimalkan nilai merek (brand value) dari perusahaan. Sebab, kalau merek merupakan pencerminan dari hubungan baik (relationship), maka CRM akan membangun relationship.

Demikian juga kalau merek sering diasosiasikan dengan pengalaman dengan suatu produk atau jasa, maka CRM akan memberikan pengalaman yang diinginkan secara tepat. Sebuah penelitian dari Gartner menyebutkan bahwa dengan meningkatkan kesetiaan pelanggan sebanyak 5 persen, maka keuntungan perusahaan akan meningkat antara 25 persen sampai 125 persen.

3.5 Target-Target CRM

Berdasarkan hasil penelitian, didapat 3 buah target CRM yang menjadi tujuan bagi perusahaan. Perusahaan menerapkan CRM dengan target :

1. Membuat Individual Aplication

Alasannya adalah beberapa perusahaan memiliki kebutuhan aplikasi CRM yang spesifik dan dapat menghasilkan keuntungan dengan cepat. Aplikasi yang populer adalah database mar keting, call center, web marketing, web self service, e-mail marketing, dll. Karena inisiatif dalam membuat aplikasi ini lokal, dengan pendanaan dan dukungan departemental, maka komitmen organisasi yang dibutuhkan pun kecil dan bersifat lokal. Selain itu karena scopenya pun lokal, maka akan mempermudah dalam pengintegrasian data, karena hanya data dari beberapa sistem yang berbeda harus diintegrasikan. Selain itu banyak perusahaan yang juga belum siap untuk berubah ke cara yang baru melalui penerapan enterprise- wide CRM. Lingkungan dan budayanya mendorong mereka untuk terlebih dahulu mengetes dan melihat bukti nyata, sebelum mengimplementasikannya secara luas.

2. Membuat sebuah CRM Infrastructure

Aplikasi CRM membutuhkan sebuah tehnikal infrastructure yang tidak hanya menyediakan computing power dan link telekomunikasi untuk menghubungkan satu aplikasi dengan lainnya, namun juga membutuhkan logical data konsistensi, sehingga antar aplikasi dapat bertukaran informasi. Perusahaan tidak hanya butuh menyimpan data yang cukup besar namun aplikasi CRM-nya juga butuh untuk dapat mengakses data tersebut. Mekanisme seperti ini membutuhkan infrastruktur data yang memiliki standarisasi umum, sehingga banyak aplikasi berbeda dapat mempergunakannya. Investasi infrastruktur sangatlah memakan biaya, selain itu return valuenya juga sangat lama untuk diperoleh, sehingga untuk mampu mempengaruhi top management ,IT department harus mampu menjualnya menjadi infrastruktur yang menghasilkan nilai bisnis yang kongkrit.

3. Melakukan organizational transformation

Umumnya, merubah sebuah teknologi tanpa melakukan transformasi organisasi (proses kerja, mindset pekerja) terkadang menghasilkan hasil yang kurang optimal. Transformasi dapat dilakukan dengan cara membangun budaya yang terpusat pada pelanggan, mempekerjakan pegawai dengan visi dan kemampuan yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan dan menerapkan CRM dan perubahan dalam proses bisnis, struktur organisasi, reward system. Perubahan ini harus sejalan dengan perubahan dari teknologi informasinya. Beberapa pelajaran muncul setelah melakukan riset, kasus, dan riset yang berhubungan diantaranya:

Lesson #1: The Three Targets Have Quite Different Organizational Cost and Benefits.

Perbedaan biaya dan keuntungan yang didapatkan bergantung dari target CRM itu sendiri.

Lesson #2: Sponsorship May Vary Across Targets.

Perbedaan dari tujuan penggunaan CRM akan menimbulkan tantangan yang berbeda dan dukungan yang berbeda pula.

Lesson #3: Plan for the Evolution of Your CRM Efforts.

Berhubungan dengan infrastruktur dan perubahan organisasi. CRM berubah berdasarkan target per target sehingga perlu memperhatikan perencanaan infrastruktur dan perubahan organisasi.

Lesson #4: Prepare to Get Your Hands Dirty When Working with CRM.

Data, Especially When Building an Enterprise-Wide CRM Infrastructure. Perlu adanya usaha untuk memperhatikan dan meningkatkan kualitas data yang akan disajikan.

Lesson#5: Ensure the Technica Infrastructure Will Scale to Meet Future Challenges.

Aplikasi CRM yang dipergunakan atau infrastruktur harus dapat menyesuaikan dengan kebutuhan di masa yang akan datang.

Lesson #6: You Can Teach an Old Dog New Tricks …Sometimes.

Melakukan transformasi ke CRM memerlukan kemampuan bisnis yang baru. Adakalanya diperlukan pegawai baru yang lebih memenuhi kualifikasi.

Berikut ini merupakan tabel yang menjelaskan secara lebih ringkas:

Tabel 3.1 – CRM Efforts Classified by Primay Target

Realizing Business Benefits through CRM: Hitting the target in right way

MIS Quarterly Executive Vol. 1 No. 2 / June 2002

Sumber GNU Free Document License-Copyright (C) 2006


3.6 Contoh-Contoh Aplikasi CRM

Berikut ini adalah contoh aplikasi CRM :

1. Microsoft Luncurkan Microsoft Dynamics CRM 4.0

Microsoft Dynamics CRM 4.0 bertujuan untuk meningkatkan penggunaan sistem CRM ini di sektor bisnis pada skala apapun. Microsoft Dynamics CRM(TM) 4.0 dirancang dengan basis kode tunggal sehingga memungkinkan para pelanggan memilih model deployment yang tepat baik on-premise maupun partner-hosted sesuai dengan kebutuhan bisnis dan Teknologi Informasi (TI) mereka dan secara fleksibel dapat mengubah model deployment kapanpun jika diperlukan. Dengan arsitektur yang canggih Microsoft Dynamics CRM juga dapat memenuhi kebutuhan CRM di korporat besar. Microsoft Dynamics CRM juga memiliki workflow engine yang kuat guna merampingkan dan mengotomatisasi proses bisnis.

“Microsoft Dynamics CRM adalah alat untuk mengelola bisnis yang dapat membantu sebuah organisasi untuk mengimplementasikan strategi CRM dengan sukses. Microsoft Dynamics CRM bekerja terintegrasi dengan Microsoft Office yang telah akrab bagi para pekerja dan bisnis sehingga mudah digunakan dan cepat diimplementasikan.” Tambah Tony Chen.

Beberapa manfaat baru yang signifikan dari rilis baru 4.0 ini mencakup :

· Arsitektur multitenant yang memungkinkan pengelolaan multi company dalam unit server.

· Pilihan lebih dari 25 bahasa dan dukungan terhadap beragam mata uang, menjadikan Microsoft Dynamics CRM 4.0 solusi yang tepat bagi perusahaan global.

· Kemampuan business intelligence terbaru termasuk tampilan cross-entity dan panduan bagi user untuk membuat laporan ad-hoc.

· Proses otomatisasi bisnis yang canggih berbasis Microsoft Windows Workflow Foundation.

· Kemampuan berkolaborasi yang terbaru dengan Microsoft Office Communications Server 2007 termasuk presence indicator yang real-time sehingga mengetahui keberadaan orang yang akan kita hubungi dan dapat mengirimkan pesan melalui Instant Messaging tanpa keluar dari aplikasi CRM.

Rilis terbaru Microsoft Dynamics CRM telah melewati pengujian selama satu tahun terakhir oleh lebih dari 600 CRM partner di seluruh dunia dan melibatkan lebih dari 100 pelanggan yang mengadopsi solusi ini lebih awal.

Pengalaman Customer

Sebagai tambahan dari pilihan deployment yang fleksibel, Microsoft Dynamics CRM menyediakan template menu yang sesuai dengan role pengguna yang dapat diakses melalui Microsoft(R) Office Outlook(R), Windows(R) Internet Explorer(R) dan beragam mobile devices.

“Microsoft Dynamics CRM 4.0 dapat memenuhi kebutuhan kami untuk sebuah solusi CRM skala enterprise.” Kata Dirk Karl, general manager and chief procurement officer ING Group, sebuah lembaga finansial yang melayani perbankan, asuransi dan managemen asset kepada kliennya yang tersebar di 50 negara. “Solusi ini memberikan kemudahan kepada kami untuk mengotomasi proses kerja yang inovatif, dan informasinya dapat dengan cepat disebarkan ke lingkungan perusahaan kami yang global, menciptakan produktifitas dalam hal pembelian dan managemen relasi vendor.”

“Di Indonesia, perusahaan skala besar dan menengah turut mengadopsi Microsoft Dynamics CRM untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dan mempertahankan pertumbuhan perusahaan.” Tambah Tony Chen. PT. Toyota Astra Financial Services (TA Finance), sebuah perusahaan hasil kerjasama antara Toyota Financial Services Corporation (TFSC – subsidiary dari Toyota Motor Corporation) dan PT. Astra International Tbk (AI) adalah salah satu pelanggan yang mengadopsi Microsoft Dynamics CRM yang percaya bahwa memenangkan hati pelanggan dapat meningkatkan bisnis mereka.

“Kemudahan dan fleksibilitas dari solusi Microsoft Dynamics CRM adalah faktor kunci sebuah kesuksesan untuk mengotomasi proses bisnis kami yang berawal dari pusat layanan pelanggan ke bagian pemasaran hingga penjualan di seluruh organisasi.” Kata Abidin Riyadi, Kepala Divisi TI TA Finance. “Microsoft Dynamics CRM diadopsi untuk menyesuaikan proses bisnis kami yang telah ada dan bukan memaksa proses bisnis kami menyesuaikan dengan teknologi. Implementasi Microsoft Dynamic CRM yang cepat merupakan salah satu manfaat kunci bagi bisnis kami.” Lanjutnya.

Ketersediaan

Microsoft Dynamics CRM 4.0 akan tersedia secara global dalam lebih dari 25 bahasa. Hari ini, Microsoft Dynamics CRM 4.0 juga tersedia untuk deployement on-premise dan on-demand dalam bahasa Denmark, Inggris, Finlandia, Belanda, Perancis, Jerman, Spanyol dan bahasa Mandarin yang simpel. Sedangkan tambahan 17 bahasa lainnya adalah Arab, Brazil, Portugis, Ceko, Yunani, Mandarin Hong Kong, Hungaria, Italia, Jepang, Korea, Norwegia, Polandia, Portugis, Rusia, Swedia, tradisional Mandarin dan Turki yang akan dirilis dalam 90 hari mendatang. Pelanggan yang telah menggunakan Software Assurance secara aktif untuk Microsoft Dynamics CRM berhak mendapatkan rilis baru tanpa biaya tambahan.

Mengenai Microsoft Dynamics CRM(TM)

Adalah suatu sistem Customer Relationship Management yang dapat membantu perusahaan untuk mengidentifikasi customer utama yang memberikan profit terbesar, sehingga perusahaan dapat membuat strategi untuk mempertahankan mereka bahkan mempererat relationship dengan customer tersebut sehingga memperoleh “share of wallet” yang lebih besar. Perusahaan juga dapat memfokuskan investasi dana marketing untuk customer-customer utama tersebut. Microsoft Dynamics CRM(TM) terdiri dari modul sales, marketing dan customer service yang dapat diperoleh dengan harga yang terjangkau.

2. SugarCRM

· Tentang SugarCRM

SugarCRM adalah pemimpin penyedia aplikasi komersial kelas dunia untuk aplikasi manajemen hubungan pelanggan (Customer Relationship Management/CRM) dan yang terbaik di lingkungan Open Source. SugarCRM dapat digunakan oleh berbagai ukuran perusahaan, dari perusahaan kecil hingga perusahaan besar. Dalam pengembangannya SugarCRM melibatkan banyak narasumber dari mulai operator pengguna aplikasi CRM, para pelanggan, pengembang, dan para Ahli yang menyatukan kebutuhannya, opini, serta pengalaman kedalam solusi SugarCRM. SugarCRM dapat dengan mudah beradaptasi pada berbagai lingkungan bisnis dengan menawarkan banyak fleksibilitas, alternatif biaya yang murah, hingga ke solusi propertiary atau berbayar. Arsitektur Open Source SugarCRM memungkinkan setiap perusahaan dengan mudah mengubah atau menyesuaikan dan mengintegrasikan bisnis proses pelanggan demi mencapai tujuan membangun dan memelihara hubungan pelanggan yang lebih menguntungkan.

· Kebutuhan Sistem

Aplikasi SugarCRM suite dalam berjalan dengan baik dalam modus singleuser baik di Macintosh atau di PC dengan memory hanya 256 MB. Dengan teknologi terkini seperti menggunakan prosesor dual Xeon HyperThreaded 3.0 Ghz dengan RAM 3GB. SugarCRM dapat menangani ratusan pengguna secara bersamaan pada satu buah mesin. Para pengguna hanya membutuhkan web browser untuk mengoperasikan SugarCRM. Aplikasi ini ditujukan untuk jalan dengan sangat baik di server Linux.

Rekomendasi perangkat keras nya antara lain :

Komponen

Sistem Versi yang didukung

Komentar

Platform

Linux

Sembarang Linux apa saja

Sugar bisa jalan dimana

Example: RedHat Enterprise Linux

ada PHP

Windows

2K, XP,2003

Mac OS

X

PHP (MySQL, SQL Server)

4.3.11

4.4.1, 4.4.2, 4.4.4

5.0.1 5.0.5

5.1.0 5.1.2,

5.1.4, 5.1.6, 5.2.0,

5.2.1

PHP (Oracle)

4.3.11

4.4.1 4.4.2,

4.4.4

5.0.1 5.0.5

5.1.0 5.1.2,

Database

MySQL

4.1.2 atau lebih tinggi

SQL Server

2005

Oracle

9i

10g

Web Server

Apache

1.3.x

Mendukung versi

2.0.x

manapun yang

2.2.x

menjalankan PHP

5.x

IIS

5.x

Mendukung versi

6

manapun yang

menjalankan PHP

Sugar PlugIns

Sugar PlugIn

Outlook 2000, Outlook 2002(XP),

for Microsoft

Outlook 2003

Outlook

Sugar PlugIn

Office 2003, Office XP

for Microsoft

Word

Client (Browser)

Mozilla

Latest

Firefox

Latest

Tabel 3.2 Rekomendasi Perangkat Keras

BAB 4

PENUTUP

4.1 Simpulan

Perusahaan yang menggunakan pendekatan incremental dalam membangun CRM. CRM yang sukses harus dapat memenuhi tiga target. Perubahan organisasi perlu adanya dukungan dari top management. Adakalanya keuntungan didapatkan justru hanya dengan aplikasi individu (individual application) yang didesign dengan baik. Ada berbagai pilihan aplikasi CRM yang dapat dipilih oleh perusahaan. Dan melakukan penerapan yang baik dalam penggunaan CRM. Pengetahuan tentang CRM yang cukup dapat mengoptimalkan kinerja aplikasi CRM sehingga menjadi keuntungan pula bagi CRM.

4.2 Saran

Penggunaan CRM sebaikknya harus sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Perusahaan harus mencari pilihan aplikasi CRM yang cocok dan menurut perusahaan dapat dijalankan secara optimal. Keuntungan dalam penggunaan CRM tentu dipahami betul oleh perusahaan sehingga perusahaan dapat menggunakan CRM yang tepat. Penggunaan CRM yang baik akan meningkatkan mutu hubungan perusahaan dengan Customernya dan profit bagi perusahaan.


DAFTAR PUSTAKA

Swift, R. Accelerating Customer Relationships: Using CRM and Relationship Technologies, Prentice-Hall, Upper Saddle River, New Jersey, 2000.

Chaudhury, Abhijit dan Jean Pierre Kuilboer.(2002).e-Business and e-Commerce Infrastructure : Technologies Supporting the e-Business Initiative.Mcraw-Hill, New York.

http: //www.google.com/ciptamaya-CRM Solutions

http: //www.google.com/en.wikipedia.org/wiki/customer relationship management

http: //www. google.com/ilmukomputer.com/2006/08/22/pengantar-crm

http: //www. google.com.biskom.com

http: //www. google.com/sony-ak.com.

http: //www .google.com/Brain.Think.Web

http: //www .google.com/korantempo.com

http: //www .google.com/eBizzAsia.com

http: //www. google.com/columbusIT.com

http://www.google.com/ MicrosoftIndonesia.com

http://www. google.com/sugarforge.org/content/downloads/

http://www.groupsite.co.id/layanan_erp_crm.shtml


RIWAYAT HIDUP

Nama : Hariyanto Wibowo

Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 12 Januari 1988

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Jl. K.H.Syahdan Gg.Keluarga No.39.S

No. Telpon : 081932857737

Riwayat pendidikan dan kursus : (1991-1993) TK BudiMulia, Jakarta

(1993-1999) SD BudiMulia, Jakarta

(1999-2002) SMP BudiMulia, Jakarta

(2002-2006) SMA BudiMulia, Jakarta

2006-sekarang Universitas BiNus, Jakarta

Pengalaman kerja : Belum Ada



“PEMBELAJARAN JARAK JAUH MENGGUNAKAN E-LEARNING“

June 19th, 2009 by hariyanto88

PEMBELAJARAN JARAK JAUH MENGGUNAKAN

E-LEARNING

PENULISAN PAPER

TOPIK-TOPIK LANJUTAN SISTEM INFORMASI

Disusun

O

L

E

H

HARIYANTO WIBOWO ( 1000872955 )

Kelas : 06 PNM

Universitas Bina Nusantara

Jakarta

2009

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA

Jurusan Ilmu Komputer

Paper IS Advanced Topic

Semester Genap Tahun 2008/2009

“PEMBELAJARAN JARAK JAUH MENGGUNAKAN

E-LEARNING“

Hariyanto Wibowo (1000872955)

Kelas : 06 PNM

Abstrak

Tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk membantu mahasiswa dalam membuat laporan ilmiah. Hal ini juga dimaksudkan untuk membantu mahasiswa dalam penulisan skripsi nantinya dan tentu saja juga mahasiswa diharapkan dapat memperkaya wawasannya dengan topic penulisan ini. Bidang Teknologi Informasi memberi prospek yang sangat bagus pada mahasiswa saat ini mengingat perkembangan teknologi informasi semakin pesat.

Metode yang digunakan dalam penulisan ini hanya menggunkan acuan dari berbagai sumber-sumber yang ada, baik itu lewat buku maupun dari internet dan artikel-artikel yang ditulis oleh para ahli yang bersangkutan, kemuduian dirumuskan dan dibahas sehingga didapatkan kesimpulan dan pendapat mengenai teknologi informasi.

Dengan adanya teknologi informasi dan didukung oleh perkembangannya yang semakin canggih maka mahasiswa diharapkan untuk mampu memanfaatkan keunggulan teknologi informasi untuk masa depannya nanti.

Kata Kunci :

Elektronik learning, e-learning

PRAKATA

Puji syukur Saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya Saya dapat menyelesaikan tugas paper Topik-topik Lanjutan Sistem Informasi ini dengan tepat waktu. Tugas ini ditulis untuk memenuhi persyaratan mata kuliah IS Advanced Topics.

Dalam menyelesaikan tugas ini, Saya telah menerima berbagai petunjuk dan dukungan baik secara moril maupun material dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu Saya dalam pengerjaan paper tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat Saya sebutkan satu-persatu.

Dalam penulisan ini, Saya telah berusaha semaksimal mungkin dalam menyempurnakan tugas ini. Seperti halnya pepatah mengatakan “Tak ada gading yang tak retak” , Saya pun menyadari sepenuhnya bahwa didalam penulisan ini masih terdapat beberapa kekurangan sehingga masih perlu adanya perbaikan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak agar kelak dapat membuat karya yang lebih baik.

Akhir kata, penulis berharap karya ini dapat bermanfaat bagi para pembaca agar mendapatkan sumbangan ide dan masukan yang berarti.

Jakarta, 14 April 2009

Penulis

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini semakin bertambah banyak jumlah perguruan tinggi di berbagai negara yang menyajikan materi perkuliahan secara elektronik, baik sebagai pelengkap maupun pengganti pembelajaran tatap muka. Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan kegiatan pembelajaran elektronik sebagai suplemen (tambahan) terhadap materi pelajaran yang disajikan secara reguler di kelas (Wildavsky, 2001; Lewis, 2002). Namun, beberapa perguruan tinggi lainnya menyelenggarakan e-learning sebagai alternatif bagi mahasiswa yang karena satu dan lain hal berhalangan mengikuti perkuliahan secara tatap muka. Dalam kaitan ini, e-Learning berfungsi sebagai option (pilihan) bagi mahasiswa.
Beberapa perguruan tinggi di luar negeri, misalnya Kanada, telah menjadikan pembelajaran elektronik sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang dapat dipilih oleh mahasiswa. Artinya, seluruh kegiatan perkuliahan diikuti oleh mahasiswa melalui pemanfaatan internet, mulai dari pendaftaran diri untuk mengikuti kuliah, konsultasi akademik, penyelesaian tugas-tugas dan penyerahannya, sampai dengan evaluasi kegiatan belajar mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa dapat memilih apakah akan mengikuti kegiatan kuliah secara tatap muka, atau secara online, atau perpaduan keduanya. Masing-masing pilihan ini dihargai sama secara akademik.
Kecenderungan untuk mengembangkan e-Learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran di berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Infrastruktur di bidang telekomunikasi yang menunjang penyelenggaraan e-Learning tidak lagi hanya menjadi monopoli kota-kota besar, tetapi secara bertahap sudah mulai dapat dinikmati oleh mereka yang berada di kota-kota di tingkat kabupaten. Artinya, masyarakat yang berada di kabupaten telah dapat “berinternet ria”.

Di samping peningkatan infrastruktur di bidang telekomunikasi, baik ketersediaaannya dan cakupannya maupun kualitasnya, lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan, terutama lembaga pendidikan tinggi, tampak terus melengkapi dirinya dengan berbagai fasilitas yang memungkinkan para “civitas academica”-nya memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi yang tersedia untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran dan pemberian layananan kepada mahasiswa. Berbagai fasilitas yang dimaksud antara lain adalah berupa pengadaan perangkat komputer (lab komputer), koneksi ke internet (internet connectivity), pengembangan website, pengembangan Local Area Network (LAN), dan pengembangan intranet.

Pemanfaatan teknologi telekomunikasi untuk kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi di Indonesia semakin kondusif dengan diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Departemen Pendidikan Nasional (SK Mendiknas) tahun 2001 yang mendorong perguruan tinggi konvensional untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh (dual mode). Dengan iklim yang kondusif ini, beberapa perguruan tinggi telah melakukan berbagai persiapan, seperti penugasan para dosen untuk (a) mengikuti pelatihan tentang pengembangan bahan belajar elektronik, (b) mengidentifikasi berbagai platform pembelajaran elektronik yang tersedia, dan (c) melakukan eksperimen tentang penggunaan platform pembelajaran elektronik tertentu untuk menyajikan materi perkuliahan.

Melalui kegiatan pembelajaran elektronik, siswa dapat berkomunikasi dengan gurunya kapan saja, yaitu melalui e-mail. Demikian juga sebaliknya. Sifat komunikasinya bisa tertutup antara satu siswa dengan guru atau bahkan bersama-sama melalui papan buletin. Komunikasinya juga masih bisa dipilih, mau secara serentak atau tidak (Soekartawi, 2002a, b). Melalui e-Learning, para siswa/mahasiswa dimungkinkan untuk tetap dapat belajar sekalipun tidak hadir secara fisik di dalam kelas. Kegiatan belajar menjadi sangat fleksibel karena dapat disesuaikan dengan ketersediaan waktu para siswa/mahasiswa. Kegiatan pembelajaran terjadi melalui interaksi siswa/ mahasiswa dengan sumber belajar yang tersedia dan dapat diakses dari internet. Sehubungan dengan beberapa hal yang telah diuraikan di atas, tulisan ini akan mencoba mengkaji tentang penyelenggaraan e-Learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan bagi lembaga-lembaga pendidikan atau pelatihan dalam merencanakan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran melalui media elektronik. Karena itu, di dalam artikel ini dibahas antara lain pengertian tentang pembelajaran elektronik (e-Learning), fungsi pembelajaran elektronik, manfaat pembelajaran elektronik, penyelenggaraan pembelajaran elektronik, dan simpulan serta saran

Pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator. Fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif. Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar-mandiri (self-directed learning). Ia juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi diri. Galileo menegaskan bahwa sebenarnya kita tidak dapat mengajarkan apapun, kita hanya dapat membantu peserta didik untuk menemukan dirinya dan mengaktualisasikan dirinya. Setiap pribadi manusia memiliki “self-hidden potential excellece” (mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri), tugas pendidikan yang sejati adalah membantu peserta didik untuk menemukan dan mengembangkannya seoptimal mungkin. Seorang pendidik yang efektif, tidak hanya efektif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas saja (transfer of knowledge), tetapi lebih-lebih dalam relasi pribadinya dan “modeling”nya (transfer of attitude and values), baik kepada peserta didik maupun kepada seluruh anggota komunitas sekolah. Pendidikan yang humanis menekankan bahwa pendidikan pertama-tama dan yang utama adalah bagaimana menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah. Relasi ini berkembang dengan pesat dan menghasilkan buah-buah pendidikan jika dilandasi oleh cintakasih antar mereka. Pribadi-pribadi hanya berkembang secara optimal dan relatif tanpa hambatan jika berada dalam suasana yang penuh cinta (unconditional love), hati yang penuh pengertian (understanding heart) serta relasi pribadi yang efektif (personal relationship). Dalam mendidik seseorang kita hendaknya mampu menerima diri sebagaimana adanya dan kemudian mengungkapkannya secara jujur (modeling). Mendidik tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, melatih keterampilan verbal kepada para peserta didik, namun merupakan bantuan agar peserta didik dapat menumbuhkembangkan dirinya secara optimal.
Mendidik yang efektif pada dasarnya merupakan kemampun seseorang menghadirkan diri sedemikian sehingga pendidik memiliki relasi bermakna pendidikan dengan para peserta didik sehingga mereka mampu menumbuhkembangkan dirinya menjadi pribadi dewasa dan matang. Pendidikan yang efektif adalah yang berpusat pada siswa atau pendidikan BAGI siswa. Dasar pendidikannya adalah apa yang menjadi “dunia”, minat, dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik. Pendidik membantu peserta didik untuk menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki (the learners-centered teaching). Ciri utama pendidikan yang berpusat pada siswa adalah bahwa pendidik menghormati, menghargai dan menerima siswa sebagaimana adanya. Komunikasi dan relasi yang efektif sangat diperlukan dalam model pendidikan yang berpusat pada siswa, sebab hanya dalam suasana relasi dan komunikasi yang efektif, peserta didik akan dapat mengeksplorasi dirinya, mengembangkan dirinya dan kemudian mem- “fungsi” -kan dirinya di dalam masyarakat secara optimal.

Tujuan sejati dari pendidikan seharusnya adalah pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didik secara utuh sehingga mereka menjadi pribadi dewasa yang matang dan mapan, mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik dalam kehidupan sehari-hari. Agar tujuan ini dapat tercapai maka diperlukan sistem pembelajaran dan pendidikan yang humanis serta mengembangkan cara berpikir aktif-positif dan keterampilan yang memadai (income generating skills). Pendidikan dan pembelajaran yang bersifat aktif-positif dan berdasarkan pada minat dan kebutuhan siswa sangat penting untuk memperoleh kemajuan baik dalam bidang intelektual, emosi/perasaan (EQ), afeksi maupun keterampilan yang berguna untuk hidup praktis. Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia muda (N. Driyarkara). Pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih bermanusiawi (semakin “penuh” sebagai manusia), berguna dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab dan bersifat proaktif dan kooperatif. Masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang handal dalam bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus memiliki watak atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas, berkeahlian, namun tetap humanis.

1.2 Ruang Lingkup

Dalam penulisan paper ini, kami membatasi ruang lingkup yang mencakup antara lain :

1. Pentingnya Electronic learning dalam sistim pembelajaran.

2. Masalah pendidikan yang cukup penting yang perlu di benahi dalam proses pembelajaran

3. Manfaat yang didapatkan dari penerapan Elektronic learning

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan paper ini adalah :

1. Agar mahasiswa mendapatkan pemahaman tentang pentingnya Electronic learning dalam proses pembelajaran

2. Agar mahasiswa mendapatkan gambaran pembelajaran tentang Electronic Learning

3. Agar mahasiswa dapat mengefisiensikan waktu dan biaya

1.4 Manfaat

Manfaat yang diperoleh dari perancangan sistem yang akan dibuat adalah :

1. Mahasiswa dapat menerapkan Electronic Learning dalam sistim pembelajaran

2. Mahasiswa dapat menerapkan dan memanfaatkan kemajuan teknologi seperti penggunaan electronic learning yang di sampaikan dengan suatu media electronic yang terhubung dengan internet

3. Mahasiswa mendapatkan keuntungan dalam sistim pembelajaran Electronic Learning

1.5 Metodologi Penulisan

Dalam usaha pengumpulan data yang diperlukan dalam penulisan ini, penulis menggunakan :

■ Kajian Teori

Penulis menggunakan beberapa sumber buku dan artikel dari internet untuk dijadikan acuan dan memasukan beberapa point dalam sumber buku yang penulis anggap penting untuk dibahas dalam penulisan ini.

BAB 2

LANDASAN TEORI

2. Definisi E-Learning

Menurut Henderson,(1987) e-learning adalah pembelajaran jarak jauh yang menggunakan teknologi komputer, atau biasanya Internet (The e-learning Question and Answer Book, 2003).

Henderson menambahkan juga bahwa e-learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran di kelas. William Horton menjelaskan bahwa e-learning merupakan pembelajaran berbasis web (yang bisa diakses dari Internet). Pembelajaran jarak jauh. E-learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa saja berada di Jakarta, sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di kota lain bahkan di negara lain. Namun, interaksi masih bisa dijalankan secara langsung ataupun dengan jeda waktu beberapa saat. Jadi, pembelajar bisa belajar dari komputer di kantor ataupun di rumah yang terkoneksi dengan Internet, sedangkan materi belajar dikelola oleh sebuah perusahaan di Amerika Serikat, di Jepang ataupun di Inggris.

Dengan cara ini, pembelajar bisa mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat ia mengakses ilmu yang dipelajari. Jika, pembelajaran ditunjang oleh perusahaan, maka si pembelajar bisa mengakses modul yang dipelajarinya dengan mengkoordinasikan waktu ia belajar dan waktu ia bekerja. Misalnya, jika pada pagi hari sampai siang hari, ia dituntut untuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor, maka ia bisa menyisihkan waktu di sore hari menjelang pulang untuk belajar. Tugas-tugas yang sehubungan dengan e-learning yang ditekuni pun bisa disesuaikan waktu pengerjaannya dengan kesibukan pembelajar.

Menurut Kusumastuti(2003), deputi bidang SDM Kementerian Kominfo, e-learning  dapat mengatasi kesenjangan informasi antara  desa  dan kota. “E-learning bisa memperluas kesempatan pendidikan di  pedesaan  dan wilayah Indonesia bagian timur,” katanya.  Selain  itu, bisa  dilakukan pertukaran informasi pengajar  antarsekolah  atau self-learning   yang  dioperasionalisasikan  melalui   pendidikan berbasis web.  Lebih lanjut,  Kusumastuti  berharap,  e-learning dapat  meningkatkan efisiensi, terutama apabila dikaitkan  dengan waktu dan biaya.

Menurut Soekartawi, Haryono dan Librero, (2002) e-Learning memang merupakan suatu teknologi pembelajaran yang yang relatif baru di Indonesia. Untuk menyederhanakan istilah, maka electronic learning disingkat menjadi e-learning. Kata ini terdiri dari dua bagian, yaitu ‘e’ yang merupakan singkatan dari ‘electronica’ dan ‘learning’ yang berarti ‘pembelajaran’. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika. Jadi dalam pelaksanaannya e-learning menggunakan jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya.

Menurut Purbo (2001) melukiskan bahwa internet juga telah mengubah metode komunikasi massa dan penyebaran data atau informasi secara fleksibel dan mengintegrasikan seluruh bentuk media massa konvensional seperti media cetak dan audio visual. Internet memiliki banyak fasilitas yang telah digunakan dalam berbagai bidang, seperti militer, media massa, bisnis, dan juga untuk pendidikan. Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet, Internet Relay Chat, Newsgroup, Mailing List (Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW). Di antara banyak fasilitas tersebut menurut Onno W. Purbo (1997), “ada lima aplikasi standar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu e-mail, Mailing List (milis), News group, File Transfer Protocol (FTC), dan World Wide Web (WWW)”.

Menurut Suparman (1993:166) “metode instruksional berfungsi sebagai cara dalam menyajikan (menguraikan, memberikan contoh, dan memberi latihan) isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu”. Metode dan teknik yang dipilih oleh guru/dosen ini dimaksudkan agar dapat meberikan, kemudahan, fasilitas, dan atau bantuan lain kepada siswa/mahasiswa dalam mencapai tujuan-tujuan instruksional.

Menurut Moore (1986), pertemuan antara pengajar dan yang diajar, atau “a meeting of minds” masih terjadi walaupun tidak terjadi pertemuan secara fisik. Menurut Garry and Kingsley (1970), belajar tidak dapat terjadi tanpa adanya peserta didik (pembelajar) atau tugas belajar, namun dapat terjadi tanpa adanya guru. Tugas belajar dapat diartikan materi yang dipelajari oleh pembelajar.

Menurut Daniel (Padmo dan Pribadi, dalam Belawati, 1999), media sebagai alat interaksi dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu media cetak, media massa/siar/tayang, media personal, dan media telekomunikasi.

Menurut Garrison (Padmo dan Pribadi, dalam Belawati, 1999), media cetak digolongkan sebagai teknologi generasi pertama dalam sistem pendidikan jarak jauh. Pendidikan jarak jauh pada awalnya justru berkembang dari pendidikan koresponden yang diperuntukkan bagi pendidikan orang dewasa (Pannen, dalam Belawati, 1999).

Menurut Putman (1994) perusahaan-perusahaan media nasional di London sedang menciptakan program-program pendidikan yang melampaui sekolah-sekolah yang ada saat ini. Oleh karenanya seorang eksekutif senior telah memprediksi bahwa akhir abad 20 para pendidik akan dibayar lebih besar dari bintang-bintang film. Oleh karenanya masyarakat yang akan ikut dalam kegiatan ini harus terlebih dahulu melakukan perubahan-perubahan termasuk visi yang jelas bagi pembelajaran dimasa depan.

Jones (1999). The five levels of web use in education:
Factors to consider in planning online courses. Educational Technology, 39(6), 28-32.
1. Administrative
Penyediaan informasi (misalnya penilaian, silabus, dll).

2. Supplemental
Penjelasan tentang tugas-tugas, kalender, dan petunjuk-petunjuk pembelajaran. Komunikasi dosen dengan mahasiswa dapat langsung dilakukan..

3. Essential
Secara tidak langsung mahasiswa jika ingin sukses harus mengakses web matakuliah online. Mahasiswa tidak hanya mengambil/mengakses materi tetapi mengirimkan tugas-tugas serta berpartisipasi dalam diskusi.

4. Communal
membentuk kumunitas e-learning

5. Immersive
ini merupakan kelas online dimana instruktur dengan siswa tidak pernah bertatap muka.

BAB 3

ELECTRONIC LEARNING

3.1 Alasan Perlunya Belajar Elektronic Learning

Semakin banyak perusahaan dan individu yang memanfaatkan e-learning sebagai sarana untuk pelatihan dan pendidikan karena mereka melihat berbagai manfaat yang ditawarkan oleh pembelajaran berbasis web ini. Dari berbagai komentar yang dilontarkan, ada tiga persamaan dalam hal manfaat yang bisa dinikmati dari e-learning.
Fleksibilitas. Jika pembelajaran konvensional di kelas mengharuskan siswa untuk hadir di kelas pada jam-jam tertentu (seringkali jam ini bentrok dengan kegiatan rutin siswa), maka e-learning memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran. Siswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat pelajaran disampaikan, e-learning bisa diakses dari mana saja yang memiliki akses ke Internet. Bahkan, dengan berkembangnya mobile technology (dengan palmtop, bahkan telepon selular jenis tertentu), semakin mudah mengakses e-learning. Berbagai tempat juga sudah menyediakan sambungan internet gratis (di bandara internasional dan cafe-cafe tertentu), dengan demikian dalam perjalanan pun atau pada waktu istirahat makan siang sambil menunggu hidangan disajikan, Anda bisa memanfaatkan waktu untuk mengakses e-learning.

“Independent Learning”. E-learning memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk memegang kendali atas kesuksesan belajar masing-masing, artinya pembelajar diberi kebebasan untuk menentukan kapan akan mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam satu modul yang ingin dipelajarinya terlebih dulu. Ia bisa mulai dari topik-topik ataupun halaman yang menarik minatnya terlebih dulu, ataupun bisa melewati saja bagian yang ia anggap sudah ia kuasai. Jika ia mengalami kesulitan untuk memahami suatu bagian, ia bisa mengulang-ulang lagi sampai ia merasa mampu memahami. Seandainya, setelah diulang masih ada hal yang belum ia pahami, pembelajar bisa menghubungi instruktur, nara sumber melalui email atau ikut dialog interaktif pada waktu-waktu tertentu. Jika ia tidak sempat mengikuti dialog interaktif, ia bisa membaca hasil diskusi di message board yang tersedia di LMS (di Website pengelola). Banyak orang yang merasa cara belajar independen seperti ini lebih efektif daripada cara belajar lainnya yang memaksakannya untuk belajar dengan urutan yang telah ditetapkan.
Biaya. Banyak biaya yang bisa dihemat dari cara pembelajaran dengan e-learning. Biaya di sini tidak hanya dari segi finansial tetapi juga dari segi non-finansial. Secara finansial, biaya yang bisa dihemat, antara lain biaya transportasi ke tempat belajar dan akomodasi selama belajar (terutama jika tempat belajar berada di kota lain dan negara lain), biaya administrasi pengelolaan (misalnya: biaya gaji dan tunjangan selama pelatihan, biaya instruktur dan tenaga administrasi pengelola pelatihan, makanan selama pelatihan), penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar (misalnya: penyewaan ataupun penyediaan kelas, kursi, papan tulis, LCD player, OHP). Dalam hal biaya finansial William Horton (Designing Web-Based Training, 2000) mengutip komentar beberapa perusahaan yang telah menikmati manfaat pengurangan biaya, antara lain: Buckman Laboratories berhasil mengurangi biaya pelatihan karyawan dari USD 2.4 juta menjadi USD 400,000; Aetna berhasil menghemat USD 3 juta untuk melatih 3000 karyawan; Hewlett-Packard bisa memotong biaya pelatihan bagi 700 insinyur mereka untuk produk-produk chip yang selalu diperbaharui, dari USD 7 juta menjadi USD 1.5 juta; Cisco mengurangi biaya pelatihan per karyawan dari USD 1200 – 1800 menjadi hanya USD 120 per orang. Biaya non-finansial yang bisa dihemat juga banyak, antara lain: produktivitas bisa dipertahankan bahkan diperbaiki karena pembelajar tidak harus meninggalkan pekerjaan yang sedang pada posisi sibuk untuk mengikuti pelatihan (jadwal pelatihan bisa diatur dan disebar dalam satu minggu ataupun satu bulan), daya saing juga bisa ditingkatkan karena karyawan bisa senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pekerjaannya, sementara bisa tetap melakukan pekerjaan rutinnya.

E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara peserta didik dengan dosen/guru/instruktur maupun antara sesama peserta didik. Peserta didik dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri peserta didik. Guru atau instruktur dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para peserta didik. Sesuai dengan kebutuhan, guru/instruktur dapat pula memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengakses bahan belajar tertentu maupun soal-soal ujian yang hanya dapat diakses oleh peserta didik sekali saja dan dalam rentangan waktu tertentu pula (Website Kudos, 2002).

Secara lebih rinci, manfaat e-Learning dapat dilihat dari 2 sudut, yaitu dari sudut peserta didik dan guru:

(1) Dari Sudut Peserta Didik

Dengan kegiatan e-Learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya, peserta didik dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Peserta didik juga dapat berkomunikasi dengan guru/dosen setiap saat. Dengan kondisi yang demikian ini, peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.

Manakala fasilitas infrastruktur tidak hanya tersedia di daerah perkotaan tetapi telah menjangkau daerah kecamatan dan pedesaan, maka kegiatan e-Learning akan memberikan manfaat (Brown, 2000) kepada peserta didik yang (1) belajar di sekolah-sekolah kecil di daerah-daerah miskin untuk mengikuti mata pelajaran tertentu yang tidak dapat diberikan oleh sekolahnya, (2) mengikuti program pendidikan keluarga di rumah (home schoolers) untuk mempelajarii materi pembelajaran yang tidak dapat diajarkan oleh para orangtuanya, seperti bahasa asing dan keterampilan di bidang komputer, (3) merasa phobia dengan sekolah, atau peserta didik yang dirawat di rumah sakit maupun di rumah, yang putus sekolah tetapi berminat melanjutkan pendidikannya, yang dikeluarkan oleh sekolah, maupun peserta didik yang berada di berbagai daerah atau bahkan yang berada di luar negeri, dan (4) tidak tertampung di sekolah konvensional untuk mendapatkan pendidikan.

(2) Dari Sudut Guru/Dosen

Dengan adanya kegiatan e-Learning (Soekartawi, 2002a,b), beberapa manfaat yang diperoleh guru/dosen/instruktur antara lain adalah bahwa guru/dosen/ instruktur dapat: (1) lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung-jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi, (2) mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak, (3) mengontrol kegiatan belajar peserta didik. Bahkan guru/dosen/instruktur juga dapat mengetahui kapan peserta didiknya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang, (4) mengecek apakah peserta didik telah mengerjakan soal-soal latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan (5) memeriksa jawaban peserta didik dan memberitahukan hasilnya kepada peserta didik.

Sedangkan manfaat pembelajaran elektronik menurut A. W. Bates (Bates, 1995) dan K. Wulf (Wulf, 1996) terdiri atas 4 hal, yaitu:

(1) Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity).

Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi. Mengapa?

Karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat tanggap dan berani. Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada pembelajaran elektronik. Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas (Loftus, 2001).

(2) Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).

Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja (Dowling, 2002). Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada guru/dosen/instruktur begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru/instruktur.

Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional. Dalam kaitan ini, Universitas Terbuka Inggris telah memanfaatkan internet sebagai metode/media penyajian materi. Sedangkan di Universitas Terbuka Indonesia (UT), penggunaan internet untuk kegiatan pembelajaran telah dikembangkan. Pada tahap awal, penggunaan internet di UT masih terbatas untuk kegiatan tutorial saja atau yang disebut sebagai “tutorial elektronik” (Anggoro, 2001).

(3) Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).

Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.

(4) Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).

Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun atas hasil penilaian guru/dosen/ instruktur selaku penanggung-jawab atau pembina materi pembelajaran itu sendiri.

Pengetahuan dan keterampilan untuk pengembangan bahan belajar elektronik ini perlu dikuasai terlebih dahulu oleh guru/dosen/instruktur yang akan mengembangkan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan pengelolaan kegiatan pembelajarannya sendiri. Harus ada komitmen dari guru/dosen/ instruktur yang akan memantau perkembangan kegiatan belajar peserta didiknya dan sekaligus secara teratur memotivasi peserta didiknya



3.2 Bagaimana memanfaatkan E-learning secara optimal

Seperti halnya pembelajaran dengan cara lain, e-learning bisa memberikan manfaat yang optimal jika beberapa kondisi berikut terpenuhi.
Tujuan. Sebelum memutuskan untuk mengikuti e-learning, Anda perlu menentukan tujuan belajar Anda, sehingga Anda bisa memilih topik, modul, lama belajar, biaya, dan sarana belajar secara elektronik yang sesuai. Tujuan ini hendaknya dikaitkan dengan tujuan pribadi ataupun tujuan bisnis Anda secara langsung yang spesifik dan terukur. Misalnya: Anda baru saja diangkat sebagai project manager. Dalam tiga bulan pertama Anda ingin mendapat keterampilan di bidang ini. Karena pekerjaan baru, dengan gaji dan pekerjaan yang juga meningkat, Anda merasa tidak mungkin untuk secara fisik meninggalkan pekerjaan Anda. Untuk itu Anda bisa mengikuti e-learning berdurasi tiga bulan dengan topik project management yang ditawarkan lembaga atau universitas tertentu (umumnya universitas
di Amerika, Australia dan Eropa menawarkan program e-learning). Sambil mengikuti pelajaran, Anda bisa sekaligus menerapkan ilmu dan keterampilan yang Anda dapatkan. Anda juga bisa memanfaatkan forum diskusi secara elektronik untuk membahas permasalahan yang langsung Anda hadapi di lapangan.
Pembelajar. Cara belajar dengan e-learning memberikan peluang untuk menjadi pembelajar independen. Jadi, untuk mendapatkan manfaat optimal dari e-learning, Anda juga harus senang belajar secara independen, memiliki sikap yang positif terhadap pembelajaran dan perluasan wawasan (memiliki motivasi tinggi untuk menguasai topik yang diambil, menganggap belajar bukan sebagai beban tetapi sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas, mampu menerapkan disiplin dalam belajar), memiliki sarana belajar yang menunjang (misalnya: komputer, akses internet, fax, printer), keterampilan dan strategi untuk belajar secara independen di dunia maya (keterampilan dasar menggunakan komputer dan internet, strategi untuk mengelola waktu).

Sama seperti cara belajar lain, cara belajar dengan e-learning akan lebih mudah jika mendapat dukungan dari orang-orang terkait dengan pembelajar (misalnya: atasan, perusahaan tempat bekerja, rekan sekerja, sahabat dan keluarga). Dengan dukungan dari berbagai pihak (baik berupa dana, dukungan moril, maupun dukungan fasilitas), semangat belajar yang terkadang turun bisa tetap dipertahankan, bahkan dipacu lebih tinggi, masalah yang dihadapi dalam belajar bisa dituntaskan, sehingga proses belajar dan penyelesaian program bisa lebih mudah dijalankan.
Media lain. E-learning hanyalah sebuah “alat” yang dapat digunakan untuk mencapai suatu tujuan. “Alat” ini jika digunakan bersama “alat-alat” akan mempercepat dan mempermudah pencapaian tujuan. Dengan demikian, e-learning tidak harus digunakan secara murni, tetapi bisa diharmonisasikan dengan penggunaan media lain untuk saling menunjang meraih tujuan si pembelajar. Jadi, jika memang ada kesempatan untuk menggunakan media lain untuk belajar (pembelajaran konvensional di kelas, pembelajaran melalui mailing list, video, radio, fax, atau korespondensi), mengapa tidak saling dikoordinasikan?
Pilih yang Anda perlu. Jika Anda hanya perlu bepergian dengan mobil, Anda tidak perlu menggunakan pesawat terbang. Jika Anda hanya memerlukan informasi dan pengetahuan umum untuk memperluas wawasan, Anda tidak perlu memerlukan sarana untuk memperluas wawasan di bidang tertentu, Anda tak perlu mengeluarkan biaya untuk mengikuti e-learning lengkap, Anda bisa saja berpartisipasi dalam dialog elektronik ataupun menjadi anggota mailing list yang memberikan informasi yang Anda perlukan. Misalnya, untuk mendapatkan tips cerdas untuk mengembangkan diri, Anda bisa mencoba berpartisipasi dalam mailing list smart_wisdom@yahoogroups.com, untuk informasi mengenai manajemen, mengapa tidak mengakses manajemen@yahoogroups.com, dan untuk mendapat contoh dialog dan ungkapan bahasa Inggris dalam bisnis, cobalah edpro@yahoogroups.com. Anda juga bisa membangun mailing list atau berkirim email dengan teman seprofesi untuk saling bertukar informasi. Cara lain yang bisa Anda coba adalah mencari informasi di internet di website tertentu (website majalah internasional, ataupun perusahan konsultan internasional). Misalnya untuk mendapat informasi mengenai strategi manajemen dan bisnis, Anda bisa mencoba mengunjungi dan menjadi anggota mckinseyquarterly. com, sedangkan untuk mendapat informasi bisnis, kunjungi website majalah bisnis nasional maupun internasional, dan untuk melihat informasi lainnya mengenai cara manajemen diri kunjungi website
surat kabar Anda ini (http:www. sinarharapan.co.id). Untuk melihat contoh e-learning, Anda bisa mengunjungi berbagai websites, antara lain: www.rootleraning.com, dan www.engines4ed.org.

3.3 E-Learning di pemerintahan

Bisakah  e-learning diterapkan di pemerintahan, dipakai  untuk pendidikan dan pelatihan pegawai, atau sebagai sarana sosialisasi produk  hukum? “Sangat bisa, sepanjang  serius  melaksanakannya,” kata Riyani. Masalahnya, lanjut Riyani, e-learning tak dijalankan secara  serius.  Selain itu, jangan  sekali-kali  menjadikan   e-learning sebagai produk TI. Artinya, e-learning jangan  dipakai sebagai  alat untuk mencerdaskan pegawai. “Jika ingin  diterapkan di pemerintahan, e-learning harus dijadikan alat untuk menyukseskan program pemerintah,” kata Riyani, serius.

Kusumastuti pun sependapat bahwa e-learning bisa diterapkan di pemerintahan.  “E-learning sangat diperlukan  untuk  meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan aparatur pemerintah,”  katanya. Hanya, lanjut dia, implementasi e-learning memerlukan sikap  yang benar,  perencanaan  yang hati-hati, prosedur yang  efektif,  dan lingkungan yang mendukung. “Kalau itu dipenuhi, apa yang  menjadi tujuan akan berhasil diraih,” tambahnya. Sementara  itu,  Budi Rahardjo, pakar  telematika,  meski  tak menampik  pentingnya e-learning, ia melihat banyak  kendala  jika akan  diterapkan  di  Indonesia.  Pertama,  soal   infrastruktur. “Infrastrukturnya masih belum memadai dan relatif mahal di banyak tempat,”  katanya. Selain itu, Budi melihat masalah  materi  juga menjadi  kendala. “Materi e-learning  yang umum saja masih  belum tersedia secara memadai, apalagi untuk pemerintah,” tambahnya.
Budi  mengakui,  e-learning  sebetulnya  berpotensi   membantu meningkatkan  kualitas  SDM Indonesia yang tersebar  di  berbagai pulau. Kondisi  geografis Indonesia menyulitkan untuk  mendatangkan pengajar dari perguruan tinggi di Jawa. Selain itu,  biayanya juga mahal. Menurut Budi, e-learningseharusnya dapat  mengurangi perbedaan  ini. “Jadi, meski belum waktunya, persiapan  untuk  e-learning  harus  dimulai  sekarang. Jika  tidak,  tak  akan  siap terus,” tambah dosen ITB ini.

3.4 Kesiapan Vendor

Manfaat  e-learning sebenarnya sudah disadari  berbagai  pihak sejak lama. Hanya karena tak ada keseriusan, seperti yang  dilakukan Bank Mandiri, maka lebih banyak cerita kegagalan yang  beredar. Atau, boleh dibilang, perkembangan e-learning agak  terseok-seok alias lamban. Selain  itu, yang selalu dituding sebagai  penyebab  kegagalan adalah kesiapan infrastruktur jaringan TI. Soal budaya baca  yang masih  rendah juga menjadi penyebab belum suksesnya penerapan  e-learning. Lalu kesiapan modul menjadi kendala tersendiri.Namun, jika melihat sukses Bank Mandiri menerapkan e-learning, kendala-kendala  tersebut sebetulnya bukan tak ada jalan  keluarnya.  “Harus  bisa,” tegas Riyani. Ia  memaparkan,  “Ketika  saya menjalankan  e-learning,  ada bank swasta  terkemuka  yang  sudah menjalankan, tetapi gagal,” ceritanya. Jika merujuk kasus  tersebut, ia tentu  tak  akan  meneruskan proyeknya. “Bank swasta saja tidak  bisa, apalagi bank pemerintah yang notabene  dicap   lebih jelek dari bank swasta,” kenang Riyani.

Soal  kesiapan infrastruktur, Riyani tak sependapat  jika  hal itu  dianggap  sebagai  penghambat.  “Pengadaan  e-learning Bank Mandiri  melalui sewa, sehingga tak perlu penambahan  server  dan infrastruktur  lainnya  karena sudah disediakan  oleh  provider,” katanya.  Riyani menjelaskan, penambahan perangkat  komputer  pun tak  banyak,  hanya satu untuk keperluan  e-learning  di  kantor-kantor  cabang.  Selain itu, sistem untuk Bank  Mandiri  bersifat  mobile.  Dengan sistem seperti ini, pembelajaran  bisa  dilakukan secara offline dan online, sehingga beban terhadap  jaringan yang tersedia untuk transaksi perbankan dapat diminimalkan.
Taufik Hasan, kepala RisTI Telkom Bandung, mengungkapkan bahwa  Telkom sebagai penyedia layanan dan jaringan telekomunikasi telah menyiapkan infrastruktur untuk e-learning. Selain jaringan  telepon  yang menyisir hampir di seluruh Nusantara, RisTI juga  sudah menyiapkan teknologi audioconferencing, videobroadcasting, videoconferencing,  dan internet. Selain itu, mereka juga siap  dengan aplikasi  e-learning-nya.  “Semuanya siap dimanfaatkan  untuk  e-learning,” kata Taufik.

RisTI  sendiri sudah terlibat dengan bisnis  e-learning  sejak tahun  2000.  Klien mereka, di antaranya, Departemen  Agama,  Departemen Pendidikan Nasional, dan beberapa perguruan tinggi  yang tergabung   dalam  Badan Kerja Sama  Perguruan  Tinggi  Indonesia Timur.  Taufik  setuju  e-learning  diterapkan  di  pemerintahan. “Tugas pemerintah itu mencerdaskan rakyat. Jadi, pemerintah harus memfasilitasi  proses  e-learning agar  rakyat  bisa  mendapatkan informasi  dan menambah pengetahuan,” jelas Taufik. Ia  menambahkan, jika SDM pemerintah berkualitas,  layanan publiknya pun bisa dilakukan dengan lebih cerdas.

Vendor  yang juga mulai menaruh perhatian terhadap  bisnis  e-learning  adalah Intel. Menurut Arya Sanjaya,  country  solutions manager Intel Indonesia, perusahaannya tengah melakukan  pembicaraan  berkaitan  dengan  peningkatan  mutu  pegawai   pemerintah. “Pemerintah  merupakan sektor yang  paling tepat untuk  melakukan e-learning,  terutama  karena penyebaran  pegawainya  di  seluruh wilayah  Indonesia,”  kata  Arya, yang  optimistis  akan  prospek bisnis e-learning.

3.5 Karakteristik E-Learning

Mari kita lihat tentang karakteristik e-learning, dalam hal ini kami fokuskan pada online learning.

Characteristics

Explanation

Non-linearity

Pemakai (user) bebas untuk mengakses (browse) tentang objek pembelajaran dan terdapat fasilitas untuk memberikan persyaratan tergantung pada pengetahuan pemakai.

Self-managing

Pemakai dapat mengelola sendiri proses pembelajaran dengan mengikuti struktur yang telah dibuat.

Feedback-Interactivity

Pembelajaran dapat dilakukan dengan interaktif dan disediakan feedback pada proses pembelajaran.

Multimedia-Learners style

E-learning menyediakan fasilitas multimedia. Keuntungan dengan menggunakan multimedia,siswa dapat memahami lebih jelas dan nyata sesuai dengan tipe siswanya.

Just in time

E-learning menyediakan kapan saja yang diperlukan pemakai, untuk menyelesaikan permasalahan atau hanya ingin meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.

Dynamic Updating

Mempunyai kemampuan memperbaharui isi materi secara otomatis pada perubahan yang terbaru.

Easy Accessibility/Access

Hanya menggunakan browser (dan mungkin beberapa yang terpasang).

Collaborative learning

Dengan tool pembelajaran memungkinkan bias saling interaksi, maksudnya bisa berkomunikasi secara langsung pada waktu yang bersamaan (synchronous) atau berkomunikasi pada waktu yang berbeda (asynchronous). Pemakai bias berkomunikasi dengan pembuat materi, siswa yang lain, Pengunjung.

Tabel 1 Characteristic E-Learning

Tidak bertanggungjawab tanpa adanya keahlian
Kita tidak mengharapkan pada pembelajaran yang bertanggungjawab tanpa adanya keahlian. Apabila kita ingin supaya siswa itu bertanggungjawab pada proses belajarnya, maka anda harus membantunya dengan keahlian dan prilakunya dengan cara dua hal :

    1. Fasilitas pembelajaran yang menjamin pengalaman pembelajaran yang terbaik (metode yang terbaik, alat bantu yang terbaik,pelatihan yang terbaik dll)
    2. belajar bagaimana siswa belajar sehingga dia mengelola proses belajarnya(meta-learning)

3.5.1. Bagaimana kita dapat membantu siswa secara optimis dalam proses pembelajaran

  • Jelas! Sediakan informasi tentang pembelajaran. Kapan siswa dapat menggunakannya, tentang jadwal, tentang tes, dll. Apa yang ditawarkan dan apa yang tidak ditawarkan harus secara jelas. Tentang perjanjian dengan siswa SLA (Service Level Agreement) sangat berguna dalam pengajaran.
  • Pengetahuan tentang tes. Pengetahuan tentang test sangat diperlukan
  • Tulis tentang rencana pembelajaran dengan siswa. Dalam rencana pembelajaran adalah menulis jadwal, langkah-langkah yang diperlukan. Juga memberika saran tentang dasar pembelajaran dan tipe pembelajaran dari siswa. Siswa komitmen
    dengan rencananya.
  • Menggunakan pengalaman dari siswa. Hubungan aktivitas dari hari ke hari dengan mereka, buatlah pusat permasalahan.
  • Buatlah pengalaman sebanyak mungkin. tapi focus pada pengajaran yang relevan.
  • Berikan modul belajar bagaimana belajar dengan menjelaskan tip proses belajar.
  • Latih siswa pada proses belajar.
  • Berikan suatu lingkungan teknik yang solid. Penggunaan rintangan-rintagan pada pembalajaran.

3.5.2. 9 tip tentang bagaimana cara belajar

  1. Berpikir sebelum mulai yang anda ingin jelaskan dan tulis tujuannya.
  2. Rencanakan proses yang akan anda latih (mengenai watu, tujuan dll) dan tuliskan pada rencana pembelajaran.
  3. Buat catatan kecil pada kertas (atau digital) selama proses belajar mengajar.
  4. Praktek sebanyak mungkin.
  5. Bawa dokumen anda dan masalah-masalah yang nyata di kelas.
  6. Pikirkan tentang bagaimana anda menggunakan tentang belajar di alam nyata. Bagaimana anda menggunakannya?
  7. Bicarakan masalah atau materi dengan siswa lain dan yang ahli, bekerja bersama jika memungkinkan.
  8. Berhenti 5 menit dalam setiap jam dan berpikir kembali apa yang dikerjakan dan menuliskannya.
  9. Gunakan komunikasi dan pembelajaran yang berbeda jika memungkinkan seperti WBT, diskusi, e-seminar, workshop dan chat.

3.5.3. Pembelajaran dg Instruktur vs. e-learning

Disini akan dibandingkan perbedaan antara pembelajaran yang dipimpin oleh instruktur dengan pembelajaran melalui elektronik

Pembelajaran dg instruktur 1 instruktur, 8 siswa

E-learning (self study)

a. 1 ruang kelas

1 instruktur, 100 siswa

b. kelas mulai pada saat X dan berakhir pada saat Y

b. tidak ada kelas

c. instruktur bersama dg grup

c. kelas mulai ketika siswa ingin belajar (atau yang telah ditentukan)

d. instruktur berbicara pada waktu menjelaskan

d. siswa belajar sendiri

e. siswa pasif pada suatu waktu

e. instruktur hanya memberikan umpan balik dan tip

f. instruktur menentukan programnya (dg siswa)

f. siswa aktif

g. instruktur menentukan tempatnya

g. siswa menentukan program (mungkin dg instruktur)

h. instruktur bertanggung jawab pada proses pembelajaran.

h. siswa menentukan tempatnya

i. Instruktur adalah bintangnya

i. siswa mempunyai tanggungjawab pada proses pembelajaran

j. siswa adalah bintangnya

Tabel 2. Pembelajaran dg Instruktur vs. e-learning


3.5.4.
Keuntungan dari pengajaran berbasis web

Adapun beberapa keuntungan dari pengajaran berbasis web antara lain :
– Kelas , Besar atau kecil

WebCT dapat digunakan untuk pengajaran kelas kecil maupun besar.

– Kapan saja- Dimana saja
WebCT menghilangkan batasan waktu dan tempat dengan karakteristik kelas tradisional dengan menggunakan mode komunikasi asynchronous seperti e-mail, diskusi online, siswa dapat mengakses 24 jam setiap hari.

– Membangun Komuniti
Pembelajaran adalah proses sosial. Siswa dapat belajar saling tukar informasi satu dengan yang lain seperti dengan instruktur.

– Peningkatan Pebelajaran siswa
“Belajar bukan latihan olah raga” (Chickering and Gamson, 1987). WebCT menyediakan alat Bantu pengajaran untuk membantu instruktur membuat pembelajaran online dan persetujuan siswa dengan materi.

3.6 Strategi Pemanfaatan Komputer dalam Pembelajaran

Pemanfaatan komputer dapat mempermudah siswa dalam melakukan penyelesaian berbagai masalah yang dihadapi siswa di sekolah.  Namun tanpa penguasaan operasional komputer dengan baik, siswa tidak dapat menggunakannya dengan sempurna.  Pengenalan komputer saat ini sejak Taman Kanak-kanak pun telah mulai diberikan.

Menurut penelitian eksperimental yang dilakukan Goodwin, Nansel, dan Helm (1986) yang dilakukan untuk menyelidiki efek-efek penggunaan microcomputer pada anak TK terhadap konsep membaca dan sikap mereka ke arah microcomputer, menerapkan tiga kondisi perlakuan yang diberikan pada anak TK tersebut antara lain:  (a) perintah-perintah microcomputer yang dibantu orang dewasa, (b) penggunaan microcomputer yang tidak dibantu orang dewasa, dan (c) tidak menggunakan microcomputer (kelompok kontrol).   Dan hasilnya ternyata memberikan perbedaan hasil yang signifikan antara prestasi anak TK yang diberi microcomputer dengan yang tanpa diberi microcomputer.

Dari kajian ini tampak bahwa pada anak-anak TK komputer sudah perlu diperkenalkan, agar seteleh dewasa hal ini sudah cukup familiar baginya.

Selanjutnya Chin, (1984) melakukan suatu estimasi terhadap sekitar 25% lisensi TK yang memiliki microcomputer, dan semua anak TK tersebut diprediksi untuk akses mereka yang dilakukan pada tahun 1989.  Pada hakikatnya, proses belajar mengajar merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa.  Supaya proses komunikasi dapat berlangsung secara efektif dan efisien maka dibutuhkan sarana yang dapat menunjang proses komunikasi, yang disebut media.  Terdapat beberapa macam sarana yang dapat digunakan, salah satu di antaranya adalah komputer.  Menurut Yohannes (1985) bahwa pemakaian komputer dalam bidang pendidikan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu sebagai Computer Managed Instruction (CMI), dan Computer Assisted Instruction (CAI).   CMI adalah penggunaan komputer untuk membantu mengelola lingkungan belajar, misalnya mengevaluasi dan mengadministrasikan hasil belajar siswa, memberikan laporan hasil belajar siswa dan sebagainya.  CAI adalah penggunaan komputer sebagai sarana pengajaran, yaitu sebagai alat bantu belajar bagi siswa untuk memahami materi pelajaran, mengerjakan latihan-latihan soal, menguji kemampuan siswa, dan sebagainya.

Tai dan Tsai (2001) meneliti perbedaan sikap mahasiswa terhadap komputer dan pengaruhnya pada kemampuan menggambar teknik.  Ditemukan bahwa kinerja menggambar teknik memiliki perbedaan yang nyata akibat sikap terhadap komputer setelah menghilangkan efek covariate yakni nilai Wilk’s L  sebesar 0,95 di mana p < 0,05.   Studi tentang percakapan siswa menunjukkan bahwa aturan komputer memainkan peranan dalam konteks pembicaraan dan cara yang terdapat dalam konteks itu dibayangi oleh penggunaan komputer (Kelly dan Crawford, 1996: 693).


3.7 Fungsi Dari Pembelajaran Elektronik

Setidaknya ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu sebagai suplemen yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi) (Siahaan, 2002).

(1) Suplemen (Tambahan)

Dikatakan berfungsi sebagai supplemen (tambahan), apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.

(2) Komplemen (Pelengkap)

dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas (Lewis, 2002). Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.

Dikatakan sebagai program remedial, apabila kepada peserta didik yang mengalami kesulitan memahami materi pelajaran yang disajikan guru secara tatap muka di kelas (slow learners) diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dirancang untuk mereka. Tujuannya agar peserta didik semakin lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan guru di kelas.

(3) Substitusi (Pengganti)

Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari mahasiswa. Ada 3 alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih peserta didik, yaitu: (1) sepenuhnya secara tatap muka (konvensional), (2) sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan (3) sepenuhnya melalui internet.

BAB 4

SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan

Pengertian e-Learning atau pembelajaran elektronik sebagai salah satu alternatif kegiatan pembelajaran dilaksanakan melalui pemanfaatan teknologi komputer dan internet. Seseorang yang tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional karena berbagai faktor penyebab, misalnya harus bekerja (time constraint), kondisi geografis (geographical constraints), jarak yang jauh (distance constraint), kondisi fisik yang tidak memungkinkan (physical constraints), daya tampung sekolah konvensional yang tidak memungkinkan (limited available seats), phobia terhadap sekolah, putus sekolah, atau karena memang dididik melalui pendidikan keluarga di rumah (home schoolers) dimungkinkan untuk dapat tetap belajar, yaitu melalui e-Learning.

Penyelenggaraan e-Learning sangat ditentukan antara lain oleh: (a) sikap positif peserta didik (motivasi yang tinggi untuk belajar mandiri), (b) sikap positif tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet, (c) ketersediaan fasilitas komputer dan akses ke internet, (d) adanya dukungan layanan belajar, dan (e) biaya akses ke internet yang terjangkau untuk kepentingan pembelajaran/pendidikan.

Perkembangan di berbagai negara memperlihatkan bahwa jumlah pengguna internet terus meningkat; demikian juga halnya dengan jumlah peserta didik yang mengikuti e- Learning dan institusi penyelenggara e-Learning. Fungsi e-Learning dapat sebagai pelengkap atau tambahan, dan pada kondisi tertentu bahkan dapat menjadi alternatif lain dari pembelajaran konvensional. Peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran melalui program e-Learning memiliki pengakuan yang sama dengan peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran secara konvensional.

Peserta didik maupun dosen/guru/instruktur dapat memperoleh manfaat dari penyelenggaraan e-Learning. Beberapa di antara manfaat e-Learning adalah fleksibilitas kegiatan pembelajaran, baik dalam arti interaksi peserta didik dengan materi/bahan pembelajaran, maupun interaksi peserta didik dengan dosen/guru/ instruktur, serta interaksi antara sesama peserta didik untuk mendiskusikan materi pembelajaran.

Lembaga pendidikan konvensional (universitas, sekolah, lembaga-lembaga pelatihan, atau kursus-kursus yang bersifat kejuruan dan lanjutan) secara ekstensif telah menyelenggarakan perluasan kesempatan belajar bagi ‘target audience’ mereka melalui pemanfaatan teknologi komputer dan internet (Collier, 2002). Seiring dengan hal ini, peserta didik usia sekolah yang mengikuti kegiatan pembelajaran elektronik juga terus meningkat jumlahnya (Gibbon, 2002).

4.1 Saran

Penelitian  dengan meta-analisis telah menunjukkan bahwa peranan pemanfaatan komputer dalam proses pembelajaran cukup berarti.  Guru/dosen di  kelas tidak hanya  merupakan orang yang mentransfer ilmu dan pengetahuan kepada siswa tetapi ia harus lebih bersifat  proaktif bertindak sebagai seorang pengelola yang dapat mengatur pengalaman pengalaman belajar siswa apakah yang diperlukan siswa untuk dapat mencapai tujuan keberhasilan siswa/mahasiswa dengan lancar.   Secara keseluruhan hal yang menyangkut pemanfaatan komputer yang diperlukan siswa sejalan dengan apa yang dikemukan oleh Worell & Stiwell dalam Soekamto (1989) yang perlu dikuasai oleh seorang guru antara lain mencakup pemahaman tentang karakteristik siswa seperti jenjang pendidikannya, alokasi waktu dalam pengajaran, pemilihan media, pengelompokan siswa, bidang studi/disiplin ilmu yang diajarkan dan sebagainya.  Menurut Russeeffendi (1989) ada tiga alasan mengapa komputer diterapkan di sekolah antara lain:

(1)   Komputer makin lama makin banyak beredar di masyarakat dengan harga yang dapat dijangkau.

(2)   Komputer banyak digunakan untuk  pengajaran matematika, baik sebagai alat hitung maupun sebagai alat pengajaran.

(3)   Karena sikap siswa terhadap pelajaran akan positip, dapat memberi umpan balik, dan dapat meningkatkan keberhasilan siswa

Beberapa rekomendasi yang  dapat dikemukakan sehubangan dengan hasil yang diperoleh di dalam meta-analisis ini adalah:

(1)   Untuk ke depan diperlukan adanya suatu penelitian replikasi dan verifikasi yang menyangkut pemanfaatan komputer untuk menguji kembali hasil yang telah diperoleh.   Diperlukan meta-anlalisis yang mengikutsertakan berbagai hasil penelitian eksperimental yang melibatkan semua jenjang pendidikan dengan jumlah hasil peneltian yang lebih banyak dan menampilkan sampel yang representatif.   Semakin banyaknya jumlah sampel yang dilibatkan maka generalisasi hasil penelitian akan dapat 1ebih sempurna.

(2)   Diperlukan adanya suatu meta-analisis tentang penelitian-penelitian pemanfaatan komputer yang mempunyai masalah atau variabel baik bebas maupun terikat yang sejenis.   Dengan demikian maka hasil yang akan diperoleh akan merupakan masukan yang berguna di bidang kependidikan baik bagi para calon guru/dosen maupun calon peneliti.

DAFTAR PUSTAKA

Alhabshi, Syed Othman. (2002). “e-Learning: A Malaysian Case Study”. A Paper presented at the Africa-Asia Workshop on Promoting Cooperation in Information and Communication Technologies Development, organized by United Nations Development Program (UNDP) and the Government of Malaysia at the National Institute of Public Administration (INTAN) on 26 March 2002, in Kuala Lumpur.

Anggoro, Mohammad Toha. 2001. “Tutorial Elektronik melalui Internet dan Fax Internet” dalam Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, Volume 2, No. 1, Maret 2001. Tangerang: Universitas Terbuka.

Dowling, James, et.al. 2002. “The e-Learning Hype Cycle” in e-LearningGuru.com (sumber dari internet: http://www.w-learningguru.com/articles)

Downer, Alexander. 2001. The Virtual Colombo Plan-Bringing the Digital Divide. (sumber dari internet: http://www.ausaid.gov.au/)

Feasey, Dave. 2001. E-Learning. Eyepoppingraphics, Inc. (sumber dari Internet tanggal 20 Agustus 2002: http://eyepopping.manilasites.com/profiles/)

Gibbon, Heather S. 2002. Process for Motivating Online Learners from Recruitment through Degree Completion. Brenau University. (sumber dari Internet 20 September 2002).

Lewis, Diane E. 2002. “A Departure from Training by the Book, More Companies Seeing Benefits of E-Learning”, The Boston Globe, Globe Staff, 5/26/02 (sumber Internet: http://bostonworks.boston.com/globe/articles/052602/elearn.html)

Loftus, Margaret. 2001. But What’s It Like? Special Report on E-Learning (sumber Internet: 20 Agustus 2002:

Handoko, Martin, Ph.D (1999) Pendidikan Humaniora Pada Milenium ke III (makalah)

Maryanto, A., (1999), Otonomi Pendidikan Salah Satu Bentuk Implementasi Desentralisasi Pemerintahan (makalah)

Suwariyanto, Theodorus, MA., (1998), The Educational Philosophy of Ki Hajar Dewantara: Naturalistic and Humanistic Education in Analitical Comparison, (Thesis), Manila, De la Salle University.